Special Blood: Slyther

Special Blood: Slyther
Kelinci putih di tengah hutan


__ADS_3

Aku tidak jadi mati.


Aku berhasil berenang sampai ke daratan–nafasku tersengal-sengal. Aku tidak tahu mahluk apa yang telah menggigiti kakiku sewaktu berenang. Aku mengecek kakiku, untunglah keduanya masih utuh, hanya ada luka sayatan kecil-kecil seperti cakaran kucing dan rasanya perih.


Aku berjalan menuju ke rumah, di depan teras sana Fredic bersama dengan Alicia, Arka, dan Justin, sedang pesta minum teh. Mereka terlihat sangat bahagia sementara aku begitu menderita, maksudku berenang di danau penuh dengan predator bukanlah hal yang menyenangkan. Bisa di bilang itu sangat menyiksa.


Fredic tersenyum lebar saat melihatku masih selamat. "Wow, kukira kamu akan tenggelam, tapi untunglah kamu selamat."


Aku benar-benar ingin meninju wajah Fredic yang menyebalkan itu. Tapi aku takut dia akan melemparku kembali ke danau dan mungkin akan melemparku lebih jauh.


Tubuhku menggigil saat hembusan angin menerpa tubuhku. Kakiku juga terasa kebas. Aku menghela nafas saat tiba di teras rumah. Teh hangat di meja kayu itu, aku sangat ingin meminumnya.


"Duduklah, Killa. Istirahatlah sejenak," kata Fredic.


Di meja bulat itu hanya tinggal satu kursi yaitu di antara Alicia dan Justin. Sial! kenapa harus di samping Justin. Akupun duduk di kursi dengan hati-hati. Justin melirikku tajam, aku melihat itu, tapi aku akan bersikap biasa. Aku tidak ingin punya masalah dengannya.


"Alicia, tuangkan teh untuk Killa," perintah Fredic.


Alicia mengangguk, lalu meraih teko keramik berwarna putih dengan corak bunga. Dia menuangkan dengan anggun ke dalam gelas kosong sebelum menyerahkannya kepadaku.


"Minumlah, teh sangat enak diminum ketika kedinginan," kata Fredic.


Aku mengangguk. Akupun meminum teh itu, dan benar saja, tubuhku terasa hangat, aku sudah tidak lagi kedinginan. Sejujurnya aku tidak menyukai teh, tapi pengecualian untuk yang satu ini.Teh ini rasanya seperti cokelat hangat yang di campur madu. Aku yakin sekali bahwa yang kuminum ini adalah teh.


"Bagaimana rasanya, Killa? enak?" tanya Arka. Wajahnya berbinar seperti sedang menunggu jawabanku.


Aku mengangguk. "Sangat enak," kataku singkat. Dengan tak tahu malu aku langsung menghabiskan teh ini dalam sekali tegukan.


Semua mata langsung menatapku.


Fredic menghela nafas. "Kuharap kamu akan baik-baik saja," kata Fredic, "Baiklah, mari lanjutkan latihan kamu, Killa. Untuk latihan yang kali ini aku serahkan semuanya kepada mereka bertiga. Latihan selanjutnya harusnya akan menjadi hal yang sangat mudah bagimu, Killa."


Alicia, Arka, dan Justin serempak berdiri. Gelas mereka masih penuh, di atas meja hanya gelas milikku saja yang kosong. Padahal teh itu sangat enak.. Tunggu! apa jangan-jangan ada racun di dalam teh itu!


"Ayo, Killa, ikuti kami," kata Arka.


Yang benar saja, aku baru duduk hanya beberapa menit dan bajuku juga masih basah. Terlepas dari apakah teh itu beracun atau tidak, tapi biarkanlah aku berisitirahat lebih lama.


"Tunggu apa lagi?" kata Fredic.


Aku mengernyit sebelum bangkit berdiri. Ya baiklah, kurasa aku tak punya pilihan lain. Aku akhirnya mengikuti mereka bertiga, berjalan menuju ke dalam hutan.


Aku menebak-nebak latihan apa yang akan aku lakukan. Apa itu akan semacam mengangkat beban atau sebagainya. Namun, pertanyaan itu tak kunjung terjawab. Kami terus berjalan semakin masuk ke dalam hutan–tanpa ada percakapan.


Beberapa kali aku sempat bertanya kepada Arka, "Sebenarnya kita ini mau kemana?"

__ADS_1


Tapi Arka hanya menjawab, "Tunggu dan lihat saja."


Kami terus berjalan, semakin ke pedalaman hutan. Rumput-rumput liar mulai terlihat, semak-semak yang berukuran besar juga mulai tersebar di mana-mana. Tanahnya semakin becek, dan udara semakin lembab–tempatnya semakin bertambah menyeramkan.


Sudah setengah jam kami berjalan ke dalam hutan. Tubuhku semakin menggigil, udara di sekitar semakin dingin. Pepohonan semakin bertambah besar ukurannya–akar-akarnya menonjol keluar dari tanah–yang di penuhi dengan lumut. Tanaman-tanaman mulai bertambah besar ukurannya, beberapa saat yang lalu aku melihat sebuah jamur dengan batang yang berukuran sebesar tubuhku dengan tudung jamur berdiameter sekitar dua meter–itu akan lebih dari cukup untuk berlindung dari hujan.


Kabut mulai bermunculan. Aku tidak tahu sebenarnya ini mau kemana, dan percuma saja jika aku bertanya, mereka bertiga tidak akan menjawab.


Sampai kakiku benar-benar tidak bisa lagi melangkah, barulah kami berhenti. Masih di dalam hutan ditambah kabut sudah sepenuhnya menghalangi pandangan.


"Latihan kali ini sebenarnya sederhana," Arka menatapku, "Killa, kamu harus kembali menuju ke Perumahan Rumput Hijau. Kami bertiga akan meninggalkanmu di sini."


"A-apa! kalian enggak serius, kan? Tidak mungkin aku bisa kembali sendirian, bahkan aku sudah lupa rute yang sudah kita lalui barusan."


Arka menghela nafas. "Tapi itulah keputusannya. Fredic yang memutuskan."


Alicia berjalan ke arahku. Dia tersenyum. "Aku yakin kamu pasti akan bisa melakukannya. Gunakan instingmu, maka kamu akan menemukan jalan pulang."


Arka dan Alicia menatap Justin. Justin menghela nafas sebelum menatapku. "Jangan mati," katanya.


"Sampai jumpa, Killa," kata Arka.


Tiba-tiba angin berhembus kencang, udara di sekitar berputar dan debu-debu berterbangan, aku melindungi wajahku menggunakan tangan. Aku tak sempat melihatnya sebelum mereka bertiga tiba-tiba menghilang.


Tidak ada jawaban, yang ada malah lolongan serigala dari kejauhan. Aku berlari panik sambil mengingat kembali rute jalan yang tadi aku lewati.


"Lewat sini!" Instingku berkata demikian. Aku berlari kencang seperti sedang di kejar psikopat sebelum aku tersandung oleh akar pohon yang menonjol dari tanah. Lututku menghantam tanah dengan sempurna, itu membuatku menjadi berjalan pincang.


Kabut benar-benar menghalangi pandanganku. Aku merasa pepohonan semakin mendekat satu sama lain, mereka seperti berusaha menghimpitku.


Saat aku berjalan aku melihat semak-semak yang bergerak. Jantungku berdegup kencang. Aku berusaha untuk berlari menjauh dari semak-semak, akan tetapi kakiku benar-benar lemas. Nafasku memburu, aku terus berjalan sambil menatap lurus ke depan. Aku sangat takut.


Di depan sana jalanan terhalang oleh akar pepohonan yang sangat besar. Aku berhenti sejenak sambil melihat-lihat sekitar, berharap untuk menemukan jalan.


Mataku terbelalak saat melihat akar pepohonan di depan bergerak. Seperti layaknya ular, akar-akar itu membendung jalanan yang memungkinkan untuk aku lewati. Dengan seperti ini aku tidak punya pilihan lain selain putar balik.


Aku yakin semak-semak yang barusan aku lewati ada segerombolan serigala yang ingin memangsaku. Saat aku sedang kepanikan, tiba-tiba muncul binatang kecil dari balik kabut, berbulu putih, imut dan menggemaskan, sedang melompat-lompat ke arahku. Binatang itu ... tidak berbahaya.


"Bagaimana bisa seekor kelinci bisa berada di hutan seperti ini." Aku berjongkok untuk menyambut kelinci putih itu.


Kelinci itu berhenti beberapa langkah kaki di depanku, mengendus-endus, sebelum kembali melompat ke arahku. Namun, tiba-tiba mata kelinci itu berubah menjadi berwarna merah darah dan menyala. Aku tersentak.


Lompatan kelinci itu semakin kencang, lalu tiba-tiba kelinci itu menerjang ke arahku. Aku berhasil menghindar dengan cara melompat ke samping.


Kelinci itu sudah tidak lagi imut dan menggemaskan. Kelinci itu berdecit-decit dengan suara yang suara yang keras. Aku segera berlari, aku merasakan firasat buruk dengan kelinci itu.

__ADS_1


Nafasku tersengal-sengal. Di kejauhan aku melihat akar pohon yang membentuk menyerupai lubang gua berukuran kecil. Aku memutuskan untuk bersembunyi di sana, sambil mengisi kembali energiku. Sebelum aku benar-benar memasukinya aku memeriksanya terlebih dahulu–takut kalau ada monster atau sebaginya. Setelah di rasa aman, barulah aku masuk ke dalam dengan cara merangkak–karena ukurannya memang kecil.


Di dalam tidak terlalu luas, mungkin cukup untuk dua orang dengan ukuran tubuh sepertiku. Aku bersandar di akar pohon sambil memeluk kedua lututku. Aku menatap ke luar dimana kabut masih senantiasa ada. Tubuhku bergetar karena kedinginan, aku tak tahu apakah aku bisa keluar dari dalam hutan ini.


Aku tidak berani beranjak dari dalam gua kecil ini, aku sangat takut untuk keluar. Sampai aku mendengar suara langkah kaki yang mendekat ke arah gua. Aku tersentak, aku buru-buru keluar dari dalam gua kecil ini. Aku yakin mereka datang untuk menyelamatkanku.


Aku merangkak keluar. Dari jarak beberapa meter di depan aku melihat siluet orang. "Sebelah sini," kataku lirih.


Sampai siluet itu keluar dari dalam kabut, memperlihatkan seorang pria tua bertubuh kekar serta rambut dan janggutnya yang sudah memutih. Wajahnya yang tegas menatapku tajam, pakaiannya serba hitam –ketat–menampilkan bentuk tubuhnya yang perkasa.


Mataku terbelalak. Pria tua itu berjalan mendekat ke arahku dengan langkah yang panjang, seolah tidak ingin membiarkanku lari.


"Siapa kau! Apa yang sedang kamu lakukan di sini," kata pria tua itu. Auranya sangat mendominasi.


"A-aku hanya sedang latihan," kataku parau.


Pria tua itu menatapku dari atas sampai bawah, sebelum mencengkram kerahku. "Katakan yang sebenarnya!" Matanya melotot tajam.


"A-aku benar-benar mengatakan yang sebenarnya."


Pria itu menghela nafas. "Kalau kamu tidak mau mengatakannya ... Aku akan membuat berbicara." Dia melemparku ke tanah, aku terjatuh ke tanah dengan keras–kenapa akhir-akhir ini orang suka melemparku ya!


"Berdirilah bocah!" tegas pria itu.


Aku bangkit berdiri dengan susah payah. Sudah pasti pria tua itu bukan datang untuk menyelamatkanku, tapi kenapa tiba-tiba dia menyerangku?


Aku tidak punya pilihan lain ... Aku ... harus kabur! Aku langsung berbalik dan berlari dengan sekuat tenaga, pria tua itu hanya berdiam diri di sana. Aku terus menyeruak ke dalam kabut, berbelok tak tentu arah. Yang penting aku selamat terlebih dahulu.


Namun, tiba-tiba pria tua itu kembali muncul di hadapanku. Bagaimana bisa?


"Apa yang kau mau pria tua!" kataku.


Pria tua itu tertawa. "Apa yang kumau? hahaha, kurasa aku ingin membunuhmu."


Aku menelan ludah mendengar pernyataan itu. Tubuhku langsung bergetar. Kabur? kurasa itu akan percuma. Jadi, aku memutuskan satu hal, yaitu melawan pria tua itu. Aku meraup tanah dan langsung melemparkannya ke pria tua itu.


Itu berhasil membuatnya teralihkan untuk sementara. Lalu, aku langsung berlari untuk menendang ******** pria itu.


Tendanganku di tahan menggunakan satu tangan dengan mudahnya, kemudian pria itu berkata. "Hanya segini kemampuanmu?"


Aku mengepalkan tangan kananku. Pertama aku melepaskan terlebih dahulu kakiku yang di tahan oleh pria itu. Setelah itu aku menggunakan trik yang sama seperti sebelumnya–meraup tanah– lalu melemparkannya. Sementara pandangan pria itu teralihkan aku langsung memutari tubuhnya untuk memukulnya dari belakang.


Namun, lagi-lagi seranganku gagal. Pria tua itu ber-reflek dengan cepat, dia langsung melakukan tendangan putaran searah jarum jam dan itu sempurna mengenaiku. Aku terlempar jauh ke belakang.


Dadaku terasa sangat sesak menerima tendangan itu, nafasku tersengal-sengal. Aku sudah tidak mampu berdiri, tubuhku lunglai, kepalaku berkunang-kunang sebelum akhirnya aku jatuh pingsan.

__ADS_1


__ADS_2