
Satu Minggu berlalu Keisha pergi untuk les memasak. Malam ini Keisha membuatkan osso buco klas Italia yang di temani mashed potato.
Semua makanan sudah terhidang di atas meja makan, lengkap dengan makanan penutupnya. Keisha mengetuk pintu kamar Areliano. “Apa kau sudah selesai mandi? Makannya sudah siap,” teriak Keisha.
Areliano keluar dengan pakaian tidurnya. Ia berjalan menuju meja makan dan melihat hasil masakan Keisha yang terlihat sangat menggiurkan. Ia duduk dan mengambil makan malamnya.
Keisha ikut bergabung dan duduk di kursi yang berhadapan dengan Areliano. Areliano mencicipi lebih dulu mashed potato, lalu mencoba osso buco. Daging yang lembut serta rempah-rempah terasa pas di mulutnya. Makan malam kali ini Areliano menghabiskan makan malamnya, tanpa tersisa sedikit pun.
Keisha cukup bangga dengan masakannya, apalagi ia melihat Areliano yang lahap.
Areliano melanjutkan mencicipi makanan penutupnya. Ia memandang wajah istrinya. “Ada yang ingin kau katakan?”
Keisha mengangguk, ia menyimpan sendok yang di pegangnya ke atas piring. “Bolehkah aku kembali bekerja, aku merasa bosan seharian di rumah.” Meskipun Keisha belajar memasak tetapi ia merasa ingin kembali bekerja seperti dulu.
“Baiklah jika itu maumu, aku memberikan izin.”
Bibir Keisha tersenyum merekah setelah mendapat izin dari Areliano. “Tapi tidak ada yang mau memperkerjakanku. Semua lamaranku di tolak, bisakah kau memberikanku pekerjaan?”
Areliano teringat Reagan yang beberapa hari lalu kerepotan karena asisten pribadinya mengundurkan diri. “Mulai besok kau bisa bekerja.”
“Terima kasih,” ucap Keisha tulus. Ia senang bukan main, mulai besok ia tidak perlu lagi merasa bosan berada di rumah seharian.
***
Pagi harinya Keisha bangun pagi seperti biasa. Ia menyiapkan sarapan pagi untuk dirinya dan suaminya. Setelah semuanya siap, Keisha pergi ke kamar untuk mandi dan berganti pakaian. Kini ia sudah rapi dengan setelan kemeja berwarna putih tulang yang di padu padankan dengan celana panjang. Ia keluar dari kamar. Bibirnya tersenyum saat melihat Areliano sedang duduk di meja makan. “Maaf membuatmu menunggu.”
Areliano dan Keisha segera memulai sarapan paginya. Peraturan dari Areliano mereka harus makan dalam waktu bersamaan, tidak ada yang boleh lebih dulu. Satu lagi hal yang Keisha pelajari, Areliano terbiasa pulang tepat waktu. Namun pria itu setelah selesai makan malam akan kembali ke ruang kerjanya dan keluar saat jam tidur tiba. Tak banyak interaksi yang terjalin, namun Keisha merasa nyaman dan aman tinggal bersama Areliano. Meskipun mereka sudah menikah Areliano tidak pernah berkontak fisik sedikit pun.
Areliano dan Keisha sudah selesai sarapan. Areliano bangkit lebih dulu. “Aku akan mengantarmu.”
“Tunggu sebentar aku akan merapikan meja makan dulu,” ucap Keisha.
“Tidak perlu, aku sudah menyewa asisten rumah tangga untuk membereskan pekerjaan rumah.” Areliano berjalan lebih dulu.
__ADS_1
Hati Keisha sedikit menghangat, meskipun suaminya sangat dingin tapi pria itu sangat perhatian. Keisha berjalan mengikuti Areliano.
Pagi ini Areliano menyetir mobil sendiri, karena Bert tidak bisa menjemputnya.
Untuk kedua kalinya Keisha berada dalam satu mobil bersama Areliano. Rasanya Keisha masih saja canggung. Tangannya memeluk tas yang ada di pangkuannya.
Sepanjang perjalanan Areliano fokus menyetir, ia memarkirkan mobilnya di depan gedung Havelaar Grup.
Keisha menatap gedung Havelaar Grup yang ada di depannya. “Apa aku akan bekerja di sini?” tanya Keisha memastikan.
Areliano melihat Luisa yang keluar dari pintu masuk. “Ayo turun.”
Keisha ikut turun dari mobil mengikuti langkah suaminya yang menghampiri seorang wanita.
“Halo Areliano, lama tidak berjumpa,” canda Luisa.
Keisha teringat wanita yang berada di depannya ini hadir dalam acara pernikahannya bersama keluarga Havelaar.
“Aku ingin menitipkannya padamu, jaga dia dengan baik,” ucap Areliano.
“Aku pergi dulu, hati-hati di jalan,” ucap Keisha pada Areliano. Ia berjalan mengikuti langkah wanita dengan id card bertuliskan Luisa Demetri Havelaar (Sekretaris).
Areliano kembali ke mobil setelah tubuh Keisha menghilang di antara orang-orang yang berlalu lalang.
Luisa membawa Keisha ke lantai khusus untuk jajaran pimpinan teratas di perusahaan. Mereka masuk ke salah satu ruangan, yang terdapat dua meja kerja. “Ini ruang kerja kita, ini mejamu,” ucap Luisa menunjukkan meja kerja Keisha.
Keisha menghampiri meja kerjanya. Sementara Luisa mengambil id card untuk Keisha. “Ini milikmu, bersiaplah Tuan Reagan akan sampai dalam waktu sepuluh menit lagi.”
Mata Keisha yang fokus memandang id card miliknya yang tertulis sebagai asisten pribadi CEO bergerak cepat menatap Luisa. “Reagan?”
Luisa mengangguk. “Iya. Reagan Lorencius Havelaar, CEO perusahaan kita. Dan kau bekerja sebagai asisten pribadinya.”
Andai saja bisa melarikan diri, Keisha sangat ingin melakukannya. Ia tidak mungkin bekerja dengan pria bejat itu. Tapi dia tidak mungkin juga mengundurkan diri begitu saja, Areliano sudah sangat baik memberikan posisi sesuai kemampuan Keisha. Namun kenapa harus Reagan?
__ADS_1
“Kamu kenapa Keisha?” Tanya Luisa. Ia melihat wajah Keisha tampak pucat.
“Tidak apa-apa. Apakah ada berkas tentang rutinitas yang biasa di lakukan Tuan Reagan?”
Luisa menunjukkan berkas yang menumpuk di atas meja Keisha. “Kau bisa membacanya, agar lebih mengenal Reagan.”
Keisha segera duduk di meja kerjanya, ia membaca berkas mengenai job desk yang harus ia kerjakan. Serta rutinitas dan kebiasaan Reagan.
Sepuluh menit berlalu begitu cepat, bahkan Keisha belum selesai membaca namun Luisa mengajaknya untuk segera pergi ke ruangan Reagan.
Keisha meremas tangannya, ia sangat ketakutan harus berhadapan langsung dengan Reagan. Namun dia berusaha untuk menormalkan wajahnya, meskipun dadanya berdebar cukup kencang.
Luisa membuka pintu ruangan Reagan setelah mendapat ijin dari sang pemilik. Keisha berjalan di belakang Luisa.
Luisa berdiri tepat di depan meja kerja Reagan. Pria itu tengah membuka balazer dan menyampaikan di tempat khusus yang ada di pojok ruangan.
Reagan kembali ke kursi kerja dan melihat Luisa tak sendirian hari ini. “Ah wanita ini lagi,” batin Reagan.
“Selamat pagi Tuan, saya membawa asisten pribadi Tuan.”
Keisha membungkuk memberi hormat pada Reagan. Ia menundukkan kepalanya tidak berani menatap mata elang milik Reagan.
Reagan tidak salah melihat, wanita yang akan menjadi asisten pribadinya istri dari Areliano. “Bekerjalah dengan baik. Kembali ke ruangan, untuk saat ini saya tidak membutuhkanmu.”
“Baik Tuan,” jawab Keisha. Keisha keluar dari ruangan tersebut.
Kini di ruangan tersebut hanya ada Reagan dan Luisa. “Siapa yang merekomendasikannya?”
“Areliano,” jawab Luisa.
Reagan tahu betul sifat Areliano yang tidak suka mencampurkan urusan pribadi dengan perusahaan. Sehingga mengirimkan istrinya ke perusahaan Havelaar.
“Sejauh mana perkembangan produk baru yang akan louching bulan ini?” Tanya Reagan.
__ADS_1
Luisa memberikan berkas dari tangannya kepada Reagan. “Sudah berjalan sembilan puluh persen,” jawab Luisa. Kini mereka larut dengan obrolan masalah pekerjaan.