
Beberapa hari kemudian...
Hari terasa cepat berlalu, sudah 1 minggu Belinda meninggalkan keluarga Wibowo. Tak ada kabar ataupun berita darinya. Wibowo yang sekarang duduk di balkon menatap keluar gerbang rumah, Ia terlihat sedang menunggu dan melamun.
Tak berapa lama, Kimberly datang dan membawa sarapan untuk sang kakek. Kimberly menatap sang Kakek yang akhir-akhir ini terus melamun dan kesepian.
"Kek, ada apa? Apakah kakek merindukan Mama Belinda?" Tanyanya sambil menghampiri.
Kakek menoleh. "Tidak, kakek merasa ada keheningan di rumah ini. Padahal, rumah ini selalu ramai dan banyak orang."
Kimberly tersenyum dan memeluk lututnya. "Mungkin, itu semua karena kakek merindukan Mama Belinda. Meskipun di mata orang lain dia begitu kejam, tapi dia selalu baik dan perhatian sama kakek."
"Iya, kakek tahu. Tapi entah kenapa, hati ini terasa berat untuk menerima kehadirannya. Apalagi, setelah perlakuannya kepada dirimu!"
Kimberly mengangguk. "Iya, tapi sebenarnya mungkin karena dia butuh kasih sayang dari Kakek. Dia hanya ingin kakek seperti dulu dan kalian hidup bahagia."
Kakek Wibowo terdiam dan merenungi ucapan dari cucu kesayangannya. Kimberly meninggalkan kakek dan menyimpan sarapannya di meja.
Kakek meraih handphonenya dan mencoba menelpon Belinda, tapi sayang telponnya tidak tersambung.
"Belinda, mungkinkah perlakuan ku salah!" Batinnya sambil menatap langit pagi yang indah.
*
*
*
__ADS_1
Di meja makan...
Seperti biasa, semua orang nampak sudah duduk di meja makan dan wajah mereka terlihat kesal karena menunggu kedatangan Kimberly.
"Ma, kenapa sih kita harus menunggu Kimberly?" Tanya Jenny dengan nada kesal.
"Sebenarnya, Mama juga malas harus mengikuti aturan dari bocah tengik itu. Tapi apa boleh buat, Kimberly sekarang adalah nyonya dari rumah ini!" Jawabnya dengan nada kesal.
Ibu dan anak pun terus bicara saking asyiknya mereka tak menyadari kedatangan Kimberly.
"Apa kalian sudah puas menggunjingnya?" Tanyanya dengan wajah datar.
Jenny dan Mama menoleh dengan seketika sambil membulatkan mata. Tapi sang Mama, nampak dengan sigap langsung merubah ekspresi wajahnya.
"Eh Kimberly, Tante sudah lama menunggu! Ayo duduk, kita makan bersama!" Ajaknya sambil bangkit dan menggeser kursi untuk Kimberly duduki.
"Apakah Kami bisa makan sekarang?" Tanya sang Tante yang merasa di acuhkan.
"Makan yah tinggal makan, kenapa harus banyak bertanya!" Jawabnya dengan nada ketus.
Mendengar jawaban tersebut, ibu dan anak saling memberi isyarat mata dan mereka seperti sedang mengobrol dengan ekspresi wajah.
Kimberly yang melihatnya nampak tak senang, Ia menggebrak meja hingga mengejutkan mereka berdua.
Brakkk...
"Apa kalian sudah bosan tinggal di rumah ini?" Tanyanya dengan ancaman.
__ADS_1
Keduanya menggelengkan kepala dan segera memakan makanan yang sudah tersaji di meja makan. Kimberly membuang nafas kasar karena kesal melihat mereka berdua.
"Jika hal ini terjadi lagi, aku tidak akan segan-segan untuk menendang kalian dari rumah ini!" Bentaknya.
Jenny menganggukkan kepala, meskipun dengan terpaksa. Ada rasa itu di hatinya, karena secara tidak langsung surat wasiat kakek sudah berfungsi karena kehamilan Kimberly.
"Aku yakin, anak mu itu bukan laki-laki! Dan jika semua itu benar, aku masih punya kesempatan untuk menguasai harta dari kakek Wibowo!" Batinnya yang merasa geram.
Akhirnya sarapan mereka pun selesai, Kimberly bangkit dari duduknya dan menatap sinis.
"Kalian berdua, bereskan semuanya! Ingat, di rumah ini tidak ada yang gratis." Bentaknya sambil menatap kearah mereka yang ingin pergi.
"Loh, bukannya sudah ada pembantu di rumah ini!" Jawab Jenny yang tak terima.
Kimberly menyunggingkan senyum. "Apa bedanya kalian dengan mereka? Kalian sama-sama menumpang dan seharusnya kalian sadar diri!" Jawab Kimberly dengan tatapan merendahkan.
Kimberly pun pergi dan meninggalkan mereka yang masih mematung, Jenny terlihat kesal tapi sang Mama mencegahnya.
"Sayang, kau harus bersabar dengan ucapan Kimber!"
"Ma, dia benar-benar sudah keterlaluan! Semenjak Kimberly hamil, dia semakin besar kepala dan dia selalu memandang rendah keluarga kita!" Bentaknya yang kesal.
"Jen, kita harus main cerdas! Kimberly bukan wanita yang bisa di anggap remeh dan kita harus mengatur siasat agar posisi kita bisa berbalik."
"Caranya....?" Tanya Jenny.
Mamanya hanya tersenyum dan menatap sang anak dengan penuh siasat. Jenny yang melihatnya nampak heran dan memilih untuk pergi.
__ADS_1