
Sementara itu mas yoga masih asyik dengan Alzam.
Kulihat handphonenya yang dari tadi berbunyi.
Mas ada telfon tuh, bunyi terus dari tadi. "
"Iya dek, Alzam sayang ayah angkat telfon dulu ya? Kamu main dulu sama ibu. "
Lalu mas yoga bergegas meninggalkanku,
dia berada di teras depan.
Sudah sekitar dua puluh menit lebih tapi kenapa belum masuk rumah, batinku dalam hati.
Lalu aku menghampirinya, sebelum aku panggil mas yoga aku mendengar seorang wanita berbisik dengan nya ditelfon.
Samar-samar kudengar wanita itu mengatakan bahwa dia sangat kangen dengan suamiku.
Tak disangka mas yoga mengetahuiku bahwa aku berada dibelakang nya.
Terjatuhlah gelas kopi yang aku buat kan tadi, karena saking gugup nya dia.
"Hati-hati dong mas, makanya kalau minum kopi itu duduk. Siapa yang telfon kok kangen-kangenan segala?"
(tanya ku padanya).
"Teman lama dek, ya udah aku mandi dulu. "
Tanpa menjelaskan sepatah kata, dia meninggalkan ku sendiri.
Lalu aku segera masuk rumah, bermaksud mengecek handphone mas Yoga.
Tetapi dugaan ku salah, ternyata handphone nya dibawa mandi.
Ya ampunn, mandi aja harus bawa handphone, kecemplung kloset biar tau rasa. (Gumamku dalam hati ).
Sembari menunggu mas Yoga, aku menyiapkan makan malam.
Kebetulan tadi ibu membeli ayam bakar dan rendang yang aku bawa tadi pagi.
"Nduk, makanan udah siap belum?"
(Tanya bapak kepadaku).
"Sudah pak, ayo pak kita kemeja makan! "
"Iyaa nduk, ibumu baru sholat isya'.
Sebentar lagi juga kesini, kamu panggil Yoga suruh dia ikut makan. "
"Iya Pak, dia lagi mainan sama alzam tadi."
Akupun segera memanggilnya. Dia masih saja sibuk dengan ponsel nya, padahal baru momong anaknya.
"Mas dipanggil bapak suruh makan malam. Biar Alzam aku yang jaga, sekalian mau aku suapin. "
"Oke dek ."
"Ayo ga! makan yang banyak biar kenyang." (ajak bapak pada mas yoga).
"Iya Pak ini udah kenyang pak.
Bapak masih sibuk dengan jual beli sapi? "
"Ya masih to ga, soalnya bapak kalau dirumah terus nggak betah.
Biarpun bapak udah tua semangat masih empat lima dong hehe. "
"Ya harus begitu dong pak. "
__ADS_1
Suasana dimeja makan begitu terasa hangat.
berkumpul nya anak, menantu dan cucu membuat suasana hati bapak dan ibu terlihat bahagia.
Dulu sebenarnya sebelum aku dan mas yoga menikah, Bapak menyuruh kami tinggal disini. Bapak sudah membuat kan rumah untuk ku dekat dengan beliau.
Karena kebetulan aku adalah anak tunggal dan satu-satunya.
Bagi beliau aku adalah anak kesayangan, aku begitu dimanja dan hidup ku dulu serba kecukupan.
Sampai-sampai waktu mau menikah rumah pun sudah disiapkan.
Tetapi realita tak sesuai ekspetasi, mas yoga berubah pikiran.
Dia malah meminta ku untuk tinggal dengan orang tuanya,dengan alasan karena ibunya sakit-sakitan dan bapak nya sudah tiada.
Dengan berat hati sebenarnya aku menolak ajakannya untuk tinggal dengan mertua.
Aku sempat bertengkar kala itu, tapi karena aku orang yang tak tegaan jadi aku mengiyakan keinginan nya.
Seketika lamunan ku terbuyar, kala mendengar panggilan anak ku.
"Ibu, ibu aku udah kenyang.
Aku mau mainan sama mbah kakung, kan tadi mbah uti beliin aku mainan pesawat tempur jadi aku mau main itu. "
"Alzam, kan tadi seharian sudah mainan.
Jadi sekarang waktunya istirahat,mbah kakung sama mbah uti juga harus istirahat."
"Nggak mau pokoknya Alzam mau mainan. "
(sambil menangis dan meraung-raung )
"Udah dek nggak papa, biarin nanti mainan sama aku aja.
"Kan kamu juga capek mas."
( awab ku padanya).
"Nggak papa dek, kamu kalau mau istirahat silahkan dek. "
"Yeyeye aku mainan sama ayah,ibu nonton TV aja sana!"
Tanpa berkata-kata aku meninggalkan mereka berdua diruang tamu.
Lalu aku pergi kekamar untuk menonton film favorit ku.
Tiba-tiba aku teringat dengan buku diaryku waktu dulu .
Aku pun mencari nya dan kubuka lembar demi lembar. Aku tercengang dengan tulisan ku yang begitu mengingatkan ku dengan suatu hal.
"*Ki*****cauan burung diangkasa,
rintik-rintik hujan yang membasahi bumi.
Daun-daun yang bersemi,
Seolah merubah keadaan yang sedemikian rupanya.
Kulihat jam berdenting di sela-sela lamunan ku.
Lantunan merdu Al-Quran yang begitu menggema diruangan ku.
Membuat hati ku menjaga tenang nan syahdu****.
*K*****u berharap akan keindahan yang selalu menyelimuti ku dan menghampiriku.
Sayup-sayup ku dengar indahnya dermaga pelabuhan****.
__ADS_1
*Pe*****rahu-perahu yang berjejer dan berlayar
terlihat begitu megah berlayar mengarungi samudra.
Ingin sekali ku menjadi perahu yang berlayar tanpa memperdulikan nasib dan keadaan****.
*Pe*****rih hati hanya akan menjadi penghalang bagi kehidupan ini,
puing-puing keindahan tak nampak hanya karena rayuan nestapa yang menghantui****.
*Pe*****rtanyaan dan pernyataan yang selalu membuat rasa menjadi bimbang dan resah
bagaimana tidak? penantian ku dibayar dengan kekecewaan****.
*In*****gin rasanya aku menjadi kupu-kupu yang terbang bebas tanpa beban****..
*Su*****ara rintik-rintik hujan membasahi tanah yang kupijak.
Teriak sepoi-sepoi angin malam
itu semua adalah keberkahan dan kekuasaan sang Pencipta, Tuhan yang maha kuasa****.
Ya Rabb tunjukkan jalanmu jika ini yang terbaik.
*D*****ekatkanlah aku dengan perlindungan mu
karuniakan ku keikhlasan dan kesabaran
berikan lah hati yang seluas samudera agar ku menjadi seorang pemaaf.
Tanpa menjadi seorang pendendam****."
Aku begitu terkesima dengan tulisan ku ini. Yang masih begitu rapi tanpa campur tangan orang lain.
Aku memang cukup menggemari menulis Waktu itu.
Sempat dulu aku ikut perlombaan menulis puisi satu sekolah.
Hingga akhirnya aku memenangkan perlombaan itu dan mendapatkan penghargaan. Lalu aku dipilih untuk mewakili tingkat kecamatan.
Walaupun tidak mendapatkan juara 1 waktu itu, tapi aku sudah masuk Tiga besar .
Hal itu yang membuat ku semakin bangga karena bisa mengasah kemampuan.
Harapan-harapan yang memotivasi selalu terngiang-ngiang pada benak ini.
Menjadi anak yang sukses dan berbakti kepada orang tua adalah impian bagi semua orang.
Walaupun kenyataan nya saat ini,aku belum bisa membahagiakan orang tua ku.
Dan hanya bisa menyusahkan beliau-beliau.
Tak terasa bulir-bulir air mata jatuh membasahi buku diary ini.
Aku terbangun dari duduk dan langsung ku tutup buku itu lalu ku kekembalikan.
Lantas ada apa dengan diri ini yang begitu rapuh? Fikiran ini menghantui segala lika-liku perjalanan cinta.
Hamburan-hamburan pertanyaan dan kenangan menjadi satu saat ini.
Antara aku ini bisa menerima atau sebagai wanita penurut.
Hanya Kata-kata itu yang menjadi motivasi ku saat ini.
Dalam hati aku hanya bisa berkata:
("Mas apakah benar engkau telah menghianati ku, kenapa engkau begitu tega padaku.
Sungguh aku tak menyangka kamu memperlakukan ku dengan teganya).
__ADS_1