Suamiku Bukan Ayah Dari Anakku

Suamiku Bukan Ayah Dari Anakku
Puncak Kebahagian


__ADS_3

“Apa melahirkan?”


“Iya,” jawab Keisha.


Reagan terdiam, tidak tahu harus melakukan apa. Dia kebingungan sendiri tidak tahu harus berbuat apa.


“Kenapa malam diam, ayo ke rumah sakit,” pinta Keisha dengan nada kesalnya.


Reagan mengangguk setuju.


“Perlengkapannya ada di koper tolong bawakan ya,” pinta Keisha. Ia menahan rasa sakit yang kembali mendera.


Reagan segera masuk ke dalam kamar Keisha dan mengambil koper yang di maksud. “Ayo,” ajak Reagan.


Keisha berjalan dengan perlahan seraya menahan rasa sakit.


Reagan sudah sampai di depan tapi tidak melihat tanda-tanda Keisha, ia segera kembali ke dalam. Dia membawa tubuh Keisha ke dalam pangkuannya dan berjalan menuju mobil. Dengan perlahan Reagan mendudukkan Keisha di kursi mobil. Lalu ia mengitari mobil dan duduk di kursi kemudi.


Reagan mulai melajukan mobilnya, sesekali ia melirik Keisha yang merintih. “Hubungi Areliano,” ucap Reagan.


Keisha mengeluarkan ponselnya namun rasa sakit di perutnya kembali menyerang. Rasa sakitnya lebih-lebih dari sebelumnya hingga tanpa sadar ia memegang tangan Reagan dengan kuat-kuat.


Tangan Reagan yang tengah menyetir kehilangan fokus karena genggaman erat Keisha. ‘Apa sesakit itu?’ batin Reagan tanpa berani bertanya.


Sakit di perutnya mulai mereda, Keisha kembali menarik tangannya. “Maaf ya,” ucap Keisha merasa tidak enak.

__ADS_1


“Tidak apa-apa,” jawab Reagan. Ia melihat tangannya yang bekas di pegang Keisha sedikit memerah.


Keisha segera menghubungi Areliano. “Sayang,” panggil Keisha begitu sambungan teleponnya terhubung.


[Ada apa, kangen ya?]


Keisha dapat membayangkan wajah Areliano. “Aku mau memberi kabar baik. Aku merasakannya kontraksi dan sekarang sedang menuju ke rumah sakit,” jawab Keisha. Perasaan harunya sangat terasa, ia dan Areliano sudah tidak sabar menunggu kelahiran bayinya.


[Kau pergi ke rumah sakit dengan siapa sayang? Kenapa tidak menungguku.]


“Bersama Reagan.” Keisha sedikit merasa bersalah mendengar nada lembut Areliano yang sedikit berubah. Namun dia juga tidak ingin berbohong.


[Kenapa Reagan ada di rumah? Kau sengaja meneleponnya?]


Reagan yang melihat Keisha kesakitan segera mengambil alih ponselnya dan berbicara langsung pada Areliano. “Sudah jangan banyak bicara, cepat susul kami ke rumah sakit,” ucap Reagan lalu mematikan sambungan teleponnya. Begitu lampu jalanan berwarna hijau Reagan segera menancap pedal gas agar segera sampai di rumah sakit.


Sampai di rumah sakit Keisha di bawa menuju ruang bersalin dan menerima beberapa pemeriksaan. Areliano yang tidak kunjung sampai membuat Reagan menemani Keisha di ruang bersalin. Para perawat mulai menyiapkan semua keperluan untuk persalinan. Sementara Reagan duduk menemani Keisha yang tengah berjuang menangani rasanya kontraksi. Meskipun ia tidak memiliki perasaan khusus pada Keisha namun melihat Keisha yang merintih kesakitan membuatnya iba. Ia membantu menggenggam tangan Keisha.


Keisha melirik ke arah Reagan saat merasakan genggam. Rasa panik dan khawatirnya sedikit memudar, kini ia merasa di dampingi di saat sulitnya. Bibir Keisha tersenyum tulus ke arah Reagan.


Reagan memandangi tangannya yang terus menerus di genggam erat oleh Keisha.


“Kita cek pembukaannya ya,” ucap suster yang membantu persalinan.


Reagan tak begitu jelas memperhatikan yang di lakukan suster, namun melihat raut wajah Keisha yang menunjukkan rasa sakit membuat Reagan sedikit ngeri.

__ADS_1


“Pembukaannya sudah lengkap, mulai mengejan ya bu,” ucap suster.


Dokter yang sudah selesai bersiap mulai berdiri di bagian kaki Keisha dengan dua perawat lainnya.


Keisha sudah tidak peduli dengan hal lain, yang ia pikirkan saat ini fokus untuk melahirkan anaknya ke dunia.


Rasa sakit yang Keisha rasakan demi melahirkan seorang anak lenyap begitu saja saat mendengar suara tangisan bayi.


Reagan yang menemani proses melahirkan keisha dari awal sampai akhir membuat wajahnya pucat pasi. Perjuangan Keisha sangat luar biasa bagi Reagan. Ada rasa senang dalam diri Reagan saat mendengar suara tangisan bayi, namun melihat betapa kacaunya Keisha membuat rasa bersalah muncul di hati Reagan.


Areliano masuk ke ruang bersalin dengan wajah terkejutnya saat melihat bayi yang sedang di mandikan oleh suster. Sementara ia menengok ke arah Keisha yang terbaring lemah. Para suster sibuk membersihkan sebagian darah yang berceceran.


Kaki Areliano melangkah mendekati Keisha. Ia berdiri tempat di samping istrinya. Tangan Areliano membelai pipi Keisha. “Maafkan aku tidak menemanimu berjuang untuk melahirkan anak kita,” ucap Areliano dengan perasaan bersalahnya.


“Anakku juga,” celetuk Reagan. Ia tidak terima di abaikan begitu saja, padahal dia berjuang dari awal sementara Areliano hanya datang di saat semuanya sudah selesai.


Areliano menatap sinis ke arah Reagan.


Tidak ingin terjadi keributan Keisha memilih menengahi. “Jangan seperti itu sayang. Reagan juga berhak atas anaknya lagi pula dia sudah bertanggung jawab sebagai calon ayah,” ucap Keisha tersenyum. Ia memberikan kode pada Areliano agar melihat ke arah Reagan.


Areliano menahan senyuman saat melihat rambut Reagan yang biasa rapi kini berantakan seperti terkena angin ****** beliung. Belum lagi kemeja Reagan yang kusut serta kancingnya hilang entah ke mana membuat dirinya terlihat sangat kacau.


Reagan sebenarnya ingin marah saat Areliano tersenyum, tidak tahu dia jika istrinya seperti kerasukan mencakar ke sana kemari dan Reagan menjadi sasaran empuk Keisha menyalurkan rasa sakitnya. “Jangan menertawakanku, seharusnya kamu berterima kasih karena aku menggantikan tugasmu.”


Dokter menggendong bayi dan menghampiri Keisha. “Selamat Pak, Bu anak kalian laki-laki.”

__ADS_1


__ADS_2