Suami Bayaran Nona Muda

Suami Bayaran Nona Muda
Bab 35


__ADS_3

1 bulan kemudian...


Waktu cepat berlalu, tak terasa Belinda dan kakek Wibowo sudah 1 bulan menikah. Meskipun begitu, Belinda belum mendapatkan haknya sebagai seorang istri. Ia tahu kakek Wibowo sudah tak muda lagi dan mungkin saja barangnya juga sudah tidak bisa untuk bangun ataupun bergairah. Tapi Belinda ambisius, Ia akan mengejar selagi dia belum mendapatkannya.


Malam ini adalah malam Jumat, malam yang di tunggu-tunggu oleh suami istri. Ia segera menempelkan riasan tipis di wajahnya dengan lipstik yang memerah di bibirnya.


Belinda duduk di depan meja rias, Ia memandangi wajahnya yang cantik sambil tersenyum.


"Wibowo, begitu sulitnya diriku mendapatkan tubuhmu. Padahal apakah kau lihat, betapa cantiknya diriku ini." Tuturnya sambil menatap pantulan wajahnya di cermin.


Kreakk...


Pintu pun terbuka, Belinda bangkit dari duduknya dan menghampiri lelaki yang sekarang sudah menjadi suaminya.


"Sayang, kenapa kau lama sekali?" Tanyanya sambil mengelus pipi sang suami yang sudah keriput.


Kakek Wibowo menepis dan menjauhkan tangannya.


"Sudahlah, jangan terlalu berharap! Aku tidak ingin melakukannya denganmu, usiaku sudah tua dan begitupun juga dengan dirimu." Jawabnya sambil menghela nafas panjang.


Belinda nampak kecewa tapi ia masih semangat untuk menggodanya.


"Sayang, lihatlah aku! Wajahku cantik dan body ku benar-benar seksi. Jika aku berjalan keluar rumah, pastinya banyak lelaki yang menggodaku dengan senyuman mesum." Tuturnya sambil memutar tubuhnya sendiri.

__ADS_1


Kakek Wibowo menyunggingkan senyumnya. "Cantik...! Ya kau memang cantik..." Pujinya.


Belinda terlihat bahagia dan segera menghampiri.


"Akhirnya kau mengakuinya juga, bagaimana kalau kita sek..." Ucap Belinda terhenti.


"Aku tak sudi, bersetubuh dengan wanita yang bersekutu dengan setan. Memangnya kau pikir, aku bisa mudah di bodohi. Sadarlah, kecantikan bukanlah segalanya." Teriaknya sambil bangkit.


Air mata seketika lolos dari kelopak mata Belinda. Ia benar-benar kecewa, semua yang dilakukan dirinya selama ini hanya untuk Wibowo.


Cintanya sangat dalam dan dengan satu kaca, Ia benar-benar kecewa.


"Jadi kau tidak menginginkanku?" Tanyanya dengan nada pelan.


"Iya, aku jijik sama kau! Meskipun sekarang kau istriku, jangan pernah berharap jika kau akan mendapatkan nafkah batin dariku. Kalau kau tak terima, pergi saja dan carilah lelaki yang bisa menerima kegilaan mu itu." Jawab Kakek Wibowo tanpa ragu.


"Baiklah jika itu yang kau mau! Aku akan pergi, tapi jangan harap kau dan keluargamu bisa bahagia setelah ini." Ancamnya dengan nada tinggi.


Belinda pun pergi tanpa mengambil pakaiannya, matanya yang sayu mulai berubah. Tatapannya terlihat jahat dan kejam. Ia mulai berjalan menuruni anak tangga dengan amarah yang bergebu-gebu.


Semua keluarga besar kakek Wibowo nampak ada di sana, karena kebetulan hari ini adalah peringatan meninggalkannya mendiang istri kakek Wibowo.


Semua mata tertuju pada Belinda yang masih mengenakan baju haram dan tipis. Semua lelaki yang ada di sana nampak menatap penuh nafsu dan ada juga yang keluar iler saking tergoda nya.

__ADS_1


"Cantiknya...!" Ucap mereka.


Belinda menyunggingkan senyumnya, tanpa rasa malu ia berjalan menghampiri mereka dan memberikan kartu nama.


"Jika kalian menginginkan diriku, telpon saja! Aku tidak mengungkapkan uang ataupun sebagainya. Yang kuinginkan, hanya kalian bisa memuaskan diriku." Tuturnya dengan nada menggoda dan menggigit bibir bawahnya.


Semua lelaki itu nampak mematung, Belinda pun pergi dan tak lupa memberikan kecupan di bibir Om Aryo.


"Ingatlah jangan lupa hubungi aku!" Tuturnya sambil mengedipkan mata.


Om Aryo menganggukkan kepalanya dan dengan seketika kepalanya mendapatkan pukulan dari sang istri.


"Kau, dia itu ibu tirimu...!" Teriak istrinya.


"Itu ka ibu tiri, lagi pula Papa tidak pernah menginginkannya. Tidak ada salahnya kan, jika aku menikahinya." Jawabnya tanpa sadar.


Sang istri pun mengakui sambil memelukku tubuh Om Aryo. Mendengar keributan itu, Jenny pun datang menghampiri dan melerai sang ibu.


"Ma, ada apa ini?" Tanyanya heran.


"Papa mu jen, dengan tak tahu malunya dia bilang ingin menikah lagi dengan ibu tirinya." Teriak Mama Jenny.


Jenny menoleh kearah sang Papa.

__ADS_1


"Pa...?" Ucapnya geram.


Om Aryo seakan tak mendengar, Ia berjalan mengikuti Belinda tanpa mengedipkan mata. Lelaki itu seperti terhipnotis dan meninggalkan mereka yang terus mengoceh.


__ADS_2