
Setelah melompat di atas jamur itu aku mendarat dengan keren, akan tetapi respon Justin berkata lain.
"Jangan bermain-main!" katanya dengan wajah ketus.
"Ya, aku tau," balasku.
Situasi yang serius ini membuatku tidak bisa main-main. Jadi, kami lanjut berlari. Sampai sejauh mana kami harus berlari? Mau kemana sebenarnya ini? Nafasku sudah mulai terengah-engah.
Duarrr
Gelegar petir barusan membuatku terkesiap. Bunyinya sungguh tidak main-main.
"Killa! tutup hidungmu sekarang!" seru Justin.
Aku langsung menutup hidungku dengan tanganku. Saat itu tanaman-tanaman di depanku yang bentuknya aneh, berkantung dan jumlahnya sangat banyak tiba-tiba serempak meletup dan mengeluarkan gas berwarna hijau. Ada yang lebih mengejutkan lagi, aku melihat binatang seperti jangkrik, tapi ukurannya dua kali lipat lebih besar, beterbangan kemana-mana.
Ratusan, tidak, ribuan belalang berterbangan di udara. Mereka melesat tak tentu arah. Dan, astaga! belalang-belalang itu mati secara tiba-tiba, mereka mati setelah menghirup gas hijau yang di keluarkan tanaman-tanaman berkantung itu, seperti terbakar, dan langsung tergeletak di tanah.
Aku menutup hidungku lebih rapat, bahkan aku juga menahan nafas. Gas yang dikeluarkan tanaman-tanaman itu ternyata beracun! Untung saja Justin mengingatkanku untuk segera menutup hidung. Sekarang aku paham kata Fredic kalau mantel ini tidak hanya bisa menangkal hujan ternyata juga bisa melindungiku dari gas beracun seperti tadi. Aku yakin jika aku tidak mengenakan mantel ini tubuhku pasti sudah meleleh, seperti belalang-belalang tadi.
Kami berdua terus melewati ladang tanaman berkantung yang meletup-letup. Tidak hanya belalang, banyak sekali hewan melata yang lari menjauhi tanaman itu–meskipun percuma–pada akhirnya mereka tetap terkena gas beracun yang seketika meleleh. Gas itu seperti asam sulfat yang bersifat sangat korosif dan merusak. Jika saja aku selalu memperhatikan pelajaran pasti aku akan tahu lebih banyak.
Namun, ternyata ada juga binatang yang tidak terpengaruh dengan gas beracun itu. Mereka adalah binatang-binatang yang turun langsung dari pohon, bentukannya seperti buaya, tapi ukurannya jauh lebih kecil. Mereka turun hanya untuk memakan binatang-binatang yang mati karena terkena gas beracun.
__ADS_1
Saat ada salah satu binatang yang lompat dari atas pohon dan mendarat tepat di hadapanku, aku terpekik kaget. Binatang yang mirip monyet, tetapi memiliki sisik hitam, hewan yang sangat aneh–seumur hidup aku baru melihat hewan seperti itu.
Tapi anehnya, binatang itu melewatiku begitu saja seolah kehadiranku itu tidak ada. Monyet bersisik itu langsung melahap binatang-binatang yang mati.
Setelah melewati ladang tanaman berkantung selanjutnya di depan sana ada ladang ilalang setinggi betis. Aku yakin kalau ilalang itu bukan sekedar ilalang biasa.
Aku berhenti saat tiba-tiba Justin berhenti. Justin memandangi sekitar seperti sedang mencari sesuatu.
"Ada apa, Justin?" kataku.
Justin terdiam sebelum berkata, "Sial! kita sudah di kepung!"
"Dikepung?" Aku tidak tahu sebelum ada sesosok berjubah hitam keluar dari ilalang, melompat, lalu menggeram. Bukan hanya itu sesosok berjubah hitam juga bermunculan dari arah sekeliling.
Jantungku menderu saat aku mengedarkan pandangan. Justin benar! sesosok berjubah hitam mengepung kami, berjumlah enam, dan semuanya menggeram. Mereka seperti sesosok pencabut, mengambang, dan hanga setengah badan. Tangannya yang kurus dan berkuku tajam keluar dari jubah.
Sesosok yang disebut "Black Slyther" itu sangat menyeramkan. Justin mengepalkan tangannya lalu berkata, "Tunggu aba-aba dariku, setelah itu kamu kaburlah."
Aku menelan ludah. Tidak mungkin aku dapat kabur dari mahluk menyeramkan itu. Tenagaku sudah tidak banyak lagi.
Justin menerjang Black slyther yang muncul dari ilalang, menendangnya dengan tendangan berputar, dan sukses membuat sesosok berjubah itu terhempas.
"Kemarilah kalian mahluk jelek!" Seru Justin.
__ADS_1
Dua sosok berjubah terbang ke arah Justin yang sudah siap memasang kuda-kuda. Dua sosok berjubah itu melesat cepat ke arah Justin, sosok yang pertama berhasil menghindari pukulan Justin yang kemudian melesat terbang ke atas, dan sosok kedua melesatkan tangannya yang berkuku tajam secara diagonal. Justin melompat ke samping, menghindar.
Aku hanya bisa menyaksikan saat seluruh Black slyther mengeroyok Justin. Aku tahu aku tidak bisa bertarung, tapi setidaknya bergunalah sedikit! Aku memutar otak, mencari sesuatu yang dapat kugunakan. Aku melihat batu yang lumayan besar di tanah lalu mengambilnya. Aku menarik nafas panjang sebelum akhirnya melemparkan batu itu ke salah satu sosok berjubah itu.
Lemparanku mengenai kepala salah satu Black slyther. Sosok itu langsung berbalik menatapku, menggeram. Sosok itu menghampiriku diikuti salah satu temannya di belakang.
"Killa, sekarang!" Justin berseru.
Itu aba-aba untukku, aku langsung berbalik kemudian berlari sementara sesosok berjubah itu sedang sibuk mengincar Justin. Namun, semua itu tak sesuai rencana karena dua sosok berjubah yang mengejarku melesat dengan begitu cepat. Dengan tanpa ampun mereka memukulku dengan sangat keras hingga membuatku menghantam pohon.
Sekujur tubuhku terasa lemas, dadaku sesak. Aku kembali bangkit berdiri saat kedua sosok berjubah itu kembali menghampiriku. Serangan tadi memang sangat kuat, akan tetapi itu tidak akan cukup untuk membuatku tumbang. Latihanku selama ini sungguh sangat bermanfaat.
"Sepertinya aku tidak bisa kabur, yah." kataku parau.
Aku melihat dari kejauhan, Justin juga nampaknya sedang kerepotan karena menghadapi banyak Black slyther. Jadi, aku memutuskan untuk melakukan perlawanan, aku mengangkat kedua tanganku di depan dada, lalu memasang kuda-kuda seperti seorang petinju.
Salah satu sosok berjubah itu maju mendekat, sedangkan yang satunya berhenti di belakang. Menggeram, tangannya yang menjulur dari jubah terlihat menyeramkan.
Saat hanya berjarak beberapa langkah dariku, aku melangkah ke depan lalu melayangkan tinju. Tinjuku berhasil mengenai tubuhnya, tetapi sosok itu tidak bergeming. Sosok itu kembali menggeram sebelum melancarkan serangannya kepadaku.
Tapi dengan cepat aku langsung melompat mundur sehingga serangan itu meleset. Aku menghela nafas. Jika serangan tadi mengenaiku, tubuhku pasti akan langsung terkoyak oleh kuku tajam itu.
Tak berhenti sampai di situ sosok itu kembali melancarkan serangannya. Ia mengayunkan lengannya secara horizontal sehingga aku menunduk untuk menghindarinya. Serangan kedua datang, sosok itu kembali mengayunkan lengannya secara diagonal dan serangan itu berhasil mengenaiku.
__ADS_1
Aku terhempas beberapa meter ke belakang. Serangan tadi mengenai perutku, tapi anehnya tidak ada bekas sayatan di perutku. Mantel hujan ini melindungiku–meskipun tidak secara keseluruhan–kuku monster itu tidak menembus mantel ini. Aku ingin memuji mantel ini sambil berkata, "Wow, mantel ini sungguh luar biasa. Di mana aku bisa mendapatkan ini?" Tapi aku sadar sosok itu kembali mengejarku dan sekarang teman yang satunya juga ikut membantu.
Bagaimana ini! melawan satu saja aku tidak bisa, bagaimana bisa aku mengalahkan kedua sosok berjubah itu sekaligus.