
"Aku benci ini!" kataku seakan merutuki takdir.
Lupakan soal perutku yang terasa sangat lapar. Sekarang aku harus keluar dari hutan ini terlebih dahulu. Aku harus menemukan Aulus dan yang lainnya karena aku tidak tahu harus berbuat apa. Jadi, aku kembali berjalan di jalan setapak ini. Yah, meskipun kepalaku sedikit berdenyut-denyut.
Hutan ini terlihat sangat damai, tapi entah kenapa aku merasakan firasat yang buruk. Kali ini, jalan setapak yang kulalui menanjak, terus menanjak, hingga akhirnya aku berhasil sampai di atas.
Di bawah sana–sekarang jalanan menurun–jalan setapak ini menghubungkan ke sebuah pasar yang aneh. Dari atas sini aku memperhatikannya. Aku mendapatkan satu kesimpulan bahwa pasar itu adalah pasar tradisional. Semua jualan di letakkan di atas gerobak yang di cat warna merah dan sebuah lentera yang di gantungkan sekitaran gerobak dengan nyala api berwarna biru.
Tidak ada penjual, maksudku tidak ada seseorang yang berjaga di gerobak dagangan. Dan semua orang-orang yang berada di pasar itu sangat aneh, mereka semua memakai pakaian kimono (Pakaian khas Jepang) serta memakai sebuah topeng. Apakah itu pasar gelap?
Aku tidak berani turun ke bawah sana, aku hanya bisa memperhatikan dari atas sini. Jika aku ke sana pasti orang-orang yang berada di pasar itu akan mengira aku ini orang aneh. Sebenarnya aku ingin ke sana dan bertanya, tapi nalurik mengatakan kalau orang-orang yang ada di pasar sana bukanlah orang baik-baik.
Lagian pasar apa coba yang dilakukan di tengah-tengah hutan seperti ini? Bukankah normal kalau berpikir pasar itu aneh? Lalu... apa yang harus kulakukan sekarang? apakah aku akan terus seperti ini?
Aku menghela nafas. Lalu tiba-tiba aku mencium bau semerbak bunga dari arah belakang. Aku langsung menoleh kebelakang dan mendapati sesosok wanita bertubuh tinggi yang memakai kimono berwarna merah pekat dan topeng putih tanpa corak apapun.
"Akhirnya aku menemukanmu," kata wanita itu. "Ikutlah denganku sekarang. Kita sudah tidak punya waktu," wanita itu menegaskan.
.........
Aku mengikuti sosok wanita yang memakai kimono berwarna merah pekat itu. Awalnya aku bingung dan curiga, akan tetapi setelah penjelasan yang di katakan wanita itu, akupun jadi mempercayainya. Dia bilang bahwa dia adalah salah satu teman Aulus yang datang untuk menjemputku.
Tidak banyak yang wanita itu katakan, tapi pada intinya aku harus mengikutinya ke suatu tempat. Kami melewati jalan memutar untuk melewati pasar aneh itu. Sepertinya dugaanku benar, pasar itu pasti mengerikan, tidak seperti kelihatannya.
Sebenarnya aku bersyukur wanita itu tidak terlalu banyak bertanya kepadaku. Jadi, tidak ada percakapan sepanjang perjalanan, tapi entah mengapa aku merasa aneh dengan situasi ini.
__ADS_1
Kami tidak lagi melewati jalan setapak. Kami masuk lebih dalam lagi ke hutan. Meskipun hutan di sini normal, tapi rasanya tetap mengerikan. Sampai aku melihat sebuah pohon yang berukuran sangat besar dimana di bawah pohon itu terdapat sebuah rumah–rumah yang menyatu dengan pohon.
Wanita itu membuka pintu rumah yang berbentuk bulat, lalu mempersilahkan aku masuk. "Silahkan masuklah," katanya lembut.
Aku mengangguk. Akupun masuk ke dalam. Dan ternyata di dalam sini lumayan luas. Ruang tamu di sini di gabung dengan dapur, dan di sudut ruangan terdapat rak dengan banyak buku-buku.Terdapat lampu gantung yang lumayan besar, yang mengeluarkan cahaya pendar, serta terdapat hiasan kepala rusa pada dinding yang terbuat kayu.
Di dalam sini hangat. Aku pasti betah berlama-lama di sini.
"Silahkan duduk. Aku akan menyiapkan teh," tutur wanita itu. Lalu ia berjalan ke arah dapur.
Aku duduk di kursi sofa sambil menyenderkan punggung. Sofa ini sangat empuk. Aku memperhatikan sekitar, jika dilihat-lihat, ruangan ini sangat mirip seperi yang ada di Perumahan Rumput Hijau. Ada banyak sekali kemiripan pada ruangan ini, misalnya saja; lukisan-lukisan, dan ukiran-ukiran aneh pada dinding.
Wanita itu kembali dari dapur sembari membawa nampan yang berisi teko dan dua gelas kecil. Anehnya meskipun sudah berada di dalam rumah, wanita itu masih tetap mengenakan topeng. Apakah ada sesuatu pada wajahnya yang ia tidak ingin di tunjukkan kepada siapapun?
Wanita itu mengangguk. Setelah itu ia menuangkan teh ke dalam gelas, begitu anggun saat melakukannya. Aroma dari teh itu sangat harum. Dan bau ini, sepertinya aku sudah pernah merasakannya.
"Kita akan berbicara santai sambil minum teh. Silahkan, kamu boleh meminumnya." Ia mendorong gelas supaya lebih dekat denganku.
Aku mengangguk. Aku langsung mengambil gelas itu lalu meminum tehnya secara perlahan. Mataku membelalak, rasa teh ini sama seperti yang pernah aku minum di Perumahan Rumput Hijau. Rasanya seperti susu coklat yang di campur oleh madu.
Wanita itu melepaskan topengnya, tersenyum ke arahku, lalu berkata. "Bagaimana rasanya?"
"I-ini sangat enak," jawabku hampir tersedak dengan teh.
"Terimakasih."
__ADS_1
Sungguh, wanita di depanku sangat cantik. Wajahnya seperti artis papan atas. Wajahnya tirus dengan kulit pucat, hidungnya mancung, dan bola matanya berwarna biru cerah. Bagaimana bisa wanita secantik itu bisa berada di tempat seperti ini.
Rasanya rikuh juga di tatap oleh wanita secantik itu. Tetapi, aku merasa agak mengantuk setelah meminum teh, dan kepalaku juga terasa pusing. Pikirku, setidaknya aku harus sedikit berbasa-basi dengan sang pemilik rumah.
"Jadi, apakah nona tinggal sendiri di rumah ini?" tanyaku tanpa ada maksud aneh.
"Lisa," katanya. "Panggil aku Lisa. Dan yah, kamu benar. Aku memang tinggal sendiri di sini."
"Bukankah itu berbahaya tinggal di tempat seperti ini? di tengah hutan."
Lisa mendengus. "Tidak. Hutan ini tidak berbahaya, malah justru hutan ini sangat bersahabat. Kau tau, banyak sekali kebutuhan-kebutuhan yang disediakan di hutan ini. Kau akan mengerti jika sudah tinggal di tempat ini."
Aku mengangguk. Berusaha untuk menjadi pendengar yang baik.
"Tunggu sebentar. Kamu pasti lapar, aku akan membawakan beberapa kue." Lisa bangkit berdiri lalu melenggang ke arah dapur. Tak lama kemudian ia kembali sambil membawa piring yang penuh dengan kue. Lisa meletakkan piring itu di depanku.
Aku sangat ingin memakan kue-kue itu. Perutku sudah sangat lapar. Tetapi, rasa kantuk ini semakin parah. Kelopak mataku terasa berat.
"Apa kau sudah mulai merasakannya?" tanyanya.
"Eh, apa?"
"Maksudku ... Apa kau sudah mulai merasa ngantuk?" Lisa tersenyum.
Aku langsung terbelalak. Aku menatap gelas tehku, barulah aku menyadari bahwa ternyata tehku telah di campur oleh racun. Kepalaku semakin pusing, pandanganku menjadi kabur sebelum akhirnya aku jatuh pingsan.
__ADS_1