
Kimberly dan Reyhan nampak menikmati sarapannya, hingga jenny dan Samuel pun tiba. Kimberly terlihat mendelikan matanya karena kesal.
"Kenapa kalian belum keluar dari rumah ini? Semuanya sudah jelas kan, jika aku akan mewarisi semua hak ku asalkan aku sudah menikah dan punya anak." Tutur Kimberly.
Jenny menggebrak meja. "Kau kan baru hamil belum punya anak. Mungkin sebentar lagi kau akan gila karena mendapati anaknya mati keguguran.
Kimberly seketika langsung bangkit dan ingin menampar pipi Jenny. Tapi Reyhan menahannya dan menggelengkan kepala.
"Sayang, kamu tidak boleh terpancing emosi. Ingatlah, bayi kamu lemah jangan sampai Jenny tersenyum melihat kehancuranmu." Tutur Reyhan.
Akhirnya Kimberly menghela nafas panjang dan duduk kembali. Ia menyantap makanannya dengan anggun.
Jenny yang melihat Kimberly tak bisa melakukan apapun kepada dirinya nampak mencari masalah. Ia terus menyindir dan membicarakan keburukan Kimberly.
Tapi Kimberly menanggapi dengan senyuman, Ia tak ingin menyesali segalanya.
"Bicaralah sampai mulutmu berbusa, ingat tinggal 5 bulan lagi kalian tinggal di rumah ini." Jawab Kimberly.
Jenny seketika tak bisa berkata-kata, Ia memilih untuk pergi dan membawa Samuel yang sedang menikmati sarapannya.
"Ayo kita pergi, suasananya terasa panas!"
"Sebentar sayang, aku masih lapar."
__ADS_1
Jenny memonyongkan bibirnya dan membulatkan bola mata.
"Kau ingin jadi gelandangan." Ancamnya.
Samuel tak bisa berbuat apa-apa, Ia mengekor dari belakang. Hatinya penuh dengan amarah yang membara, tapi Ia coba tahan setelah mendapatkan segalanya.
"Aku lemah bukan karena kalah, aku akan menunggu disaat dirimu hancur karena Kimberly. Jika saat itu tiba, aku akan bersama Kimberly lagi. Dan urusan Reyhan, itu tidaklah penting." Batinnya.
...
Hari menjelang siang, Kimberly dan Reyhan nampak tengah bersantai di ruang tamu. Mereka bermesraan sambil mengobrol manja.
Dan tiba-tiba Kakek Wibowo datang sambil menggandeng tangan Belinda sang istri.
Reyhan dan Kimberly menatap tak suka, tapi mereka mencoba menyembunyikannya di hadapan Kakek. Kimberly berlari dan memeluk sang kakek tanpa peduli kepada Belinda.
"Kakek, Kimberly rindu sekali. Bagaimana perjalanannya, apakah menyenangkan?" Tanyanya sambil mengajak kakek untuk duduk.
"Sama saja, lagi pula Kakek tidak terlalu suka tidur di hotel. Lebih nyaman di rumah sendiri bersama cucu kesayangan ku ini." Jawabnya sambil mencubit pipi Kimberly.
Belinda nampak tak senang, Ia memeluk kepala kakek dari belakang. "Mas, aku capek! Kita ke kamar yuk." Ajaknya sambil bergelayut manja.
"Kimberly kakek ke kamar dulu yah, sepertinya nenekmu tidak terbiasa beraktivitas maklum dua kan sudah tua." Tuturnya sambil tersenyum.
__ADS_1
Reyhan dan Kimberly nampak mesem mendengar ucapan sang kakek. Belinda langsung berjalan kesal dan masuk ke kamarnya. Ia melemparkan kopernya dan terduduk di sofa.
"Brengsek, mereka sengaja membulyku. Lihat saja nanti, kan ku buat kalian semua menyesal." Cibirnya dengan aura membunuh.
Tak lama, kakek pun tiba. Ia duduk di samping Belinda yang tengah kesal. Tak ada pembicaraan di antara mereka, yang ada hanya keheningan.
Kakek nampak bosan dan ia bermaksud untuk pergi. Belinda meraih tangan kakek dan menghentikan langkahnya.
"Mas, apa gunanya aku menikah denganmu! Dari dulu aku selalu menginginkan tubuhmu." Tuturnya.
"Kita sudah tidak muda lagi, lagi pula aku tidak kepikiran untuk hal semacam itu." Jawabnya dengan santai.
Belinda kesal dan menarik tangan Kakek Wibowo hingga terjatuh ke sofa. Ia mencium bibir kakek lebih dengan nafsu dan tangannya mulai masuk ke dalam celana.
Kakek mencoba berontak, tapi Ia sudah tidak muda lagi. Kakek hanya diam dan tak melayani setiap kecupan yang mendarat di bibirnya.
Belinda nampak kesal, Ia menggigit bibir kakek hingga berdarah. Setelah puas melepaskan amarahnya, Ia tersenyum melihat kakek kesakitan.
"Belinda, apa kamu sudah gila!"
"Iya, aku memang sudah gila. Kenapa kau melakukan semua ini kepadaku, katanya kau taat beragama. Tapi kau tak memberikan nafkah batin kepadaku, itu dosa besar." Jawabnya.
Kakek tak menjawab, Ia hanya memegangi bibirnya yang terus mengeluarkan darah. Kakek pergi ke kamar mandi dan segera membasuh lukanya.
__ADS_1
"Belinda benar-benar gila! Bagaimana aku bisa hidup bersama dengannya?" Gerutunya kesal.