
Kesetiaan dan kesuciannya ini telah dirampas begitu saja.Puing-puing kenangan akan permulaan dan awal pertemuan selalu menghantuiku saat ini.
Diri yang begitu rapuh, terlihat semakin rapuh.
cinta yang begitu aku banggakan ternyata hanya angan semata*.
Tenang din, tenang kamu harus tetap tenang. Jangan tersulut emosi semua butuh proses. Kamu wanita kuat.
(batinku berbisik seperti itu).
Sayup-sayup kudengar hiruk pikuk tawa anak ku yang sedang bermain , didampingi oleh ayahnya.
Dia begitu senang dan bahagia, serasa tidak mempunyai beban berat seperti orang dewasa.
Memang menjadi anak kecil jauh lebih menyenangkan ketimbang menjadi dewasa. apalagi jika didewasakan oleh keadaan.
Tiba-tiba aku teringat akan sesuatu , yaitu aku belum menggantikan sprei kasur ini.
Langsung saja aku menggantinya dan membersihkan tempat tidur ini.
lalu setelah itu aku segera kedapur untuk mengambil minum dan menyiapkan susu untuk Alzam.
"Alzam, ayo kita tidur yuk. Sekarang udah malem lhoo." ( ajakku padanya).
"Tunggu dulu bu, aku masih mau main sama Ayah.
Pokoknya aku masih mau main titik. "
"Alzam sayang, ayo kita tidur!
Besok Ayah janji bakal ajak alzam Sama ibu jalan-jalan. "
"Tumben banget mas."
(jawab ku pada mas yoga).
"Nggak papa lah dek mumpung besok weekend kan.
Kita bisa jalan-jalan kekebun binatang atau kemana aja, terserah kamu pokoknya dek. "
"Yeyeye asyik aku besok jalan-jalan. Ya udah kalau gitu aku mau tidur aja."
Lalu kami bertiga segera masuk kedalam kamar, sebelum itu aku mengambil sedikit camilan untuk Alzam. Karena mungkin nanti dia akan nglilir atau mau pipis pasti selalu minta camilan.
"Ibu, sebelum tidur Alzam mau dibacain dongeng sikancil dong!"
"alzam tadi udah pipis belum?"
(tanya ku kepadanya).
"Udah kok bu,ya udah cepat aku dibacain dongeng nya."
Akupun segera mengambil buku dan langsung ku bacakan.
"Pada zaman dahulu, hiduplah seorang petani yang hidup sendirian ditepi hutan.
Sebut saja namanya pak sahid, dia petani yang baik dan begitu ramah.
Suatu ketika musim hujan datang dengan derasnya.
__ADS_1
Karena waktu itu pak sahid hanya mempunyai persediaan singkong , jadi ia hanya bisa memasak singkong itu.
Baik direbus atau dibakar.
Lambat laun, ladang pak sahid yang ditanami mentimun akan segera berbuah .
Kebetulan karena musim hujan, pak sahid menunggu mentimunnya di sebuah gubuk.
Tiba-tiba dari kejauhan terdengar suara minta tolong, atau seperti raungan seekor kambing hutan yang liar.
Tanpa disadari, pak sahid langsung reflek mencari sumber suara itu.
Ternyata benar ada seekor keledai yang terperangkap jebakan tikus. Pak tani langsung menolong nya dan membawa kegubukya.
Singkat cerita keledai itu malah mencuri semua mentimun pak sahid, dan memakan semua. "
Belum sempat aku menyelesaikan cerita ku, kulihat Alzam sudah tertidur.
Lalu segera ku selimuti dan kupakaikan lotion anti nyamuk.
"Seperti nya aku juga mengantuk mas, aku mau tidur." (ucapku pada mas yoga).
"Oke baiklah dek, segera tidur pasti kamu capek."
Mata ini sebenarnya belum ingin terpejam. Tapi karena aku sudah pamitan mau tidur, jadi mau tak mau aku harus tidur.
Kulihat mas yoga masih asyik dengan handphone nya, seperti nya dia sedang video call.
Tanpa berfikir lebih panjang lagi aku memberanikan membuka suara.
"Mas, telfonan sama siapa?"
"Lhoh katanya mau tidur dek, kok belum tidur juga."
"Jawab dulu mas, telfon sama siapa?"
"Apaan sih dek, kenapa kamu jadi bawell seperti ini.
Bisa percaya sama suami nggak kamu?
Mas kerja banting tulang itu untuk siapa? kalau nggak untuk kalian berdua."
"Kamu yang apaan mas, tinggal Jawab aja telfon sama siapa kok malah ungkit-ungkit kerjaan.
Asal kamu tau ya mas, aku diam seperti ini bukan karena aku nggak tau apa-apa.
Dan semua ucapan mu itu hanya kebohongan belaka."
"Apa maksudmu?"
( tanya mas yoga kepada ku).
"Kamu sama mila itu selingkuh kan, hubungan kalian sudah terlalu dekat dan sudah lama mas? "
"Bicara apa kamu, apa buktinya? Sampai-sampai kamu menuduh ku seperti itu dek."
Tanpa menunggu lama, aku langsung menelfon rossa untuk mengirim foto mila dan mas yoga siang tadi.
"Iyaa Ross, cepat kirim aja.
__ADS_1
Oke terimakasih Ross."
"Oke Din sama-sama."
(Jawab rossa padaku saat ini).
"Ini lihat, lihat mas cepat!
Kamu masih mau berbohong gimana lagi mas."
(tanpa aku sadari air mata ini ikut jatuh, bukan karena aku terlalu lemah. tapi Karena aku sudah memendam kekecewaan ini terlalu lama).
"Aku dekat dengan nya karena dia sebagai rekan kerja saja dek.
Dan untuk foto itu, karena aku rasa dia sedang sedih jadi aku langsung merangkul nya.
Tidak ada maksud lain aku padanya. "
"Lantas kenapa orang sedih bisa senyum-senyum dipelukanmu mas?
Apa menurut mu itu hal yang baik?
Laki-laki yang sudah menikah berduaan dengan wanita lain, dengan beralasan karena menghibur wanita yang lagi bersedih.
Omong kosong mas."
"Sudahlah dek jangan seperti anak kecil yang dikit-dikit marah, dikit-dikit ngambek seperti itu.
Aku sebagai suami merasa cukup tersinggung atas apa yang kamu tuduh kan kepada ku."
"Baik lah mas, tapi suatu saat jika aku mempunyai bukti yang benar membuat mu melakukan perselingkuhan aku nggak akan tinggal diam. Ingat itu mas! "
Usai kejadian itu, aku hanya bisa menangis dan merasa sangat amat kecewa.
Kenapa suami ku begitu tega kepada ku? (Dalam hati aku bertanya-tanya).
"Aku minta maaf dek, jika ucapan ku membuat mu sedih.
Tapi menurut ku kamu jangan seperti itu lagi. Jangan terlalu over protective kamu harus bisa menjadi istri yang percaya dengan suami.
Ingat yang terpenting bagi kamu, suami sudah menafkahi lahir dan batin itu sudah termasuk cukup.
Aku hanya minta seperti itu dek, yang harus kamu pegang adalah tanggung jawab ku. "
Setelah beberapa saat aku terdiam, akhirnya aku membuka suara.
"Lantas apa yang harus aku lakukan mas? Dengan mata dan kepala aku saksikan sendiri bagaimana kamu dengan mila bak seperti pasangan suami istri.
Lalu aku harus beranggapan seperti apa lagi?
Setiap hari kamu telfon, kamu chat-chatan dengan nya. Apa aku nggak boleh marah mas? apa aku nggak boleh cemburu?
Dan waktu kalian kerja aku juga melihat , apa yang sedang kalian lihat.
Bulsittt jika itu tidak ada hubungan spesial mas."
"Percuma lah dek, menjelaskan pada istri yang tidak bisa percaya dengan suaminya. "
"Baiklah mas, jika anggapan mu seperti itu. Aku turuti keinginan mu,dan jangan salahkan aku jika suatu saat aku mengetahui rahasia kalian."
__ADS_1