Suami Bayaran Nona Muda

Suami Bayaran Nona Muda
Bab 38


__ADS_3

Anita, Mama dari Jenny menghentikan langkah sang anak dengan cara menarik tangannya. Ia langsung membisikan sesuatu di telinga sang anak dan senyum lebar terpancar dari bibir Jenny.


"Mama pinter banget, tapi apakah yakin kita akan berhasil. Reyhan itu lelaki yang cuek, apalagi sama aku!" Tuturnya yang ragu.


"Jenny sayang, coba kamu berpikir jernih! Kalau sadar mungkin dia akan menolak mu, tapi bagaimana kalau Reyhan mabuk dan tak sadarkan diri!" Jawab sang Mama sambil tersenyum.


Jenny pun akhirnya mengerti, sekarang bibirnya tersenyum penuh kebahagiaan. Bahkan, pikirannya sudah treveling memikirkan bagaimana Ia menikmati setiap sentuhan dari lelaki yang selalu menggoda hatinya.


"Baiklah, aku setuju! Tapi jika Sam...!"


"Ssstt, jangan sebut nama lelaki yang tidak guna itu lagi. Sekarang yang terpenting adalah Reyhan dan kau!" Jawab Mama Anita yang menghentikan ucapan sang anak.


Jenny pun mengangguk-anggukan kepalanya dan tersenyum. Ia pun akhirnya bersiap dan berdandan secantik mungkin.


"Reyhan, malam ini kau milikku!" Tuturnya sambil menatap pantulan wajah dan tubuhnya di cermin.


Jenny sudah siap, dia sengaja mengenakan riasan di wajahnya dengan cukup tebal karena baginya itu terlihat cantik. Apalagi pakaiannya yang seksi menambah lekuk indah tubuhnya. Pahanya yang mulus nan putih terlihat begitu saja.


Jenny pun keluar dari kamarnya sambil menenteng tas kecil. Di bawah, Ia nampak berpapasan dengan Kimberly dan keduanya saling menatap.


"Jen, kau mau kemana? Ini masih siang, masa Iya kau sudah siap untuk jual di*i!" Ejek Kimberly yang tersenyum melihat gaya pakaian Jenny.


Jenny mendelikan matanya. "Bukan urusanmu, tapi kau benar makan ini aku akan tidur dengan lelaki yang selalu menggoda hatiku. Dan aku yakin, setelah kejadian ini kau akan menangis darah!" Cibirnya dengan gaya angkuh.


Kimberly tersenyum. "Tidur dengan lelaki saja bangga! Apakah warisan yang di berikan kakek tidak cukup? Hingga, kau harus merendahkan harga dirimu di mata lelaki hidung belang!"


Jenny nampak kesal karena makin kesini omongan Kimberly semakin pedas. Hingga akhirnya, Ia memutuskan untuk pergi dan meninggalkan Kimberly yang masih mengoceh.


Kimberly seketika terdiam, meresapi perkataan dari Jenny.


"Lelaki yang selalu menggoda hatinya, siapa dia dan kenapa ucapnya seakan itu di tujukan padaku. Apa jangan-jangan...?" Ucapnya yang menduga-duga.


Kimberly menampik semua yang ada di pikirannya. Ia akhirnya pergi dan masuk ke kamar.


*


*


*


Sesampainya di kamar, Kimberly meraih handphonenya dan menatap layar datar yang ada di hadapannya.


"Kenapa, Reyhan belum menelpon? Tidak biasanya, dia seperti ini!" Batinnya

__ADS_1


Kimberly termenung, sekarang usia kandungannya sudah menginjak 7 bulan. Dengan kehamilan ini, Ia sudah tidak bisa pergi jauh ataupun bekerja.


"Sebaiknya, aku berpikir positif!"


...


Di tempat lain...


Reyhan nampak tengah duduk di kursi kafe. Ia terus melirik jam tangannya dan melihat sekitar.


"Kemana klien itu, tidak biasanya aku punya klien seperti ini!" Tuturnya yang sudah nampak kesal.


Disaat Reyhan tengah duduk kesal karena menunggu lama. Suara wanita yang tak asing terdengar di belakangnya.


"Maaf, saya terlambat!"


Reyhan pun menoleh dan mengerutkan keningnya. Ada rasa tak percaya karena bukan klien yang ditunggunya, melainkan Jenny yang menyapanya dengan senyuman.


"Kau....! Kenapa aku harus bertemu dengan wanita seperti dirimu? Melihat di rumah saja sudah bosan, apalagi sekarang kita bertemu di kafe!" Gerutunya dengan nada ketus.


Reyhan bermaksud untuk pergi, tapi dengan cepat tangan Jenny Langsung menggenggam tangan Reyhan dengan erat.


"Kau mau kemana? Bukannya kita disini untuk bisnis!" Jawabnya dengan suara santai.


"Iya, kau jangan menuduhku seperti itu. Aku di utus Pak Burhan untuk membicarakan proposal yang sebelumnya kau ajukan!"


Reyhan yang mendengar nama Pak Burhan di sebut, akhirnya duduk kembali dan menghempaskan tangan Jenny dengan kasar.


"Lepas...!"


Jenny tersenyum dan melepaskan genggaman tangannya. Ia langsung mencium tangannya dan alangkah bahagianya saat merasakan aroma tangan Reyhan ads di tangannya.


"Emm, keringatnya saja sudah wangi apalagi jika...!" Batinnya yang tersenyum bahagia.


Reyhan mendelikan matanya, Ia nampak malas menghadapi Jenny. Tapi proyek ini sangat berarti untuknya.


"Reyhan, kau harus tenang! Sebentar lagi iblis wanita ini akan pergi!" Batinnya yang mencoba menenangkan diri.


"Ya, sudah...! Ayo kita mulai meating nya, aku masih banyak urusan!" Ucap Reyhan yang to the points.


Jenny tersenyum. "Apakah begini caramu melayani klien?"


Reyhan semakin di buat kesal, tapi meskipun begitu ia mencoba untuk menahan.

__ADS_1


"Baiklah ibu jenny, kita mulai meeting nya!" Tuturnya dengan sopan.


Jenny tersenyum dan menatap wajah Reyhan yang sudah merah seperti tomat busuk karena menahan kesal.


"Em, bagaimana kalau kita makan siang dulu?" Ajaknya.


"Tidak usah, saya tidak lapar!" Jawabnya dengan dingin.


"Tapi saya lapar dan saya tidak akan mulai meeting ini dengan perut kosong!" Ucapnya dengan santai.


Reyhan menatap kesal dan melambaikan tangannya.


"Pelayan...!" Teriaknya.


Pelayan wanita pun datang menghampiri dan memberikan buku menu.


"Mau pesan apa, Pak?" Tanya nya sambil curi-curi pandang melihat ketampanan Reyhan.


Jenny yang memperhatikan seketika cemburu dan menggebrak meja.


"Hey pelayan, jaga pandangan mu! Saya tidak suka, kau memandangi lelaki seperti itu!" Bentaknya sambil membulatkan mata.


"Lelakimu...!" Jawab Reyhan mengerutkan keningnya.


"Iya, kau lelaki ku. Dan tidak ada wanita yang pantas memandang wajahmu selain diriku!" Bentaknya dan memberikan isyarat mata.


Reyhan hanya diam dan membiarkan Jenny seakan menjadi wanita paling posesif di dunia. Ia tak ingin makan dan meminta minuman yang sudah di pesannya.


"Aku tidak lapar, ambilkan saja minuman yang ku pesan sebelumnya!" Tuturnya dengan penuh kecemburuan.


"Minuman...!" Tanya pelayan mengulang.


"Iya, kau tuli! Ambilkan minumanku dan katakan atas nama Jenny!" Bentaknya.


Pelayan itu pun pergi dan Jenny terlihat sangat marah. Tapi dengan seketika, raut wajahnya berubah saat Reyhan memandangi dirinya.


"Maaf, aku keceplosan!"


Reyhan tersenyum. "Luarnya saja wanita tapi dalam laki. Apa jangan-jangan, siangnya Jenny malamnya Jono?" Ledeknya yang tak bisa menahan tawa.


Jenny terdiam, melihat wajah tampan Reyhan yang sedang tertawa. Baru kali ini Ia melihatnya dan semua ini baginya adalah keberuntungan.


"Oh my God! Aku tak menyangka, kecutnya saja sudah tampan. Apalagi tersenyum seperti ini, hatiku rasanya mencair seketika!" Batinnya yang lebai.

__ADS_1


__ADS_2