Special Blood: Slyther

Special Blood: Slyther
Pasukan tengkorak


__ADS_3

Aku tidak tahu sudah berapa lama aku pingsan. Tapi, yang kutahu hanya aku terbangun di gubuk tua dan lusuh–sudah bukan lagi di rumah Lisa–wanita yang meracuniku. Pandanganku berkunang-kunang saat aku mencoba duduk.


Ruangan di dalam gubuk ini sempit. Banyak sarang laba-laba di langit-langit dan di dalam sini bau seperti buah apel yang telah lama membusuk. Kepalaku juga berdenyut-denyut–sepertinya efek racun itu masih ada. Aku mendesis sebelum memutuskan untuk keluar dari dalam gubuk tua dan lusuh ini. Baunya benar-benar membuatku ingin muntah.


"Ah, yang benar saja!" kataku geram.


Saat aku keluar dari dalam gubuk aku disuguhi oleh pemandangan pemakaman–pemakaman yang sangat luas. Aku bukanlah pemberani! Melihat pemandangan ini tentu saja membuatku merinding, apalagi langit sudah gelap, dan suasana di sini sangat mencekam.


Di samping gubuk tua ada sebuah pohon besar yang sudah mati, hanya menyisakan ranting-ranting. Dan, ada banyak sekali burung gagak yang bertengger di sana. Semua mata gagak tertuju ke arahku saat aku melangkahkan kaki.


Satu burung gagak menggaok. Detik selanjutnya, semua burung gagak di atas sana menggaok, lalu menghujam ke arahku. Aku langsung melindungi tubuhku dengan tangan, tapi untungnya tidak ada satupun gagak yang menyerangku, mereka hanya melewatiku saja.


Aku menghela nafas. Sudah tidak ada burung gagak yang bertengger di atas pohon mati. Dan sekarang, aku menatap ke arah pemakaman. Aku tidak tahu berapa banyak orang yang dikubur di pemakaman ini, tapi yang pasti lebih dari ratusan.


Banyak burung gagak yang bertengger di atas batu nisan–saling berkoak-koak. Aku berjalan melewati jalanan berbatu yang membelah pemakaman ini. Suasana di sekitar gelap di tambah berkabut, rasanya seperti aku sedang menjadi tokoh utama dalam film horor.


Bulan di atas langit bersinar dengan indah tanpa bintang-bintang di sampingnya, begitu kesepian, seperti diriku saat melewati pemakaman ini. Tapi tak lama ada seseorang yang berlari dari arah depan, dan mereka berhenti saat melihatku.


"Killa." Justin menghela nafas saat melihatku. "Untunglah," katanya.


"Cepat! kita harus segera keluar dari pemakaman ini!" sosok kerdil bertelinga runcing di samping Justin memperingati, "Tempat ini berbahaya," lanjutnya.


Aku mengerti jadi aku mengangguk. Dan kami langsung berlari untuk keluar dari pemakaman. Namun, tiba-tiba tanah bergetar, gagak-gagak yang bertenggeran di atas batu nisan seketika berterbangan.


"Kita terlambat," kata Aulus parau.


Tanah-tanah dari setiap kuburan terbelah, lalu memunculkan sosok tengkorak. Bukan hanya satu kuburan, akan tetapi seluruh kuburan di pemakaman ini juga seperti itu–terbelah–lalu mengeluarkan sosok tengkorak. Seluruh tengkorak berkumpul membentuk sebuah pasukan.


Kami bertiga terjebak. Tengkorak-tengkorak itu mengepung kami. Dan tanpa aba-aba mereka menyerbu ke arah kami. Tengkorak itu dapat dengan mudah Justin kalahkan, tetapi jumlahnya yang sangat banyak benar-benar membuatnya kewalahan. Aulus juga ikut bertarung, gerakannya sungguh lincah.

__ADS_1


Aku benar-benar tidak tahu harus melakukan apa saat segerombolan tengkorak berlari ke arahku. Jadi, aku mengangkat tanganku ke depan sambil berharap ada keajaiban. Dan benar saja, segerombolan tengkorak di depan sana terhenti–seperti ada benteng yang menghalangi mereka.


Mataku berbinar. Aku mencoba menggerakkan tanganku ke kanan, gerombolan tengkorak di depan juga bergeser ke kanan, aku menggerakkan tanganku ke atas, gerombolan tengkorak itu juga ikut terangkat.


Aku tidak punya waktu untuk terkagum karena dari sisi kanan dan kiriku ada banyak sekali tengkorak yang sedang berlari ke arahku. Jadi aku menghentakkan gerombolan tengkorak yang terpengaruh deng kekuatanku, menghentakkan dengan keras ke tanah, membuat tengkorak-tengkorak itu seketika hancur.


Aulus yang sepertinya melihat aksiku, dia berkata, "Bagus, Killa. Gunakan kekuatanmu untuk membukakan jalan. Cepat!"


Aku mengangguk. "Akan kucoba."


Justin dan Aulus langsung mendekat ke arahku. Aku langsung mengangkat kedua tanganku ke arah gerombolan tengkorak yang menghalangi jalan. Berhasil! Aku mengayunkan tangan kananku ke samping kanan dengan kasar, sehingga gerombolan tengkorak di depan sana terhempas ke samping kanan. Begitu juga dengan tangan kiriku. Aku mengayunkan tangan kiriku ke samping kiri–gerombolan tengkorak terhempas ke samping kanan.


Aku terus menggunakan kemampuan telekinesis-ku untuk membelah ratusan tengkorak yang menghalangi jalan. Akhirnya kami berhasil melewati gerbang pemakaman, tapi anehnya pasukan tengkorak itu sudah tidak lagi mengejarku begitu kami tiba di pemakaman.


Mereka tampak kecewa, dan mereka kembali masuk ke dalam kuburannya masing-masing.


Aku menghela nafas lega sekaligus tersenyum sumringah. Bukan karena selamat dari serbuan pasukan-pasukan tengkorak tadi, tetapi karena kekuatan yang aku miliki.


Aku tersenyum. "Sepertinya begitu," jawabku masih dengan wajah sumringah.


"Lalu bagaimana bisa kau berada di sini?" tanya Aulus.


Aku menghela nafas kasar. "Mula-mula saat pertama kali aku berpindah tempat di hutan aku bertemu dengan seorang wanita. Katanya dia tau sesuatu mengenai darah istimewa, jadi aku mengikutinya sampai di rumahnya.


"Aku disuguhi teh yang ternyata telah dicampur dengan racun. Aku bangun, dan tiba-tiba aku berada di dalam gubuk di pemakaman itu. Dia bilang dia itu salah satu temanmu Aulus ... dia cantik, dan ... namanya adalah Lisa."


Aulus mengernyit. "Temanku? ... Lisa? ... Kurasa aku tidak mengenalnya." Aulus berpikir keras untuk mengingatnya. "Ya, aku tidak mengenalnya," ia kembali menegaskan.


Aulus menarik nafas panjang. "Ini sudah gelap, kita harus segera pergi," katanya.

__ADS_1


Setelah itu kami bertiga pun berjalan menuju ke arah timur. Kami terus berjalan sampai akhirnya kami tiba di sebuah danau yang terdapat dermaga kecil. Di samping kanan dan kiri dermaga terdapat obor yang mengeluarkan api berwarna biru. Dan di samping dermaga terdapat perahu kayu dengan ujung perahu berbentuk kepala singa.


Kami menaiki perahu kayu itu. Saat aku menaiki perahu, aku sempat berpikir: Bagaimana cara menggerakkan perahu ini, sedangkan tidak ada dayung atau alat apapun untuk membuat perahu ini dapat berjalan.


Saat itulah aku baru mengetahui ternyata untuk menggerakkan perahu kayu ini kita perlu merapalkan suatu mantra. Aulus-lah yang melakukannya. "Offoss soffus."


Setelah mengatakan itu, mata singa yang ada di ujung perahu mengeluarkan cahaya berwarna biru. Beberapa detik kemudian perahu berjalan dengan sendirinya.


Aku memandang ke sekitar danau yang gelap. Rasanya luar biasa menaiki perahu yang berjalan otomatis. Aku beralih menatap Justin yang duduk di depanku sambil bersedekap. Dia nampak tenang.


"Justin, dimana tiga anak kembar itu. Apa mereka tidak ikut denganmu?"


Justin melirikku tajam. Batinku terpekik melihatnya.


"Mereka ada di suatu tempat," jawabnya singkat.


Setelah itu aku memutuskan untuk diam. Aku tidak berani lagi untuk bertanya. Suasana menjadi lengan sebelum Aulus bersenandung, mengeluarkan melodi yang indah. Rasanya sangat cocok untuk lagu penghantar tidur.


Setiap senandung yang Aulus keluarkan seperti terdapat sebuah cerita di baliknya, cerita yang sangat pilu. Berikutnya Aulus berganti menyanyi, intonasinya sangat sempurna, Aulus mengeluarkan raut wajah sedih–dia sangat mendalami lagunya.


Aulus berhenti bernyanyi saat perahu memasuki sebuah goa besar. Kecepatan perahu menjadi lebih pelan, suasana di dalam goa sangat hening. Aulus menempelkan jarinya di bibir–yang terhalangi oleh janggut putih–mengisyaratkan supaya diam.


Sekarang aku mengerti alasannya. Di atas langit-langit goa ini terdapat banyak sekali kelelawar berukuran raksasa yang sedang tidur. Aku sedikit heran, Bukankah kelelawar harusnya aktif di malam hari?


Pertanyaanku tak terjawab karena perahu yang kutumpangi keluar dari dalam goa. Aku melihat sebuah pulau di depan sana, dimana di pesisir pulau tersebut terdapat rumah yang cukup besar, yang di kelilingi oleh pohon-pohon yang sudah mati. Dan di belakang rumah menyeramkan tersebut terdapat hutan yang sangat lebat.


Rumah itu di penuhi oleh akar-akar pohon. Terdapat dua corong asap di sisi kanan dan kiri, tembok yang terbuat dari batu berwarna gelap, terdapat dua patung anjing monster yang mirip seperti anjing di beranda depan rumah, dan di halaman depan rumah di penuhi oleh tanaman-tanaman yang aneh.


Perahu yang kutumpangi berhenti di pulau itu. Kami bertiga turun dari perahu.

__ADS_1


Aku melihat sesosok nenek-nenek yang sedang berdiri di depan pintu rumah menyeramkan itu. Sorot matanya tajam memperhatikan kami bertiga.


__ADS_2