
Areliano memacu kecepatan mobilnya cukup tinggi, dan sampai di rumah dengan waktu yang cukup singkat. Ia turun dari mobilnya dan masuk ke dalam rumah.
Areliano membuka pintu kamar, melihat Keisha yang tengah berias di depan cermin. Ia segera pergi untuk membersihkan tubuhnya dan kembali dengan pakaian rumah.
Keisha menyambut Areliano di depan pintu kamar mandi dengan senyuman manis di bibirnya. Areliano menarik pinggang Keisha dan berjalan menuju ruang makan dengan berjalan beriringan.
Sampai di ruang makan para pelayan yang ada di rumah menata makan hasil masakan Keisha.
Areliano melihat hidangan yang cukup lengkap. Ia menarik tangan Keisha dan mengecupnya. “Terima kasih,” ungkap Areliano.
Keisha mengangguk dengan bibir yang tersenyum. Ia sangat gembira melihat Areliano yang terlihat senang dengan hidangan malam ini.
Areliano mencicipi seluruh masakan Keisha, semuanya sangat sempurna. Ia tidak menyangka jika istrinya masih bisa memasak setelah bekerja seharian.
“Sudah ambil cuti untuk besok?” Tanya Areliano setelah makannya selesai.
“Cuti untuk apa?” Keisha malah bertanya balik, tangannya menyimpan sendok ke atas piring lalu menatap suaminya.
__ADS_1
“Bert bilang besok jadwal untuk periksa kehamilan.”
Keisha melupakan hal itu, ia menggelengkan kepalanya.
Areliano membawa tangan Keisha ke dalam genggamannya. “Apa kau tidak pernah berniat untuk memberitahu siapa ayah kandung dari anakmu?”
“Tidak ada yang spesial dengan anak yang aku kandung. Kesucianku di jual oleh orang tuaku, tepat di hari Bert menjemputku di hotel.” Tangan Keisha merasakan genggaman erat dari tangan Areliano lebih kencang.
“Siapa pria itu?”
Areliano melihat sedikit kemarahan dari raut wajah Keisha. Ia membawa istrinya ke dalam pelukannya. Mulai hari ini dia tidak peduli siapa Ayah dari anak yang di kandung Keisha, yang terpenting Keisha ada bersamanya.
Pelukan hangat Areliano terasa sangat nyaman bagi Keisha. Ia sangat bersyukur memiliki suami seperti Areliano.
***
Hari itu Keisha bekerja seperti biasa, ia tidak bisa mengajukan cuti mendadak dan memilih bertemu dokter kandungan setelah jam kerja selesai. Beruntung Reagan tidak berbuat hal yang tidak-tidak sehingga Keisha bisa pulang tepat waktu dengan perasaan tenang.
__ADS_1
Mobil Areliano yang di Kendarai Bert berhenti di depan gedung Havelaar Grup. Dari dalam mobil Areliano dapat melihat tubuh Keisha yang berjalan dengan perut yang sedikit menonjol berjalan menghampiri mobil dengan langkah tergesa.
Keisha masuk ke dalam mobil, ia duduk di samping Areliano dan menampilkan senyumannya. Meskipun demikian Areliano masih bisa melihat wajah lelah Keisha, di balik senyumannya.
Tangan Areliano menuntun tubuh Keisha agar bersandar pada bahunya. Keisha menurut saja, ia tidak merasa canggung lagi bersama Areliano. Meskipun mereka menikah tanpa cinta namun rasa nyaman yang di berikan Areliano membuat Keisha merasa betah menjadi istri Areliano.
Bert mulai melajukan mobilnya menuju rumah sakit. Mereka berjalan dengan langkah perlahan melewati orang-orang yang mengantre. Sementara Bert sudah membuat daftar janji sebelum datang ke sana.
Keisha melewati beberapa pemeriksaan. Kini mereka berfokus pada layar yang menampilkan hasil USG tiga dimensi. Usia kandungan Keisha sudah memasuki dua belas Minggu.
Areliano pertama kalinya melihat janin milik Keisha. Terlihat sangat menggemaskan, ada rasa tidak sabar menunggu bayi mereka lahir. “Bagaimana keadaan janinnya Dok?” tanya Areliano sebelum dokter hendak menjelaskan.
“Kehamilan pertama ini sepertinya membuat suami ibu sangat antusias,” jawab dokter sambil tersenyum ke arah Keisha.
Keisha tidak heran dengan sikap Areliano, sepertinya semuanya akan berjalan dengan lancar jika dirinya dapat menyembunyikan fakta.
“Perkembangan janinnya cukup bagus, air ketubannya juga cukup. Tinggal menjaga pola makan, istirahat yang cukup, dan jangan lupa untuk minum vitamin secara teratur.”
__ADS_1