Suamiku Bukan Ayah Dari Anakku

Suamiku Bukan Ayah Dari Anakku
Celaka


__ADS_3

Reagan memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi, ada emosi yang tertahan di dalam diri Reagan. Tangannya memegang erat kemudi, kakinya menginjak pedal gas sangat dalam.


Beberapa orang mengumpat pada Reagan yang membawa mobilnya dengan kecepatan kencang dan menyalip tanpa aba-aba.


Reagan tidak memedulikan klakson dari pengendara lainnya. Ia hanya fokus pada amarah yang ada dalam dirinya, sampai di belokan yang curam Reagan tidak bisa berbelok begitu saja karena mobilnya melaju dengan kecepatan tinggi hingga mobil Regan bertabrakan dengan truk pengangkut dari arah berlawanan. Kecelakaan tersebut pun tak terelakkan. Reagan kehilangan kesadaran dengan kondisi tubuh tidak baik-baik saja.


Filio dan Keisha tidak meninggalkan acara tersebut. Sebuah panggilan masuk ke ponsel Filio, ia melihat nomor yang tak di kenal masuk. Filio menekan tombol hijau dan menempelkan ponselnya ke telinga.


[Selamat siang, apa benar saya berbicara dengan Tuan Filio, orang tua dari Reagan Lorencius Havelaar?]


“Benar,” jawab Filio. Perasaannya tidak enak saat mendengar penelepon menyebutkan nama lengkap Reagan.


[Kami dari rumah sakit JA ingin mengabarkan bahwa putra bapak mengalami kecelakaan.]


“Baik saya akan segera ke sana,” jawab Filio cepat tanpa menunggu kelanjutan ucapan penelepon tersebut.


Sahira yang melihat wajah terkejut suaminya segera bertanya. “Ada apa?”


“Reagan kecelakaan,” jawab Filio cepat.


Tubuh Sahira lemas mendengar jawaban Filio.


“Kamu mau menunggu di sini atau ikut ke rumah sakit?”

__ADS_1


“Aku ingin ikut saja,” jawab Sahira cepat. Ia menggenggam tangan suaminya dan berjalan menuju Arsya dan Feriska yang tengah berbincang dengan Alana dan Jordan.


“Maaf kami tidak bisa mengikuti acara ini sampai selesai,” ujar Filio.


Arsya, Feriska, Jordan dan Alana menatap ke arah Filio dan Sahira.


“Ada apa Filio?” tanya Alana.


“Reagan kecelakaan, sekarang ada di rumah sakit kami harus melihat kondisinya,” jawab Filio.


Keempat orang tersebut terkejut mendengar ucapan Filio, Arsya dan Feriska yang awalnya tidak ingin peduli ikut terkejut saat mendengar kabar Reagan masuk rumah sakit.


“Pergilah,” ujar Jordan.


Acara baby shower sudah selesai di adakan meskipun tidak sesuai rencana, keluarga besar yang hadir seolah tak masalah dan mereka tetap menikmati acar dengan berbincang satu sama lain. Sudah lama tidak mengadakan pertemuan keluarga, dan merasa di satukan kembali hingga asyik dan tanpa sadar hari sudah mulai gelap. Semua orang yang hadir satu persatu mulai berpamitan dan kini aula tempat acara baby shower di adakan sudah tak ada orang.


Feriska dan Arsya bisa bernafas dengan lega, meskipun acara baby shower yang mereka adakan hancur total.


“Sayang lalu bagaimana?” tanya Feriska dengan nada khawatirnya. Ia masih tidak bisa menerima jika anak yang di kandung Keisha bukan cucunya.


“Mungkin kita harus mempercayakan masalah ini pada Areliano, karena dia yang akan menjalani pernikahannya. Soal perusahaan aku yakin Areliano bisa menanganinya sendiri,” ucap Arsya. Ia sudah tak ingin memusingkan masalah Areliano lagi.


Feriska menghembuskan nafas lelahnya, ia gagal mendapatkan cucu dalam waktu dekat. “Kenapa kita tidak buat anak lagi saja, aku masih sanggup melahirkan kok,” ujar Feriska.

__ADS_1


“Sayang. Kamu ini ada-ada saja,” protes Arsya.


“Loh kenapa, umurku masih muda. Aku juga belum menopause, jadi masih bisa mencobanya,” usul Feriska.


Mengingat usia Arsya yang tak muda lagi, bahkan sudah sedikit beruban tak pantas rasanya menggendong bayi anaknya sendiri. “Tidak, itu terlalu bahaya. Aku tidak mau menduda lagi,” jawab Arsya. Dia tidak pernah ingin kehilangan istri lagi, apalagi ia ingin menghabiskan masa tuanya bersama orang yang Arsya cintai.


Melihat wajah sedih Arsya, Feriska segera mengakhiri sesi bercandanya. Ia tahu jika Arsya sangat ketakutan bahkan saat ia hamil Areliano pun dua puluh empat jam di jaga pengawal dan Feriska wajib memberi kabar setiap setengah jam sekali tentang kondisinya yang bahkan baik-baik saja sampai melahirkan.


***


Di dalam kamar Areliano terdengar suara dering ponsel yang menggema. Keisha menarik selimut menutupi tubuhnya sampai batas leher, sementara tangannya mencari sumber suara yang bising.


Areliano ikut terbangun karena dering panggilan tersebut, ia bangkit dan melihat saku celananya yang tergeletak di lantai menyala. Ia mengambil ponselnya dan melihat nomor yang menelepon, Filio.


Sebetulnya Areliano malas menerima telepon tersebut, namun ia tidak bisa terus lari dari masalah. “Ada apa?”


[Apa Reagan ada di sana?]


Areliano mengerutkan dahinya mendengar pertanyaan Filio. “Tidak ada, memangnya ada apa Om?” Tanya Areliano saat mendengar nada khawatir Filio.


[Reagan kecelakaan, baru di pindahkan ke ruang rawat tapi menghilang begitu saja. Kalau Reagan ke sana tolong kabari Om.]


“Baik om.” Areliano terdiam sejenak. Seharusnya tak aneh jika mendengar Reagan kembali berulah, tetapi kali ini ulah Reagan di sebabkan karena anak yang ada di kandungan Keisha dan Areliano tidak bisa merasa tenang.

__ADS_1


Areliano menengok ke arah pintu yang terdengar di ketuk dari luar. Ia memakai celananya dengan cepat dan berjalan ke arah pintu. Tangan Areliano membuka pintu perlahan dan langsung bertatapan dengan mata Reagan. ‘Astaga anak ini,’ batin Areliano.


__ADS_2