Special Blood: Slyther

Special Blood: Slyther
Aku menguping dan ketahuan


__ADS_3

Ini sudah satu minggu semenjak aku di Perumahan Rumput Hijau. Sekarang aku sedang melakukan rutinitasku setiap hari yaitu latihan. Bersama dengan Alicia, Arka, dan Justin aku berlatih di halaman belakang perumahan yang sangat luas–mungkin seluas lapangan sepak bola. Latihan kami pada kali ini yaitu: Latihan insting. Kedua mataku di tutupi oleh kain, sementara mereka bertiga melempariku sesuatu dan aku harus menghindarinya.


Aku masih bingung sebenarnya untuk apa latihanku selama ini. Latihan yang layaknya seperti penyiksaan, dimana tubuhku benar-benar di paksa untuk terus menghadapi situasi yang ekstrim. Seperti misalnya: Berlari di pagi hari tanpa menggunakan baju sejauh ratusan meter dengan udara dingin yang sangat menusuk kulit; memanjat pohon setinggi ratusan meter, yang tahu-tahunya ada puluhan monyet raksasa; bergulat dengan Justin, yang pada akhirnya aku babak belur dan masih banyak lainnya.


Buuk!


Sesuatu yang keras mengenai punggungku, dan itu lengket. Aku tidak tahu mereka melempariku dengan apa, yang pasti sesuatu itu benar-benar berbau busuk. Melatih insting? Yang benar saja, latihan ini lebih mirip seperti perundungan. Mereka terus melempariku sesuatu. Aku terus menghindar, berguling-guling, melompat-lompat, pokoknya banyak hal yang gak jelas yang terus aku lakukan.


Tapi apa? semua gerakanku percuma.


"Gunakanlah instingmu, Killa," kata Arka, "Jangan cuma berguling-guling enggak jelas."


"Bagaimana caranya!" protesku, "Kalian tak mengajariku sama sekali. Kalian hanya sedang menyiksa–"


Buk!


Perutku terkena lemparan. Sangat sakit! di susul oleh dua tembakan di punggung dan di bahuku. Aku terbatuk-batuk sebelum mengangkat sebelah tangan. "Tunggu! bisakah kalian sedikit lebih lembut!'


"Itu takkan membantu sama sekali," kata Alicia, "Gunakan semua panca inderamu, perhatikan arah datangnya serangan. Pendengaran, itu kuncinya."


"Ya, baiklah." Aku menarik nafas panjang, mencoba untuk berkonsentrasi.


Aku mencoba memaksimalkan pendengaranku. Suara-suara mulai terdengar jelas: Suara nafasku, suara hembusan angin, bunyi langkah kaki, semuanya sangat jelas. Pendengaranku menjadi sensitif, dari arah jam tiga aku mendengar hembusan angin yang yang kuat dan itu mengarah ke kepalaku.


Aku memiringkan kepalaku ke kiri, suara itu lewat begitu saja di samping telingaku. "Bagus," kata Alicia, "Kau berhasil menghindari seranganku."


Aku tersenyum lebar. Aku berhasil! itu tadi adalah serangan pertama yang berhasil aku hindari. Sebelum sesuatu mengenai Dadaku.


Buuk!

__ADS_1


"Jangan berbangga diri dulu," itu suara Justin.


Itu tadi sangat sakit! Dadaku langsung terasa sesak. Rasanya persis seperti tendangan pria tua yang kutemui di dalam hutan, seminggu yang lalu. Waktu itu aku sedang mencari jalan pulang–tersesat– dan bertemu dengan pria tua berbadan kekar. Kami bertarung, walaupun pada akhirnya aku pingsan.


Dan saat aku terbangun tiba-tiba aku sudah kembali di Perumahan Rumput Hijau, di dalam kamar yang sebelumnya aku tempati.


Dari dalam kamar aku mendengar percakapan yang sangat jelas berasal dari ruang tamu.


Percakapan Fredic dan seseorang yang suaranya seperti suara yang pernah aku dengar.


Aku bangkit dari ranjang meskipun kepalaku masih terasa sangat sakit, berdenyut, dan berkunang-kunang. Aku memutuskan untuk pergi menguping.


Aku keluar dari kamar dengan tanpa suara–membuka dan menutup pintu dengan sangat pelan– Aku berjalan dan berhenti di ujung tangga. Di mana tangga ini langsung terhubung ke ruang tamu, dan dari sini aku dapat melihat Fredic yang sedang berbincang dengan seorang pria tua yang aku temui saat di dalam hutan.


"... Jadi maksud Ayah bulan merah sudah sangat dekat," kata Fredic.


Fredic mengangguk. "Baik, Ayah. Aku mengerti." Setelah itu Fredic menatap ke ujung tangga. "Killa, kemarilah. Aku tau kamu di situ."


Aku terkesiap. Bagaimana bisa? padahal aku yakin sekali sudah bersembunyi dengan benar. Apakah Fredic punya alarm khusus ketika ada seseorang yang sedang menguping? Akhirnya akupun muncul di tangga. Lalu berjalan ke bawah. Pria tua itu terus menatapku dengan tatapan tajam.


Sampai di bawah, Fredic langsung menanyaiku, "Apa kamu mendengar semua percakapan kami?"


Aku menggeleng. "Tidak, hanya sedikit yang kudengar."


"Hei bocah!" sergah pria tua itu, "Tidak baik untuk menguping pembicaraan orang!"


Aku langsung tertunduk. Kata-katanya begitu kuat sehingga membuat tubuhku gemetar.


"Sudahlah, Ayah. Jangan menakuti-nakuti dia ... Oh ya, Killa. Sebelum itu aku ingin memperkenalkan: Dia adalah Ayahku. Kamu bisa memanggilnya Pak Ares." Fredic tersenyum.

__ADS_1


"Atau mungkin “Pria tua”." Pak Ares menatapku tajam.


Aku tersentak. Sepertinya Pak Ares ingin membuatku terlihat buruk. Yah, pertemuan pertama kami memang tidak menyenangkan.


"Dari yang kamu lakukan tadi, apa yang bisa kamu tangkap Killa?" tanya Fredic.


Yang kulakukan tadi? maksudnya menguping? Aku menggaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal. "Eh... Itu... Bulan merah dan... kebangkitan."


"Benar. Bulan merah dan kebangkitan. Dan itu mengacu kepadamu, Killa. Saat bulan merah tiba kekuatan dalam dirimu akan bangkit, kekuatan yang luar biasa. Banyak musuh di luar sana yang akan memanfaatkan waktu itu untuk mencuri kekuatanmu. Waktu kebangkitan adalah waktu yang paling rentan untukmu, Killa. Maka dari itu kami memutuskan untuk mengamankanmu di suatu tempat."


"Di mana itu?" Aku bertanya.


"Tempat yang sangat jauh, lebih jauh lagi dari Perumahan Rumput Hijau. Di tempat semuanya bermulai." kata Pak Ares, seperti ada makna terdalam dari kata-katanya, terlihat dari wajahnya.


"Ingatlah ini, Nak," Pak Ares menatapku. "Ketika kekuatanmu bangkit... jangan terlalu terobsesi dengan kekuatanmu itu. Sesuatu yang berlebihan tidak baik kau tau."


Aku hanya mengangguk meskipun tak terlalu mengerti. Aku melirik Fredic, wajahnya seperti menyiratkan kesedihan yang mendalam.


Aku tidak tahu. Akan seperti apa kebangkitanku ini dan kekuatan apa yang akan kumiliki nantinya. Aku sedikit bersemangat dan takut dengan hal itu. Seperti ketika aku akan bertanding dalam sebuah turnamen bulutangkis waktu SD.


"Aku akan pergi, jagalah bocah itu dengan baik Fredic." Ares memejamkan matanya, seketika udara di sekitarnya berputar dengan kencang, percikan kilat memutari tubuh Pak Ares, sebelum dia tiba-tiba lenyap dari pandangan.


Aku ternganga menyaksikannya. Aku melihat tempat yang tadinya Pak Ares berada–melirik ke arah Fredic–dan kembali menatap tempat kosong itu. Sulap? bukan. Ini aksi yang lebih dari itu, atau mungkin: kekuatan supranatural!


Fredic terkekeh sebelum berkata. "Teknik perpindahan kau tau? Hampir semua bangsa Slyther menguasainya."


Mataku berbinar. "Kamu juga akan segera menguasainya," ujar Fredic, seperti mengerti isi kepalaku.


Dipikir-pikir lagi kurasa tidak buruk juga untuk memiliki kekuatan supranatural, meskipun aku harus jadi buruan. Aku sangat tidak sabar menantikannya.

__ADS_1


__ADS_2