Special Blood: Slyther

Special Blood: Slyther
Bermusuhan dengan Justin


__ADS_3

Aku tidak terlibat apapun, aku tegaskan sekali lagi aku tidak terlibat apapun. Kemarin aku hanya tidak sengaja melihat perkelahian dua anak baru itu, Justin dan Arka. Ya benar, aku tidak sengaja.


Hari ini pelajaran olahraga, kami di suruh oleh guru olahraga kami untuk pergi ke lapangan voli. Sebelum menuju ke lapangan semua murid berganti dengan pakaian olahraga berwarna abu-abu.


Aku tidak mahir berolahraga jadi aku hanya memperhatikan anak-anak lain bermain bola voli dari tepi lapangan. Aku tertawa ketika melihat Faki yang sedang bermain bola voli. Tidak, mungkin lebih tepatnya bola voli-lah yang sedang mempermainkannya.


Faki berlari ke sana ke mari mengejar bola voli, seperti orang idiot. Aku ingin tertawa dengan keras tapi aku tidak ingin terkena masalah.


Duuk!


Ouch, tiba-tiba kepalaku terhantam oleh bola voli, menghantam lumayan keras. Aku memegangi belakang kepalaku yang sedikit berdenyut.


Sambil memegangi kepala aku melihat ke sekeliling, mencari pelaku yang melemparkan bola voli ke kepalaku. Aku melihat Faki yang masih sama, sedang dipermainkan oleh bola voli, jadi aku berpikir dia bukanlah pelakunya.


Setelah beberapa saat aku melihat ke sekeliling lapangan, tiba-tiba Justin bersuara. "Ah, maaf. Aku tidak sengaja, sungguh." Wajahnya tidak menunjukkan ekspresi bersalah.


Aku memelototinya, sebal, sesaat kemudian aku menghela nafas. Sabar, sabar. Kataku dalam hati. Aku tidak boleh terlibat dengan masalah apapun, jadi aku harus menahannya.


"Killa, apa kamu tidak apa-apa?!" Tiba-tiba Arka berlari ke arahku dengan wajah khawatir. "Killa, apa kamu tidak apa-apa?" Arka mengulangi kalimatnya setelah berada di hadapanku.


Aku tersenyum sebaik mungkin. "Aku tidak apa-apa, sungguh. Hanya sedikit pusing saja."


Wajah Arka bertambah panik. "A-apakah kamu perlu ke UKS."


Aku menggeleng. "Aku tidak apa-apa, sungguh," kataku berusaha membuatnya tenang.


Bukankah dia terlalu berlebihan. Dia adalah murid baru, kita tak saling kenal, kenapa dia sangat peduli kepadaku?


Arka menghela nafas. "Syukurlah," gumamnya, kemudian dia memelotot ke arah Justin.


"Berhati-hatilah ketika sedang bermain, kamu bisa mencelakai orang lain kau tahu!"


Sementara Justin hanya menggaruk-garuk kepalanya. "Aku'kan, sudah meminta maaf." Katanya sambil menoleh ke samping.


Arka kehilangan kesabaran. "Tunggu disini, Killa. Aku akan memberikannya pelajaran." Setelah itu Arka berjalan cepat ke arah Justin.


"Apakah mereka akan berkelahi lagi?" gumamku.


Sesampainya di hadapan Justin, Arka langsung menjewer telinganya. Justin hanya diam–tidak melawan–dan tidak berekspresi sama sekali. Arka langsung mengomeli Justin habis-habisan. Melihatnya aku mengernyit. Aku menatap mereka heran.


"Apakah mereka sudah baikan lagi?"


"Sepertinya begitu." seorang gadis cantik tiba-tiba muncul di sampingku.


"Sepertinya kamu salah paham akan sesuatu," kata Alicia lalu menatap ke arah Justin dan Arka.


"A-apa maksudmu?" kataku masih belum mengerti.


"Mereka berdua memang sering bertengkar," katanya pelan. Kemudian dia menatapku, "Kamu juga akan segera mengerti."


Aku mengernyit. Semakin tidak mengerti, tapi sebelum aku kembali bertanya tiba-tiba Alicia pergi tanpa meninggalkan sepatah kata aku pun . Aku pun terdiam. Apa karena aku mengetahui apa yang seharusnya tidak ku ketahui.

__ADS_1


Saat Aku sedang berpikir tiba-tiba kepalaku kembali dihantam oleh sebuah bola voli dari arah belakang. Sialan! Kali ini benar-benar sakit.


Aku pun menoleh ke belakang demi melihat faki yang sedang nyengir. "Maaf," katanya, " Aku tidak sengaja " Sambil cengengesan.


Alisku berkedut, kali ini aku sudah kehilangan kesabaran. Aku mengambil bola voli yang tadi menghantam kepalaku. Aku menatap tajam ke arah Faki.


"Kemari kau!"


Demi mendengar itu, Faki langsung lari terbirit-birit. Tidak tinggal diam aku langsung berlari mengejarnya. Faki tersandung dan perutnya yang berlemak berhasil mendarat di tanah dengan sempurna.


Aku tertawa, sungguh, posisi Faki sekarang sangat lucu. Faki mencoba bangkit meskipun sedikit tertatih. Dia menatapku lalu kembali nyengir. "Bisakah kamu turunkan bola voli itu."


Aku menggeleng. "Mata di balas mata, gigi di balas gigi. Apakah kau lupa?"


Bukkk!


Latihan olahraga telah berakhir dan kini sekarang aku sudah berada di dalam kelas memakai seragam. Pelajaran olahraga sungguh melelahkan. Sebagian besar anak-anak sudah berganti pakaian dengan pakaian seragam.


Saat aku sedang duduk terdiam, tiba-tiba sesuatu yang dingin menyentuh pipiku, aku tersentak dan langsung menoleh, itu adalah Justin. Sekarang apalagi?


"Ambill." kata Justin sambil menggerak-gerakkan botol minuman di tangannya. "Sebagi tanda minta maaf dariku." Lanjutnya dengan wajah tanpa ekspresi.


Semua orang yang melihatnya pun akan tahu bahwa itu bukanlah permainan maaf yang tulus.


Dengan enggan aku menggeleng. "Tidak terimakasih. Aku tidak haus."


Justin mengerutkan keningnya. "Ah, ini merepotkan," gumamnya. Meskipun suaranya pelan aku tetap bisa mendengarnya dengan jelas.


Justin menaruh botol minuman itu di atas mejaku. "Ini untukmu! tidak peduli kamu menerimanya atau tidak." Setelah itu Justin berjalan kembali ke kursinya.


Aku menatap botol dingin berembun di depanku itu dengan perasaan menggebu-gebu. Aku merasa harga diriku terinjak lalu aku melakukan apa yang seharusnya tidak aku lakukan dalam hidupku.


Aku melempar botol minuman yang itu kepada Justin dan itu tepat mengenai tubuh Justin yang ingin kembali ke tempat duduknya, dalam keadaan kelas yang ramai.


Setelah aku melakukan itu semua perhatian seisi kelas langsung terarah kepadaku, seolah baru saja menyaksikan sesuatu yang menakjubkan. Jantungku langsung berdetak hebat, tangan kananku yang barusan melempar botol juga gemetar.


Wajahku langsung panas dan keringat dingin mulai keluar dari pelipisku. Sementara Justin hanya terdiam beberapa saat sebelum menoleh ke arahku. Jantungku terasa mau copot saat melihat wajahnya—begitu menyeramkan.


Justin tiba-tiba tersenyum kemudian berjalan pelan ke arahku. Seperti terbelenggu sesuatu tubuhku tiba-tiba tidak bisa bergerak. Kelas semakin ribut—mereka mukai berbisik-bisik. Bahkan Faki, sahabat baikku, menatapku seperti tidak percaya. Tidak ada yang bisa membantuku di situasi seperti ini.


Justin berdiri tepat di hadapanku dengan senyuman jahat. Kemudian dia mendekatkan wajahnya di telingaku. "Temui aku sepulang sekolah di belakang sekolah. Jika tidak! maka kamu akan mati."


"Ada apa ini!" Arka yang baru masuk kelas langsung berteriak. Alicia yang berada di sebelahnya juga kebingungan.


Setelah beberapa saat mengamati Arka langsung bisa menyimpulkan. "Justin, apa yang sedang kamu lakukan!"


Justin menatap Arka lalu mengangkat bahu. "Bukan aku yang melakukannya. Coba tanya saja dia," katanya sambil melirik ke arahku. Arka dan Alicia langsung menghampiriku.


"Apa yang telah terjadi, Killa? Katakanlah, aku akan berusaha membantumu." Kata Alicia dengan wajah berkerut.


Aku mengepalkan tanganku. Mereka berdua adalah orang asing yang baru aku temui kemarin—Arka dan Alicia—tapi kenapa mereka selalu membantuku. Aku benci diriku yang tidak berdaya seperti ini, itulah sebabnya aku selalu berusaha untuk tidak terlibat dengan masalah apapun.

__ADS_1


Alicia meraih tanganku, membelainya dengan lembut. Tiba-tiba perasaan yang hangat masuk ke dalam diriku, aku menjadi lebih tenang.


Aku menatap Alicia. "Semuanya salahku. Aku melempar botol minuman ke kepala Justin. Ta-tapi itu terjadi begitu saja, tubuhku bergerak sendiri."


"Tidak apa-apa." Alicia kembali membelai tanganku. "Sudahlah Justin, berhenti mengganggunya." Alicia menatap Justin.


Justin menghela napas sebelum kembali duduk ke kursinya. "Kenapa malah aku yang salah?" katanya dengan wajah tanpa ekspresi.


"Tenanglah Killa, Justin tidak akan melukaimu, aku tahu itu. Dia itu temanku," kata Arka. Aku mengangguk, walaupun aku tak sepenuhnya percaya.


Beberapa detik kemudian guru datang masuk ke dalam kelas. Kelas yang tadinya berisik kini menjadi lebih tenang.


Sepanjang pelajaran aku tidak dapat fokus karena kalimat yang tadi dikatakan Justin.


"Killa, apa kamu baik-baik saja?" Faki nampak khawatir.


Aku menatapnya lalu tersenyum. "Aku tidak apa-apa." Setelah itu Faki menjadi diam. Selama pelajaran dia tidak mengobrol sama sekali denganku—padahal biasanya dia selalu mengajakku berbicara.


Aku menghela napas. Apakah kehidupan sekolahku akan kacau?


Waktu berjalan begitu cepat dan ini sudah memasuki waktu pulang sekolah. Semua murid dengan gembira keluar dari dalam kelas. Justin juga sudah pulang, tapi kurasa tidak, dia sedang menungguku di suatu tempat.


Seharusnya waktu pulang sekolah adalah waktu yang selalu aku nanti-nantikan, kenapa semuanya malah berubah menjadi seperti ini.


Faki menepuk bahu saat aku sedang melamun, lalu berkata," Killa, kamu tidak mau pulang?"


Aku tersentak. "Aku akan pulang nanti. Kamu duluan saja, aku masih ada keperluan di sekolah." Faki terdiam sebelum akhirnya mengangguk.


"Baiklah. Aku duluan, ya." Faki langsung melenggang keluar dari kelas. Menyisakan aku sendiri.


Tidak lama akupun keluar dari kelas dengan pikiran kacau. Apakah aku harus ke belakang sekolah, nurut kata Justin? Aku tahu dia akan menghajarku habis-habisan. Tapi ... akulah yang pertama menyebabkan masalah ini, aku tidak punya pilihan lain. Aku harus segera menyelesaikan masalah ini.


Lari dari masalah cuma akan memperparah keadaan.


Akupun langsung pergi menuju ke belakang sekolah, tepatnya di tempat pembuangan sampah. Namun, sesampainya di sana aku tidak melihat siapapun. Hanya ada tumpukan kantong plastik yang berserakan di mana-mana.


Aku menyusuri tempat ini tapi tak kunjung menemukan keberadaan Justin. Apa dia sedang mempermainkanku? Aku sempat berpikir sebelum mendengar langkah kaki yang mendekat.


Dari balik tembok—tidak hanya satu melainkan tiga orang– muncul. Mereka kembar. Aku tidak mengenali mereka, semuanya laki-laki. Apa mereka teman-teman Justin? Dan hei! mereka bukan dari sekolah ini, mereka memakai seragam sekolah lain. Bukankah itu tidak di perbolehkan!


Tiga anak kembar itu mempunyai kulit yang sangat pucat dengan rambut hitam yang lebat. Mata mereka seperti kucing, berwarna oranye.


Aku mundur langkah demi langkah saat mereka berjalan mendekat ke arahku.


"Bolehkah aku memakannya sekarang?" Laki-laki sebelah kiri menyeringai.


Laki-laki yang berada di tengah menjawab. "Jangan dulu. Apa kamu lupa perintah bos!"


"Ya, ya, ya, baiklah."


Memakan? Siapa? Aku? apa mereka sedang bercanda. Sekarang aku benar-benar ketakutan.

__ADS_1


__ADS_2