Suamiku Bukan Ayah Dari Anakku

Suamiku Bukan Ayah Dari Anakku
Menahan


__ADS_3

Halo 😊


Pada bab 9 ada revisi, jadi kalian baca dulu bab 9 ya baru baca bab ini.


Selamat membaca 💕


***


Mata Feriska menatap tajam pada anaknya. “Harus berapa kali ibu ingatkan, kalau kalian harus segera melakukan program kehamilan. Dan satu lagi Areliano.” Ada jeda sejenak ketika Feriska menarik nafasnya. “Kenapa tidak membawa Keisha pergi honeymoon, kalian butuh waktu berdua untuk saling mengenal.”


Areliano merapatkan tubuhnya pada Keisha. “Kita sudah saling mengenal jadi tidak perlu pergi honeymoon.”


Keisha mengangguk setuju. Ia menyandarkan kepalanya tanpa ragu pada bahu Areliano untuk meyakinkan ibu mertuanya.


“Tetap saja, membuat anak itu harus konsentrasi penuh tanpa beban. Jadi kalian harus tetap pergi berlibur.” Feriska tetap bersikukuh.


Bel apartemen kembali terdengar. Areliano beranjak dan menghampiri pintu. Ia membuka pintu dan melihat ayahnya yang membawa koper serta satu tenteng tas di tangannya.


“Bawa!” titah Arsya. Areliano membawanya ke meja makan tempat mereka mengobrol.


“Kenapa lama sekali?” Keluh Feriska pada Arsya.


“Kau bawa baju berapa banyak? kopernya terasa sangat berat dan menghambat langakahku,” keluh Arsya.


“Untuk apa ibu bawa baju?” Tanya Areliano, ia merasa sesuatu yang janggal dengan kedatangan orang tuanya semakin terlihat jelas.


“Ibu dan Ayah akan menginap,” jawab Feriska dengan senyuman penuh artinya.


“Tidak bisa,” jawab Areliano cepat.


“Kenapa tidak bisa, di sini ada dua kamar kan?” tanya Feriska memastikan. Sebetulnya ini kekhawatiran Feriska, ia takut jika Areliano dan Keisha tidak satu kamar.

__ADS_1


“Toiletnya rusak, ibu dan ayah tidak akan nyaman.”


“Oh hanya toilet, itu tidak masalah,” kali ini Arsya ikut menimpali.


Mendengar jawaban Ayahnya Areliano ingin kembali menolak, tapi ia tidak bisa membuat penolakannya terlihat sangat mencolok. Areliano meyakinkan dirinya jika semuanya akan baik-baik saja. Lagian kamar mandinya sudah terkunci dan orang tuanya tidak akan menemukan barang-barang milik Keisha.


Feriska yang merasa curiga menarik koper yang ada di samping suaminya. Ia masuk ke dalam kamar kedua.


Jantung Keisha terasa berpacu lebih cepat, namun ia berusaha menampilkan wajah tenangnya.


Saat masuk Feriska melihat kamarnya tampak rapi, namun mata jeli Feriska menemukan lipstik tergeletak di lantai. “Sudahku duga,” batin Feriska.


Feriska menyimpan koper dan kembali ke ruang makan dengan wajah manisnya seolah tanpa ada masalah sedikit pun. Meski dalam hatinya ia sangat ingin marah. Tangan Feriska menarik tas yang di simpan Areliano di atas mejam. Ia mengeluarkan isinya.


Mata Areliano dan Keisha melongo melihat sepuluh botol bening yang terisi cairan keruh berjejer rapi di tata Ibunya.


“Apa itu sayang?” Bukan Areliano dan Keisha yang bertanya tetapi Arsya.


Feriska memberikan satu botol ke hadapan Areliano dan satu botol lagi pada Keisha. “Minumlah, ini jamu penyubur. Bagus juga untuk meningkatkan hormon testosterone, jadi kamu juga harus meminumnya.”


Areliano membuka penutup botolnya, aromanya cukup menyengat. Ia kembali menutup botolnya dan menyimpannya kembali ke atas meja. “Aku tidak mau meminumnya. Ayah saja yang minum.”


“Kamu lemah sekali,” ketus Arsya. Ia mengambil alih botol tersebut dan meminumnya dalam sekali tenggak. “Lihat ayah saja bisa. Kamu cepat minum,” Titah Arsya.


Melihat ayahnya baik-baik saja akhirnya Areliano mencobanya. Baru masuk di rongga mulut saja rasa dan bajunya dan rasanya sangat aneh, ia segera pergi ke wastafel dan memuntahkannya.


“Lemah!” ejek Feriska. Ia menatap sang menantu. “Ayo minum, habiskan.”


Keisha tersenyum tipis, ia membuka penutup botolnya. Pantas saja Areliano sampai muntah, baunya cukup menyengat. Keisha mencoba meminumnya, matanya menangkap penuh harap dari ibu Areliano. Sebetulnya Keisha sangat enggan untuk meminumnya, tapi ia merasa tidak enak pada orang tua Areliano. Ia berada di posisi ini karena ulah orang tuanya, Keisha merasa bersyukur di perlakukan dengan baik oleh Ayah dan ibunya Areliano. Keisha tidak ingin mengecewakan mereka. Satu botol jamu berhasil di habiskan oleh Keisha. Ia segera mengambil air mineral untuk menetralisir mulutnya.


Areliano kembali ke meja makan dengan wajah kesalnya. “Itu racun ibu,” tuduh Areliano sembarangan.

__ADS_1


Feriska memukul bahu anaknya. “Seenaknya saja, lihat istrimu dia menghabiskannya, tapi dia baik-baik saja.”


Areliano menengok pada Keisha matanya tertuju pada botol milik Keisha yang sudah kosong. Keisha membalas tatapan Areliano dengan senyumannya.


“Kau harus bisa menghabiskannya,” perintah Feriska lagi.


“Tidak mau,” tolak Areliano. Rasanya sangat aneh, dan Areliano tidak ingin memuntahkan makan malamnya.


“Jadi kapan kalian akan pergi honeymoon?”


Areliano merasa bosan mendengar pernyataan itu lagi yang kini keluar dari mulut ayahnya. “Tidak akan pernah. Lagi pula Keisha juga sibuk, ia baru masuk bekerja. Tidak bisa seenaknya saja mengambil cuti.”


“Di perusahaan mana Keisha bekerja? Ayah sendiri yang akan mengurusnya jika kamu tak bisa di andalkan.” Kali ini Arsya harus maju, ia sadar akan usianya yang sudah tua. Dan tidak ingin mati lebih dulu sebelum menggendong cucu dari putranya.


“Havelar grup. Keisha baru bekerja satu hari, jadi jangan coba-coba membuatnya di pecat oleh Reagan. Harusnya ayah tahu sifat anak itu,” ucap Areliano memperingati Ayahnya.


Arsya akan mencoba bernegosiasi dengan Reagan. Dan lihat saja dapat ia pastikan Reagan akan memberikan cuti untuk menantunya.


“Lebih baik kalian istirahat saja,” titah Feriska. Ia melihat wajah Keisha yang menahan kantuk.


Areliano menuntun tangan Keisha untuk masuk ke dalam kamar Areliano. Saat pintu tertutup Keisha menatap Areliano. “Aku sangat mengantuk,” ucap Keisha.


“Tidurlah di kasur.”


Keisha mengangguk kecil, ia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dan menutupi tubuhnya dengan selimut tebal milik Areliano.


Areliano masih berdiri di tempatnya, ia merasa sedikit tidak nyaman dengan kehadiran Keisha di kamarnya. Akhirnya Areliano memilih duduk di sofa menyandarkan tubuhnya, menutup kelopak matanya. Hari ini sangat melelahkan, dan Areliano ingin tidur. Tapi ia tidak bisa tidur dengan posisi duduk. Setengah jam berlalu Areliano masih saja terjaga. Matanya sangat mengantuk, akhirnya Areliano mencoba merebahkan tubuhnya di samping Keisha.


Setelah Keisha dan Areliano masuk ke dalam kamar. Feriska hendak merapikan kembali kursi makannya. Namun tepat di kursi yang bekas di duduki Keisha mata Feriska menangkap sebuah kunci. Ia mengambilnya dan segera menyimpannya ke dalam saku.


Arsya ikut membantu membereskan meja makan, dengan cekatan ia memindahkan botol minuman yang di bawa istrinya ke tempat minuman. “Mau ke mana sayang?” Tanya Arsya saat melihat istrinya menghentikan aktivitas beres-beresnya.

__ADS_1


“Mengecek sesuatu,” jawab Feriska. Ia masuk ke dalam kamar, Feriska sampai di depan kamar mandi. Feriska mencoba memasukkan kunci yang ia temukan dan mencobanya membukanya.


Klek, kunci pintu tersebut terbuka. Feriska masuk, ia berjalan menuju walk in closet dan menemukan pakaian serta perlengkapan Keisha yang tertata rapi di sana. “Arelianooooo,” teriak Feriska tertahan di kepalanya. Andai saja ini siang hari ia akan mengeluarkan suara menggelegar miliknya.


__ADS_2