
Aku tersudut di pojok tembok saat ketiga anak laki-laki kembar itu berjalan mendekat ke arahku. Batinku menjerit ketakutan—mungkin jika dilihat sekarang kulitku sangat pucat.
"Siapa kalian? dan mau apa kalian?" kataku parau. Tubuhku gemetar.
Salah satu laki-laki itu tersenyum menyeringai. "Buat apa kamu tahu?"
Sekarang mereka hanya berjarak beberapa langkah saja dariku. Mereka berhenti di depanku sambil menyeringai tidak jelas.
"Apa yang harus kita lakukan selanjutnya?" tanya salah satu anak kembar kepada saudara-saudaranya.
"Seperti yang sudah direncanakan sebelumnya," jawab salah satu kembarannya.
"Siapa kalian!" Tiba-tiba terdengar seseorang berteriak dari kejauhan. Aku menatap melewati tiga anak kembar itu.
Dari kejauhan aku melihat sesosok pria gemuk yang sangat aku kenal. Wajahnya di penuhi keringat—sepertinya dia berlari untuk menuju ke sini. Dia bilang ingin pulang duluan. Namun, Faki! apa yang sedang kamu lakukan di sini?
Ketiga anak kembar itu menoleh ke belakang, menatap Faki dengan wajah berkerut. Mereka saling memandang sebelum salah satu berkata, "Siapa babi gemuk itu?"
Anak di sampingnya menggeleng. "Tidak tahu."
Faki berlari, melewati tiga anak kembar itu seolah mereka tidak ada. Dia langsung berdiri di hadapanku dengan napas terengah-engah. Wajahnya cemas. "La, apa kamu baik-baik saja?" itu kata pertamanya kepadaku.
Mulutku terbuka untuk sesaat. "Aku tidak apa-apa," kataku kemudian, "Apa yang sedang kamu lakukan di sini?" Aku balik bertanya, mengernyit.
Faki memegangi kedua pundakku, wajahnya berubah serius. "Untuk menyelamatkanmu tentunya. Aku tadi mengikutimu, karena kamu terlihat sedang dalam masalah besar." Faki memutar badan, menatap ketiga anak kembar itu.
"Lalu ... apakah mereka teman-temannya Justin?" Mendengar itu aku mengepalkan tangan.
"Pergilah, Faki. Aku dapat mengatasi ini sendiri. Situasi ini tidak seperti yang kamu bayangkan." Aku mengatakan ini supaya sahabatku Faki tidak terlibat dalam masalah.
"Bicara apa kamu, La. Ini sudah menjadi tugasku sebagai sahabatmu." Aku terenyuh mendengarnya. Kenapa anak ini keras kepala sekali. Kamu adalah sahabatku satu-satunya jadi tidak mungkin aku akan membiarkanmu masuk ke dalam permasalahanku.
"Apa yang babi gemuk itu katakan?"
"Mungkin dia sedang berakting seperti pahlawan."
"Aku benci spesies seperti itu."
"Kubilang pergilah!" kataku sebelum ketiga anak laki-laki itu berjalan mendekat, yang lalu berdiri di depan Faki. Aku dapat melihatnya, tubuh Faki gemetaran.
"Hadapi aku sebelum–"
Plaakk!
Salah satu anak kembar itu menampar wajah Faki dengan keras sampai-sampai membuat hidungnya berdarah.
"Kenapa babi ini sangat berisik."
Aku melihat tubuh Faki gemetar dengan hebat. Aku harus bergerak! Namun, tubuhku seperti tidak mau beresonansi dengan otakku. Aku harus menyelamatkan Faki!
Faki menatap tajam anak yang barusan menamparnya. Dari sini aku melihat tangannya mengepal sambil gemetar, dia berpura-pura tegar. Aku tidak tega melihatnya.
Aku segera bertindak–berdiri di depan Faki membentenginya dari hadapan tiga anak kembar itu. "Urusan kalian hanya denganku! jangan melibatkan temanku! biarkan dia pergi," kataku dengan tegas
__ADS_1
Laki-laki yang barusan menampar Faki mengernyit, seperti meremehkan. Dia mengangkat tangan kanannya, bersiap menamparku. Namun, sebelum itu tiba-tiba Faki melayangkan tinjunya dengan kencang ke wajah anak laki-laki itu, meskipun hanya membuat wajahnya terpaling sejenak.
Laki-laki itu menatap Faki, nafasnya memburu, wajahnya benar-benar marah. "Meskipun itu tidak sakit, tapi itu benar-benar membuatku marah." Detik setelahnya dia gantian meninju wajah Faki hingga membuatnya terlempar dua meter ke belakang.
Aku menoleh ke belakang, menatap Faki yang tergeletak di tanah tak sadarkan diri. Melihat itu darahku mendidih, emosiku seketika meluap. Aku mengepalkan tangan kananku kencang-kencang lalu meninju dengan sangat keras kepada laki-laki yang tadi menyerang Faki.
Entah pukulanku yang kuat atau apa, laki-laki itu terlempar dua meter ke belakang. Pikiranku kosong, hanya ada kemarahan yang meluap.
Dua laki-laki kembar lainya mulai menatapku waspada. "Sepertinya kita harus melakukannya," kata salah satu dari si kembar, yang dibalas anggukan oleh saudaranya.
Tiba-tiba dengan sangat cepat mereka memukulku bersamaan hingga membuatku terlempar sampai membentur tembok yang jauh di belakang. Sakit! tetapi aku tidak peduli, aku kembali bangkit.
Emosiku semakin meluap. Pikiranku mulai buyar, tubuhku seperti mulai bergerak sendiri. Aku melesat dengan sangat cepat ke salah satu dari dua anak laki-laki barusan lalu memukulnya dengan kencang, dia terlempar beberapa meter ke belakang.
Laki-laki yang satunya mulai ketakutan, dia menatapku dengan wajah pucat. Aku kembali melesat ke arahnya dengan sangat cepat, tangan kananku terangkat tinggi sebelum ada sebuah tangan yang mencengkramku dari belakang.
Cengkraman tangan itu sangat kuat sampai-sampai aku tidak bisa menggerakkan tanganku sendiri. Justru karena hal tersebut aku bertambah marah, dengan cepat aku memutar badan bersiap memukul orang yang menahan tanganku.
Namun, sebelum aku melihat wajah orang yang mencengkram tanganku tiba-tiba pandanganku menjadi kabur. Aku merasa seperti tengkukku di pukul. Tubuhku secara tiba-tiba menjadi lemas. Aku terjatuh, terbaring ke tanah, kelopak mataku mulai menutup dengan sendirinya.
...
Aku terbangun dan tahu-tahu sudah berada di ruangan UKS. Aku masih linglung dan bingung kenapa aku tiba-tiba berada di sini.
"Akhirnya kamu bangun juga." Suara yang tidak asing terdengar dari samping ranjang.
Aku menoleh dan mendapati Justin yang sedang duduk sambil membaca buku. Dia menutup bukunya begitu mengerti aku tengah memperhatikannya.
Aku berusaha untuk bangkit duduk sambil mencerna maksud dari perkataan Justin.
"Tiga anak kembar itu akulah yang menyuruh mereka," kata Justin seakan mengerti isi pikiranku. "Sebenarnya aku menyuruh mereka untuk tujuan lain, tetapi tiba-tiba temanmu datang sehingga terjadi hal yang tidak diperkirakan," tambahnya.
Aku mengepalkan tangan. "Jadi itu memang benar kau. Aku sudah menduganya. Tidak kusangka kamu menyuruh tiga orang itu hanya untuk berurusan denganku. Pengecut! bahkan kamu sampai melibatkan temanku.
"Permintaan maafmu saja tidak benar-benar tulus. Sungguh memuakkan!"
Entah kenapa aku yang biasanya diam kali ini aku berani meluapkan isi pikiranku. Aku benar-benar marah. Sementara Justin hanya terdiam sambil menatapku dengan wajah datar.
Tiba-tiba pintu UKS terbuka menampakan tiga orang, Alicia, Arka, dan Faki.
Justin menghela nafas sebelum bangkit berdiri. "Sepertinya aku tidak diterima di sini," katanya kemudian melangkah keluar dari UKS. Namun, saat dia di pintu masuk, lengannya ditahan oleh Arka.
Arka berkata, "Mau ke mana kamu?" tanyanya dengan nada rendah.
Justin meliriknya sesaat. "Entahlah," jawabnya. "Bisakah kamu lepaskan tanganku?"
Arka terdiam. Dia menurunkan tangannya. Setelah itu Justin kembali melangkah ke luar.
Alicia, Arka, dan Faki menghampiriku. "Apa kamu baik-baik saja?" tanya Alicia.
Aku mengangguk lalu menatap ke arah Faki yang sedang tertunduk, seperti tidak mau menatapku. "Bagaimana denganmu, Faki?"
Dia menatapku lalu tersenyum. "Aku baik."
__ADS_1
"Maafkan aku. Jika bukan karen–"
"Ini bukan salahmu," Faki memotong kalimatku. "Itu keputusanku sendiri, jadi ... berhenti menyalahkan dirimu sendiri."
Aku menunduk. Meskipun dia mengatakan seperti itu Aku masih menganggap bahwa itu adalah salahku. Jika bukan karena Faki datang untuk menyelamatkanku dia tidak perlu terlibat dengan tiga anak kembar itu.
"Ngomong-ngomong kapan kamu bangun?" tanya Arka.
"Beberapa saat yang lalu," jawabku.
"Syukurlah. Kamu tidak apa-apa' kan? Apa kamu merasakan sesuatu pada tubuhmu?" Aku menggeleng, tubuhku baik-baik. Arka menghela napas.
"Killa," ujar Alicia, "Ini mungkin terdengar aneh tetapi percayalah, Justin sebenarnya tidak memiliki maksud jahat kepadamu."
Aku mengernyit. "Lalu bagaimana dengan dia yang menyuruh teman-temannya untuk menyerangku? Aku tahu kamu sahabat dia, tapi ... ah, sudahlah, aku tidak ingin membahas ini sekarang. Ini sudah sangat sore dan aku ingin pulang."
Aku beranjak dari ranjang. "Faki apakah kamu juga mau pulang bersamaku?"
Aku menatapnya dan dia langsung mengangguk. Aku tidak ingin berlama-lama di UKS jadinya aku ingin segera pulang. Setelah itu kami pun pulang bersama.
Sampai di luar sekolah, lebih tepatnya di depan gerbang sekolah. Aku melihat Mamaku sedang menunggu dengan motor kesayangannya. Dia melambaikan tangan begitu melihatku.
Tidak kusangka Mamaku masih menunggu padahal ini sudah lewat sekitar satu jam setelah waktu pulang sekolah.
"Aku duluan ya, Faki. Sampai jumpa minggu depan."
"Sampai jumpa," jawab Faki.
Akupun menghampiri Mamaku. "Apakah kegiatan ekstrakulirkulermu berjalan dengan lancar?" tiba-tiba Mama bertanya.
"Ekstrakulikuler? maksudnya?'"
"Iya, lalu siapa temanmu yang tampan itu?'
"Temanku yang tampan? Yang mana?"
Mama berdecak. "Itu lho, yang anaknya punya badan tinggi sama rambutnya yang acak-acakan dan kalo dilihat-lihat dia itu seperti perempuan.
Aku berpikir sejenak. Aku tidak mempunyai teman seperti itu di kelasku. Kecuali dia, Justin. Tapi kurasa tidak mungkin, aku dan dia sedang ada masalah.
Buru-buru aku bertanya. "Memang apa yang dia katakan kepada Mama?"
"Dia bilang ke Mama kalau kamu sedang mengikuti ekskul, jadi kamu akan pulang lebih lama."
Aku tidak menyangka. Aku tidak pernah mengikuti ekskul apapun! atau jangan-jangan Justin mengatakan itu untuk menutupi fakta bahwa aku sedang berada di UKS?
"Ooo, dia itu teman satu kelasku, murid pindahan, namanya Justin. Seperti katanya aku mengikuti ekskul, jadi maaf membuat Mama menunggu." Untuk pertama kalinya aku berbohong kepada Mamaku. Aku terpaksa. Karena aku tidak ingin membuat Mamaku khawatir.
"Tidak masalah. Mama justru senang melihatmu aktif di sekolah. Yasudah, ayo kita pulang."
Aku mengangguk dan akupun naik ke motor Mamaku. Mama menyalakan motornya. Saat di perjalanan Mama bilang dengan suara yang samar-samar. "La, temanmu yang bernama Justin itu ternyata ramah, ya. Mama harap kamu berteman baik dengan anak itu."
Aku tidak menyetujui ucapan Mama. Justin ramah? yang benar saja. Itu dugaanku sebelum aku mengalami suatu hal yang benar-benar merubah hidupku.
__ADS_1