
Aku turun dari lantai atas menuju ke meja makan bersama dengan Arka dan Alicia. Bukan hanya kamar yang ku tempati, tapi memang nuansa rumah ini terlihat kuno. Sejauh mata memandang, aku tak melihat adanya alat elektronik. Banyak sekali perabotan-perabotan yang terbuat dari kayu, serta beberapa lukisan aneh yang terpajang di dinding.
Sesampainya di meja makan, aku melihat ada dua orang yang sudah duduk. Justin dan satunya lagi seorang pria berumur tiga puluhan dengan kacamata bulat. Wajahnya sangat mirip dengan Pak Ferdi– wali kelasku– tapi yang ini kelihatan lebih muda.
"Aku kecewa karena kamu tak langsung mengenaliku, Killa," kata pria itu, "Apa kamu sudah lupa dengan wali kelasmu sendiri?"
Tunggu, wali kelasku dia bilang? Kalau begitu... berarti... pria itu adalah Pak ferdi? Aku tidak percaya kenapa dia bisa kembali menjadi muda. Terlebih lagi, aku heran kenapa dia berada di sini. Kenapa dia tidak pergi mengajar di sekolah? bukannya hari ini dia harus mengajar?
Aku juga melupakan satu fakta lainnya. Mengapa mereka bertiga, Alicia, Arka, dan Justin ada di sini. Hari ini bukanlah hari libur, aku yakin itu.
"Duduklah, Killa, kita akan membicarakan semuanya sambil menyantap sarapan. Aku yakin kamu akan suka dengan makanan ini karena di buat oleh seorang koki yang hebat." Pak Ferdi tersenyum hangat. Sementara Justin, dia tidak memperdulikan sama sekali, dia sibuk dengan makanannya.
Meja makan ini panjang dan terbuat dari kayu, sangat kokoh dengan lima kursi kayu yang satunya berdiri sendirian di ujung meja, yang sekarang sedang ditempati oleh Pak Ferdi
Aku masih terdiam, sebelum sebuah tangan menyentuh bahuku. "Ayo, Killa." Arka tersenyum. Akupun mengangguk, lalu duduk di samping Arka . Aku merasa paling asing di rumah ini.
"Silahkan, tidak usah ragu, kamu boleh menyantap makanannya," kata Pak Ferdi.
Aku menatap mangkuk berisi bubur tanpa toping apapun, yang masih panas. Aku ragu untuk memakan bubur ini, tapi perutku sudah meronta-ronta setelah mencium aroma makanan ini.
Entah kenapa, belakangan ini aku sering merasa lapar yang teramat. Aku mengambil sendok yang di letakkan di samping mangkok lalu mulai memasukan bubur itu ke dalam mulut. Aku sungguh tak menyangka kalau bubur ini sangat, bahkan lebih enak dari buatan Mamaku. Meskipun hanya terlihat bubur saja tanpa ada toping apapun, tapi rasanya seperti aku sedang memakan bakso.
Dari ujung meja Pak Ferdi menatapku sambil tersenyum. "Tidak usah malu jika kamu ingin menambah," katanya.
Aku menggeleng. Ini soal sopan-santun. "Tidak terimakasih. Ini sudah lebih dari cukup untukku, terimakasih untuk makanannya."
"Sekarang kamu bisa memanggilku 'Fredic', tidak usah dengan 'Pak'. Sekarang aku sudah bukan lagi gurumu."
"Apa maksud Bapak bukan bukan guruku lagi?" Pak Ferdi yang sekarang berganti menjadi Fredic, menghela nafas.
"Bukan gurumu lagi, berarti ya, aku bukan gurumu lagi. Hanya itu saja," kata Fredic. "... Sekarang langsung saja. Killa, apa ibumu tidak pernah mengatakan sesuatu kepadamu tentang siapa dirimu sebenarnya?" Wajah Fredic menjadi serius.
Aku menggeleng. "Mama tidak pernah menceritakan apapun tentang diriku. Terkahir aku ingat, Mama bilang kalau aku ini mahluk spesial, tapi aku tidak mengerti apa artinya."
"Sedikit sulit untuk menjelaskannya, tapi ya, benar, memang kamu ini adalah mahluk istimewa. Mulai sekarang kamu akan hidup jauh dari manusia karena itu akan sangat membahayakan untuk mereka."
"Aku mahluk spesial? bisakah tolong jelaskan?"
__ADS_1
"Kamu bukanlah manusia biasa," kata Fredic, "Kamu sama seperti kami, kita lebih unggul dari manusia dari segi fisik maupun akademik. Kita ini adalah keturunan Slyther. Namun, kamu jauh lebih dari itu. Kamu jauh lebih dari kami maupun manusia. Bangsa Slyther memiliki kemampuan yang luar biasa dan kamu lebih kuat dari itu. Itulah mengapa kamu di sebut sebagai mahluk spesial."
Aku belum mengerti sepenuhnya dengan apa yang dikatakan oleh Fredic. Dia bilang aku memiliki kemampuan luar biasa? Semua yang dikatakan olehnya tidak benar. Aku payah dalam berolahraga dan nilai akademiku juga biasa. Lalu apa yang dikatakan oleh Fredic bahwa aku ini adalah mahluk spesial? Apa aku bisa terbang atau semacamnya?
"Apa kamu pernah mendengar tentang mahluk penghisap darah, Killa? Atau manusia biasa menyebutnya sebagai vampir." Fredic sudah menghabiskan makanannya. Kini dia beralih menatapku.
Aku mengangguk.
"Nah, mungkin kita mirip seperti itu, tapi tidak secara keseluruhan. Kamu, bukan, kita adalah mahluk seperti itu. Kita adalah mahluk haus darah. Itulah sebabnya kita harus hidup jauh dari manusia karena jika tidak, akan terjadi hal yang buruk. Beberapa keturunan Slyther yang tidak bisa mengontrol akan haus darahnya, akan berubah menjadi monster yang mengerikan."
Bulu kudukku meremang mendengarnya. Bagaimana bisa bahwa aku adalah vampir! "Kamu salah! Aku bukanlah mahluk seperti itu, aku hanyalah manusia biasa. Aku tidak haus akan darah ... bahkan ... melihat darah saja aku sudah mual." Aku menyangkal semua ucapan Fredic.
"Untuk kasusmu berbeda," Fredic kembali menjelaskan. "Dalam tubuhmu mengalir darah bangsa Slyther dan juga manusia, dan itulah juga salah satu alasan kamu di sebut istimewa. Kamu seperti manusia biasa karena kamu belum membangkitkan sesuatu yang ada di dalam dirimu, sesuatu yang amat luar biasa. Dan apakah kamu tahu siapa yang menyerang Ibumu semalam?"
Aku menggeleng ragu. Apakah memang Mamaku di serang? tapi katanya Mama hanya terjatuh. Tapi ... kurasa tidak ada salahnya mendengarkan Fredic.
"Memangnya siapa?" tanyaku.
Fredic menghembuskan nafas panjang. "Mereka adalah orang-orang yang mengincar dirimu, tapi untungnya orang-orang kami segera datang sebelum keadaan bertambah buruk. Aku memaksamu untuk ikut denganku itu demi kebaikanmu ... juga demi kebaikan orang tuamu."
Aku terdiam, tak tahu harus berkata apa lagi. Kenapa semuanya sangat mendadak!
"Apa aku masih bisa bertemu dengan kedua orang tuaku? teman-temanku atau hidup seperti sebelumnya?" Aku berkata pelan sambil tertunduk.
"Itu akan sulit," kata Fredic.
"Tapi bukan berarti tidak mungkin," kata Justin tiba-tiba. Dia sudah menyelesaikan sarapannya. Dia menghela nafas sebelum menatapku. "Ketika kamu sudah bisa mengendalikan kekuatanmu, maka setelah itu kamu bisa seperti biasa, seperti manusia pada umumnya."
"Itu benar," kata Arka dan Alicia serempak.
Fredic tersenyum lebar. "Tidak ada yang tidak mungkin, benarkan?"
Aku mengepalkan tangan. "Lantas bagaimana caraku supaya dapat mengendalikan kekuatanku?"
"Kalau soal itu kamu bisa menyerahkannya kepada kami. Untuk sekarang nikmatilah dulu sarapanmu." Fredic menyeringai.
Entah mengapa aku merasakan firasat buruk.
__ADS_1
Setelah beberapa menit akhirnya kami menyelesaikan kegiatan sarapan. Setelah itu Fredic menyuruhku untuk mengikutinya– keluar dari rumah.
Mataku terbelalak saat tiba di halam depan rumah. Puluhan pohon-pohon yang menjulang ratusan meter ke atas melingkari rumah ini. Rumput hijau memenuhi halaman, dengan beberapa bunga yang bermekaran. Jauh beberapa meter di depan, ada sebuah danau yang sangat luas dengan dermaga kecil, serta perahu kayu yang sudah di ikat di dermaga. Air pada danau itu sangat jernih.
Di seberang danau sana juga ada hutan, dengan pohon-pohon yang tak kalah tingginya dengan pohon-pohon yang ada di sekitaran perumahan. Perumahan Rumput Hijau bergaya barat klasik dengan halaman yang cukup luas, yang di kelilingi oleh pagar kayu berwarna putih. Di teras depan ada beberapa kursi kayu dan meja yang menghadap ke arah danau, juga ada beberapa lentera yang tergantung di langit-langit teras.
Aku tidak berhenti terkagum-kagum dengan lingkungan di sini. Aku tidak menyangka akan ada rumah di pedalaman hutan seperti ini, hutan yang dipenuhi pepohonan yang menjulang sangat tinggi ke atas, sampai-sampai sinar matahari kesulitan untuk menyentuh tanah.
Aku mengikuti Fredic sampai kami berhenti di samping danau. Melihat ke arah danau, aku melihat pantulan diriku yang terkena pancaran sinar matahari. Angin berhembus dari depan, rambutku terombang-ambing. Untuk sesaat aku melupakan semua masalah yang telah terjadi, sampai aku teringat sesuatu.
"Oh ya, lalu bagaimana dengan sekolahku?"
Untuk sesaat Fredic terdiam seraya membentangkan tangannya, merasakan hembusan angin yang begitu mendamaikan. Aku menyadari bahwa dia tidak seperti dulu, bukan hanya penampilannya auranya juga berubah.
Fredic menarik nafas panjang. "Kalau soal itu kamu bisa tenang. Semua orang yang sudah pernah berinteraksi denganmu, mereka akan kehilangan ingatan tentangmu.Tapi ada pengecualian untuk kedua orang tuamu."
Apakah dengan seperti itu aku masih dapat berteman baik dengan Faki? Maksudku, hei, Faki sudah kehilangan ingatan tentangku. Bagaimana ketika aku menyapanya, lalu mengaku bahwa aku adalah sahabat sejatinya, dia pasti akan mengira kalau aku adalah orang gila.
"Tidak usah terlalu memikirkan apa yang telah berlalu, teruslah melangkah ke depan. Layaknya danau ini, terus mengalir tanpa mengkhawatirkan apapun," kata-kata bijak Fredic membuatku sadar. Dia benar, aku harus terus melangkah.
"Baiklah, langsung saja kita mulai. Untuk mencegah dirimu kehilangan kendali saat kekuatanmu bangkit, pertama-tama, mari kita latih dulu fisikmu. Sekarang Killa, tutup matamu."
Aku menurut, lalu menutup kedua mataku. Aku mendengar Fredic berjalan menghampiriku. Aku penasaran akan seperti apa latihannya. Namun, tiba-tiba Fredic melemparku dengan sangat kencang– tenaganya bukan main-main– ke tengah-tengah danau. Aku melayang seperti bola yang di tendang, sebelum..
Byuur!
Diriku tercemplung ke dalam danau. Sementara dari tepi danau Fredic berkata, "Berusahalah berenang sampai ke sini. Ini latihan pertamamu. Berusahalah kembali dengan selamat."
Fredic berjalan pergi. Namun, dia kembali lagi. Apa dia akan menyelamatkanku?
"Sekedar informasi: ada banyak sekali predator air di dalam danau itu. Berusahalah agar tidak mati, itu saja, aku ingin kembali dulu ke rumah." Fredic melenggang pergi.
Tunggu! sialan! Apa dia akan tetap membiarkanku seperti ini. Meskipun aku bisa berenang, akan tetapi jarak dari sini menuju ke ketepian sangatlah jauh. Lagian kenapa pria sialan itu melemparku dengan sangat kuat– aku lupa bahwa Fredic adalah bangsa Slyther– dia monster.
Aku mulai berenang maju, aku tidak tahu apa nantinya aku akan kelelahan lalu tenggelam. Tapi aku tidak punya pilihan lain, aku tidak ingin mati di dalam danau ini apalagi katanya danau ini banyak predatornya.
Namun, tiba-tiba ada sesuatu yang ada di dalam air mengigit telapak kakiku. Gigitannya seperti gigitan kucing peliharaanku. Seiring aku berenang gigitan itu semakin bertambah banyak, seakan sekujur kakiku sedang di mangsa.
__ADS_1
Aku berteriak-teriak di dalam air, meskipun suaraku tidak terdengar, yang ada malah tenggorokanku kemasukan air. Kakiku sangat sakit, meskipun terdengar aneh, aku menangis di dalam air.
Kurasa aku akan mati.