
Aku masih di buat takjub dengan apa yang ada di sekitar–kristal berukuran raksasa–berwarna-warni. Aku ingin mengambil satu, dan akan kuberikan kepada Mama. Mama pasti suka. Tapi pertanyaannya bagaimana? sedangkan kristal-kristal itu berukuran raksasa. Tubuhku mungkin terlihat kecil jika dibandingkan dengan kristal-kristal itu.
"Waspadalah kalian," Justin memperingati. "Tetap bersama, jangan ada yang berpisah!" Kata-kata itu sangat cocok untuk tiga anak kembar–yang mulai berkeliaran tidak jelas.
"Sepertinya kita sedang berada di dalam goa," kataku. Aku kembali melihat lubang perosotan–yang terhubung dengan lubang yang berada di pohon mati tadi.
Letak lubang itu cukup tinggi, sekitar lima meter di atas. Pantas saja pantatku terasa sangat sakit ketika mendarat ke tanah. Sebelum aku menyadari, ternyata di tempat ini suaraku bergema, dan itu sangat menyenangkan.
"Oi," aku mencoba mengeluarkan suara, bergema, dan tiga kembar mengikutiku.
"Diamlah!" kata Justin. "Kita tidak tau tempat ini seperti apa dan apa yang ada di dalam tempat ini."
"Apakah itu artinya ada monster di dalam tempat ini?" kata El dengan wajah berbinar. Dia sungguh gila.
Justin mendengus. Alih-alih menjawab, Justin malah berkata: "Ikuti aku. Prioritas pertama kita sekarang adalah keluar dari tempat ini."
Justin berjalan memimpin di depan, aku dan juga tiga anak kembar mengikuti dari belakang. Langit-langit di tempat ini seperti memiliki bintang, ada begitu banyak kelap-kelip cahaya berwarna warni.
Aku menghela nafas. Setidaknya untuk sementara tidak ada pepohonan dan tanaman-tanaman aneh serta hewan-hewan melata. Aku sedikit bosan dengan hal itu.
Kami berjalan cukup lama menelusuri lorong tempat ini, tapi sepertinya lorong ini tidak memiliki ujung. Lorong tempat ini sangat panjang, padahal kakiku sudah tidak kuat lagi untuk berjalan.
Di sepanjang lorong, kristal-kristal raksasa selalu menempel pada dinding lorong, bahkan ada kristal-kristal yang membentuk seperti stalaktit. Meskipun kesan pertamaku tentang tempat adalah menakjubkan, tapi semakin lama aku melihat kristal-kristal itu rasanya seperti "Biasa saja".
Jalan kami terhalang. Ada sebuah kristal yang menghalangi lorong di depan sana, hanya menyisakan celah-celah kecil yang mungkin dapat aku lewati.
"Kurasa ini jalan buntu," kataku.
"Tidak! kita masih bisa melewatinya. Lihatlah celah yang ada di sana, kita jalan melewati celah itu. Killa, kamu yang pertama."
__ADS_1
"Apa?" aku terpekik. "Kenapa harus aku?"
"Karena cuman badanmu yang bisa melewati celah itu. Tenang saja, begitu ada bahaya aku dan yang lainnya akan langsung membantumu."
Aku menghela nafas. "Yang benar saja." Meskipun memang badanku yang paling kecil ketimbang yang lainnya, tetapi aku yakin yang lain juga bisa melewati celah itu.
Sebenarnya aku ingin bersuara, akan tetapi aku sangat malas untuk berdebat. Jadi, aku memutuskan untuk melewati celah itu. Aku memiringkan tubuhku lalu mulai masuk ke dalam celah, sangat sempit, kristal-kristal ini benar-benar menghimpitku. Dan sialnya, celah ini sangat panjang untuk aku lewati. Tapi aku melihat sesuatu seperti bangunan di balik celah sana, aku cuman melihat sedikit bagian depannya saja. Jadi aku mulai mempercepat langkahku–meskipun tetap lambat.
"Di sini aman," kataku begitu berhasil melewati celah. Tidak ada respon dari seberang sana. Yah, aku tidak peduli sama sekali. Aku memutuskan untuk berkeliling sebentar. Dan benar saja, ada sebuah bangunan seperti kastil di sini, di halaman yang sangat luas ini.
Dibandingkan tempat yang ku lewati barusan, tempat ini dua kali lipat lebih besar dan luas. Dan di sini tidak ada kristal, atau apapun yang bercahaya, semua dinding murni terbuat dari bebatuan. Tidak ada jalan lagi di tempat ini, aku yakin kalau tempat ini adalah ujungnya.
Di atas sana, langit-langit mengerucut–penuh dengan retakan. Di samping itu, ruangan ini juga membentuk lingkaran, dengan lantai yang terbuat dari batu dan penuh dengan ukiran aneh. Orang pun akan mengira kalau ruangan ini dulunya adalah tempat tinggal raksasa atau semacamnya.
Hanya kastil itulah satu-satunya objek yang ada di ruangan ini, kastil yang berukuran cukup besar, yang semua struktur bangunannya juga terbuat dari batu.
Aku cukup penasaran bagaimana bisa ada kastil di tempat seperti ini. Apakah dulunya tempat ini adalah kerajaan? maksudku apakah dulunya di tempat ini ada kehidupan?
Jantungku berdegup kencang. Patung ular raksasa itu rasanya seperti hidup.
"Kenapa di sini sangat sepi?"
"Tempat ini nggak ada kristalnya, ya?"
Aku langsung menoleh ke belakang. Rupanya mereka berempat sudah berhasil melewati celah–dan sekarang sedang sibuk melihat-lihat sekitar.
"Lihatlah gambar-gambar di lantai ini," kata El takjub.
"Sangat jelek," cetus Al. "Siapa yang membuat ukiran-ukiran ini! ... apa mereka nggak mengerti seni, ya?" komentar Li.
__ADS_1
"Apa yang kamu temukan, Killa?" tanya Justin saat mendekat ke arahku.
Aku melirik kastil di belakang. "Kurasa ... aku menemukan kastil dan... patung ular raksasa."
"Ular raksasa! di mana?" kata El penasaran.
"Itu!... aku melihatnya! Di samping kastil jelek itu, ada kepala ular yang sangat besar," kata Al.
Tak butuh waktu yang lama sebelum akhirnya mereka melihat patung ular tersebut.
"Tetap berhati-hatilah," Justin memperingati. "Mari kita periksa kastil itu!" Justin memimpin ke depan, aku mengikuti dari belakang.
Sambil menoleh kesana-kemari Justin terus berjalan menuju kastil itu. Sampainya di depan kastil, aku memutuskan untuk melihat lebih jelas kepala patung ular itu.
Sampai di samping kepala ular, aku memperhatikan lebih teliti kepala ular itu. Sebelum aku terpekik karena tiba-tiba mata ular terbuka, memperlihatkan sorot matanya yang merah.
"U-ular itu hidup!" kataku histeris.
Ular itu menegakan kepalanya, berdesis, sebelum aku berlari ke arah Justin.
"Bagaimana ini, Justin?"
Ular itu mendelik ke arahku, lidahnya yang menjulur keluar dari bercabang terlihat menyeramkan. Ular itu mulai mengejar kami seraya berdesis seperti sebelumnya.
"Lari!..." kataku.
Kami berlima pun akhirnya lari. Meskipun gerakan ular itu lambat, akan tetapi karena ukuran ular itu besar, jadi dapat mengejar kami dengan mudahnya.
"Hentikan! Bala ak." Tiba-tiba terdengar suara dari dalam kastil. Suara itu mengisi seisi ruangan. Dan ular raksasa–yang kukira patung–langsung berhenti.
__ADS_1
"Siapa kalian? Apa yang kalian lakukan di sini? apa tujuan kalian," suara-suara itu kembali keluar dari dalam kastil. Sebelum akhirnya menampakkan seseorang–bukan manusia–bertelinga runcing, rambut dan jenggot lebat yang berwarna perak, sorot mata yang menyala, dan ukuran tubuhnya yang kerdil.
Sosok itu berjalan keluar dari dalam kastil sambil memegang sebuah tongkat.