
Kakek mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia mengerti, jika perubahan yang terjadi di kehidupan Belinda sekarang adalah buah dari ketidak jujurannya.
Kakek mengijinkan Reyhan untuk pergi dan Ia termenung di kamarnya sendiri.
"Andai saja kau tahu, betapa sakitnya hati ini saat kau di hina oleh Sisi. Aku berada di sampingmu tapi aku tak bisa berbuat apa-apa. Aku pikir, kau akan hidup bahagia tanpa diriku tapi ternyata kau menjadi wanita yang kejam atas kesalahanku." Ucap Kakek yang terlihat menyesal.
Ia menatap album foto lama sewaktu dia muda dulu. Hatinya begitu sedih, melihat pernikahannya sendiri. Pernikahan yang diawali dari perjodohan kedua orang tua. Dan pernikahan ini juga, menjadi awal dari kesuksesannya.
"Sisi, dulu aku sangat membencimu! Tapi setelah kau tiada, aku baru menyadari jika kau adalah wanita terbaik yang pernah kutemui." Ucapnya sambil menitikkan air mata.
...
Di luar rumah...
Terlihat Belinda dengan pakaian seksi dan mengenakan kaca mata hitam berjalan masuk dan membuat para penjaga menatapnya dengan penuh nafsu. Ia memberikan senyum termanisnya dan menghampiri.
"Apakah Wibowo ads di rumah?" Tanyanya sambil tersenyum.
"Ada!" Jawab penjaga yang tak bisa menghindari pandangannya.
"Bagus! Kalau begitu, panggilkan dia. Aku tunggu di kursi taman ini." Tuturnya sambil duduk.
Penjaga menganggukkan kepalanya dan segera pergi. Belinda menatap rumah Wibowo yang terasa nyaman dengan bunga-bunga yang sangat indah dan bermekaran.
"Kamu tidak berubah Wibowo!" Ucapnya sambil tersenyum.
__ADS_1
Tak lama menunggu, akhirnya Wibowo datang dan menatap wanita yang tengah duduk. Ia nampak sudah tak mengenali Belinda lagi.
"Siapa yah!" Ucapnya dengan raut wajah penasaran.
Wanita itu menoleh dan menatap tubuh Wibowo yang terlihat sudah tua. Kulit keriput dengan uban yang menghiasi kepalanya. Belinda nampak tersenyum puas, Ia merasa jika dirinya adalah yang terbaik.
"Wibowo, ini kamu kan?" Tanyanya tak percaya.
Wibowo menganggukkan kepalanya. "Iya, memangnya anda siapa?" Tanya kakek yang masih tak mengenali wanita yang ada di hadapannya.
Belinda begitu senang, Ia mencium pipi Wibowo. "Aku merindukanmu, sudah 40 tahun kita tak bertemu." Tuturnya dengan mata yang berkaca-kaca.
Penjaga yang sedari tadi berada di samping Wibowo nampak menelan ludah, melihat sang kakek mendapatkan ciuman dari wanita yang masih muda.
Kakek nampak tak senang, Ia mulai menjauh dari wanita itu. "Tolong jaga kesopanan kamu, aku tidak mengenalmu dan sebaiknya ku pergi." Ucap Kakek yang terlihat kesal.
Belinda tersenyum dan air mata pun mulai jatuh. "Untuk kedua kalinya, kau membuatku kecewa. Aku datang kesini, sengaja untuk menemui mu. Aku ini Belinda wanita yang kau cintai di masa lalu." Tuturnya.
Kakek nampak tak percaya, semua yang di katakan Reyhan ternyata benar. Belinda masih terlihat seperti gadis dengan kulit kencang, putih dan cantik.
"Belinda!"
"Iya, aku ini Belinda! Apakah mata katarak mu itu sudah tidak bisa mengenalinya?" Tanya Belinda dengan kasar.
"Belinda, aku minta maaf! Seharusnya dulu aku menjelaskan segalanya, agar kamu tidak seperti ini." Ucap kakek yang terlihat sedih.
__ADS_1
Belinda menyunggingkan senyumnya. "Heh, lucu sekali! Sekarang kau tua dan penglihatan pun sudah bermasalah. Aku menerima semuanya, karena dirimu aku menjadi wanita yang awet muda."
Kakek terdiam, Ia duduk di samping Belinda dan penjaga pun di suruh pergi. Belinda menatap sedih, karena lelaki yang Ia cintai dulu sudah tua dan terlihat tidak fress lagi. Tapi hatinya tidak bisa dibohongi, cintanya masih sangat besar.
"Wibowo, kau berhutang penjelasan untukku. Aku rela menjadi wanita mu meskipun kau sudah tua. Aku akan melupakan segala penderitaan yang telah kau berikan, asalkan kau mau ikut denganku menjadi pendamping hidupku." Ucap Belinda sambil menggenggam tangan Wibowo.
Kakek nampak menatap nanar, Ia menggelengkan kepalanya. "Belinda, aku sudah tidak muda lagi. Aku tidak kepikiran untuk hal seperti itu, yang kupikirkan hanya kebahagiaan keluarga." Ucapnya.
Belinda nampak tak terima, Ia mencium bibir kakek dengan paksa dan memainkan lidahnya di mulut sang kakek.
"Cobalah ingat, apakah kau benar-benar tidak menginginkannya!" Ucap Belinda.
Kakek menggelengkan kepalanya, meskipun Ia masih memiliki nafsu yang besar tapi Ia tak ingin bercinta lagi.
"Sudahlah, lebih baik kau pergi! Aku mau istirahat." Ucap Kakek sambil melenggang pergi.
Belinda mengejar dan menggenggam tangannya.
"Sayang, kau buka matamu! Kita harus bersatu, kau tahu aku sangat merindukanmu." Ucap Belinda.
"Cukup, aku tidak ingin melihatmu lagi. Kau hampir saja membuat cucuku dalam bahaya. Aku tidak mengenalmu lagi, aku ingin kau melupakan segalanya di masa lalu." Ucapnya sambil masuk ke dalam rumah.
Belinda nampak kecewa, Ia tak menyangka jika dirinya akan ditolak oleh Wibowo.
"Kalau kau tak bisa kumiliki, lebih baik kau mati." Ucapnya sambil mengepalkan tangannya.
__ADS_1