
Ketiga murid itu adalah musibah bagiku. Kenapa aku berkata seperti itu? karena setelah mereka duduk Pak Ferdi langsung menugaskanku tugas yang benar-benar menyebalkan. Pak Ferdi menyuruhku untuk mengantar ketiga murid baru itu untuk berkeliling sekolah. Aku sudah menolaknya dengan tegas.
"Mengapa harus aku, Pak? Aku tidak mau."
Pak Ferdi hanya tersenyum dan berkata. "Karena kamu murid yang paling senggang." Jawaban itu membuatku terbelalak.
"Apa! hanya kare-"
"Pokoknya kamu nanti harus mengajak tiga murid baru itu berkeliling di sekolah. Bapak akan menambahkan nilai A untukmu."
Aku terdiam sejenak. Tadinya aku ingin protes sebelum Pak Ferdi bilang akan menambahkan nilai. Aku menghela nafas.
"Hah, baiklah, demi nilai," gumamku. Meskipun merepotkan, tapi demi nilai aku akan melakukannya.
Seakan waktu berjalan dengan cepat bel jam istirahat pertama berbunyi. Aku menarik nafas panjang sebelum anak laki-laki berambut kemerah-merahan yang duduk di belakangku—Arka—menjerit kegirangan.
"Asik! berkeliling sekolah. Ayo, ayo, cepat, aku sudah tidak sabar." Dia terlihat sangat menantikan perjalanan ini. Anak laki-laki di sebelahnya–Justin– memutar bola mata, jengah.
"Bisakah kamu tidak berisik?" katanya tegas.
Arka langsung menatap laki-laki itu tak suka. "Ayolah, Justin, kamu sangat tidak menyenangkan." Dia langsung cemberut.
Sementara tanpa kusadari ada gadis cantik sudah berdiri di depan mejaku. Faki menyikut lenganku seraya tersenyum. Aneh, Kenapa dia masih berada di dalam kelas? biasanya begitu bel istirahat berbunyi dialah yang pertama keluar dari kelas, berlari ke kantin.
Dia langsung nyengir ke arahku. "Em... sepertinya kamu akan kerepotan jika hanya kamu sendiri yang menemani mereka bertiga berkeliling sekolah ... em.. mungkin aku bisa se.. dikit membantumu."
Aku menatapnya tak mengerti. Sangat tiba-tiba! alibinya sungguh sangat jelas. Terserahlah, pikirku.
"Seperti kata Pak Ferdi, bisakah kamu menemani kami bertiga berkeliling," kata gadis cantik itu tiba-tiba.
"Ah ... iya, baiklah," kataku, sedikit gugup berbicara dengan gadis itu. Arka dan Justin berjalan mendekat ke arahku. Aku menatap mereka berdua bergantian, menghela nafas. Sekolah ini lumayan luas jadi mungkin ini akan sedikit lama.
"Baiklah, ikuti aku. Aku akan menemani kalian berkeliling sekolah."
Kami bertiga, maksudku, kami berempat keluar dari dalam kelas. Tempat pertama yang akan kami tuju adalah perpustakaan.
Seperti layaknya pemandu perjalanan aku menjelaskan dengan singkat tentang tempat-tempat yang kami singgahi. Entah aku mendapatkan kekuatan darimana sehingga aku bisa berbicara dengan sangat baik. Aku ini sebenarnya bukan tipe orang yang banyak bicara.
Sepanjang perjalanan banyak orang-orang yang melihat ke arah kami, lebih tepatnya ke arah tiga murid baru itu; Arka, Justin, dan Alicia. Mereka langsung membicarakan mereka, berbisik.
"... Lihatlah ... tampan."
"Cantik sekali ...."
"Itu tipeku."
__ADS_1
Aku sedikit risih dengan pandangan orang-orang. Terlebih dengan Faki yang kerap beberapa kali melirik ke arah Alicia. Sedari tadi diam—padahal katanya ingin membantu. Yeah, memang apa yang bisa aku harapkan dari bocah penggila film romantis itu.
Sudah sepuluh menit kami berkeliling sekolah, itu cukup melelahkan mengingat sekolahku yang lumayan luas. Kami mengakhiri perjalanan di tempat terakhir yaitu kantin. Waktu istirahat hanya tersisa lima menit lagi, aku harus bergegas membeli beberapa makanan sebelum bel berbunyi.
"Terimakasih atas bantuannya," kata Alicia.
"Benar, itu tadi perjalanan yang lumayan menyenangkan." Arka menimpali, dengan wajah berseri-seri.
"Tidak masalah," kata Faki sambil tersenyum. Aku memelototinya. Bukankah aku yang seharusnya mengatakan itu!
"Kalian tunggu dulu di sini," kata Justin. Justin tiba-tiba berjalan ke arah kerumunan kantin. Tak berselang lama dia kembali dengan sekantong plastik yang penuh dengan minuman botol.
Aku menatapnya tak percaya, bagaimana dia bisa sangat cepat membeli minuman padahal aku yakin kondisi kantin sedang sangat ramai. Sedangkan aku biasanya memerlukan waktu yang lama untuk bisa mendapatkan itu, itupun harus berdesak-desakan.
Lalu Justin berkata, "Entah kenapa tiba-tiba kerumunan itu langsung pada menyingkir. Jadi, aku aku dapat membeli minuman ini dengan cepat." Dia seperti bisa menebak apa yang sedang aku pikirkan.
Dia merogoh kantong plastik lalu mengambil satu botol minuman kemudian menodongkannya kepadaku. "Anggap sebagai ucapan terimakasih," katanya dengan wajah datar.
Aku tak sungkan menerimanya. Lumayan minuman gratis. Justin juga membagikan minumannya kepada Arka dan Alicia. Sedangkan untuk Faki, "Maaf, tadi minumannya habis" kata Justin seakan tak peduli.
Faki mengerutkan keningnya. "Y-yah, itu tidak masalah."
Aku yakin dia juga sebenarnya mau.
"Bagaiman perjalanan kalian bertiga tadi," tanya Pak Ferdi kepada Arka, Justin, dan Alicia.
"Itu menyenangkan," sahut Arka.
Kemudian Pak Ferdi menatapku. "Bagaimana Killa?"
"Bagaimana apanya?" Aku bertanya balik, tak paham.
"Untunglah kamu juga senang." Ia menyimpulkan.
"Tunggu ... apa!?" Aku tidak menjawab seperti itu tadi. Pak Ferdi justru hanya tersenyum.
.........
Tidak terasa waktu berjalan dengan cepat. Bel pulang telah berbunyi. Akhirnya kegiatan belajar telah usai. Aku tersenyum setelah menghela nafas panjang, pikiranku sudah melayang membayangkan kasur kamarku yang empuk, aku sudah tidak sabar untuk segera sampai di rumah.
Aku keluar dari kelas sebelum Faki menghentikan langkahku. "Hei, bukankah hari ini kamu piket?" jangan mencoba untuk kabur," katanya tegas.
Aku lupa hari ini adalah jadwalku piket kelas. Ada lima anak yang piket hari ini dan semuanya sudah mengambil bagiannya masing-masing. Ada yang menghapus papan tulis, menyapu lantai, dan merapihkan kursi-kursi kelas.
Faki mendapatkan bagian yang paling mudah yaitu membersihkan papan tulis yang penuh dengan tulisan guru. Dia menepuk-nepuk tangannya, menghilangkan debu, setelah selesai menghapus lalu berkata. "Bagianku sudah selesai." Dia menatap ke arahku dengan wajah yang menjengkelkan. "Selamat berjuang, Killa, aku pulang dulu, ya. Oh ya, bagianmu adalah membuang sampah."
__ADS_1
Setelah itu Faki langsung keluar dari dalam kelas. Tidak ada orang yang memprotesnya. Anak-anak lain masih sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.
Baiklah, membuang sampah ya, pekerjaan yang mudah. Aku mengambil semua kantong plastik besar berwarna hitam yang ada di dalam tong sampah. Kedua tanganku penuh dengan dua kantong plastik besar.
Aku harus membuang sampah-sampah ini di tempat pembuangan sampah yang terletak di ujung selatan, di bagian paling belakang dari sekolah, yang pastinya cukup jauh. Mungkin itu alasan mengapa banyak yang tidak menyukai bagian membuang sampah.
Aku keluar dari dalam kelas. Melewati lorong yang panjang untuk sampai di tempat pembuangan sampah. Setelah beberapa menit berjalan akhirnya aku sampai di tempat pembuangan sampah.
Persis di belakang bangunan di depanku yang di gunakan sebagai gudang, di sanalah tempatku membuang sampah-sampah ini. Di sana akan ada banyak sekali kantong sampah yang tersumpal di tong sampah berwarna hijau.
Aku menyusuri samping kanan gedung itu, yang terlihat menyeramkan karena terpisah dengan bangunan-bangunan lain. Di sini juga sangat sepi. Namun, setibanya aku di ekor bangunan aku mendengar sesuatu: Ada semacam bunyi suara benturan, bunyi pukulan. Ada orang yang berkelahi di sana, dan aku juga mendengar beberapa percakapan mereka.
"... Sudah keterlaluan!" dengan nafas terengah-engah.
"Hahahaha, itu hanyalah hadiah perkenalan. Kenapa kamu sampai se-emosi ini? apa kamu menyukai bocah itu?" Suara itu sangat tidak asing di telingaku.
Aku menempelkan badanku di tembok, lalu berjalan perlahan-lahan sampai aku tiba di ujung tembok. Aku melongok dari balik tembok.
Mataku terbelalak, betapa kagetnya aku melihat dua murid itu yang sedang berkelahi. Mereka adalah murid baru di kelasku, Justin dan Arka.
Arka berdiri di depan tubuh Justin yang sedang terduduk di lantai sambil bersandar di tumpukan kantong plastik sampah. Sudut bibir Justin mengeluarkan darah sementara Arka menatapnya dengan wajah penuh amarah.
Tidak kusangka Arka murid yang periang itu akan berubah menjadi sesosok yang menyeramkan seperti itu, bahkan Justin yang berpenampilan seperti preman di buat tidak berdaya. Pertanyaanku adalah mengapa mereka bisa sampai berkelahi sepert itu, padahal tadinya mereka baik-baik saja.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" Tiba-tiba ada yang menyentuhku dari samping kanan. Aku terkesiap dan langsung menoleh. Ternyata yang menyentuhku adalah Alicia. Bagaimana bisa tiga murid baru itu bisa berada di tempat seperti ini? Itu bukan lagi kebetulan, mereka bertiga terlalu mencurigakan.
Aku menelan ludah, "Aku hanya ingin membuang sampah, tapi ...." Aku terdiam. Tidak mungkin aku bicara kalau aku sedang mengintip seseorang yang sedang berkelahi.
Tiba-tiba Arka dan Justin muncul dari balik tembok, aku menjadi panik. Mereka berdua menatap aku dan Alicia secara bergantian.
Alicia menghela nafas, lalu menatap Arka dan Justin. "Hei, kalian membuat seseorang ketakutan, lakukan perkelahian di luar sekolah," ucap Alicia.
"Ketakutan? siapa?" Arka bertanya.
Alicia langsung menoleh ke arahku seolah sebagai penunjuk. Aku kembali menelan ludah. Aku tidak ingin terlibat dengan masalah.
"Biarkan aku yang membuang sampah-sampah itu untukmu," Kata Arka dan langsung merampas dua kantong plastik yang ada di tanganku.
"Ah, terimakasih," kataku.
Justin menatapku seperti sedang menyelidiki sesuatu, dia tersenyum. "Jadi kamu melihatnya, ya? Tolong bisakah kamu merahasiakan ini?"
Aku mengangguk pelan.
Aku menurutinya, sebelum aku mengerti arti di balik itu semua.
__ADS_1