Suamiku Bukan Ayah Dari Anakku

Suamiku Bukan Ayah Dari Anakku
Bonuuuus


__ADS_3

Sejak Keisha di pindahkan ke ruang rawat Areliano lebih banyak diam. Menggenggam tangan istrinya dengan sangat erat.


Sementara Reagan yang antusias memperhatikan pergerakan-pergerakan bayinya yang ada di dalam tempat tidur khusus untuk bayi.


Di samping Reagan ada Sahira yang tampak ikut memperhatikan.


“Bu, Reagan ingin mencoba menggendong?” ucap Reagan.


Sahira memandang ke arah Keisha dan Areliano. Keisha mengangguk memberi ijin begitu juga dengan Areliano. Meskipun ada rasa sedikit tidak rela di hati Areliano membiarkan anaknya di gendong Reagan.


Sahira membantu mengangkat tubuh mungil cucunya ke dalam pangkuan Reagan.


Reagan mengendong putranya dengan sepenuh hati. Ia mulai waswas saat putranya menggeliat seraya menampilkan wajah tidak nyaman. “Bu dia kena-“ Reagan belum menyelesaikan ucapannya namun bayi di dalam pangkuannya sudah menangis kencang.


“Tepuk-tepuk pantatnya supaya ia merasa nyaman,” ucap Sahira memberi solusi.


Reagan sudah mengikuti instruksi ibunya namun tangisnya bukan mereda malah semakin kencang.


Sahira yang khawatir segera mengambil alih, tangannya menepuk-nepuk bagian pantat dengan perlahan. Bayi Reagan dan Keisha berhenti menangis dalam sekejap setelah di gendong Sahira.


“Bu aku ingin mencobanya lagi.” Reagan tak pantang menyerah dan kembali menggendong bayinya. Namun tetap sama bayinya menangis saat Reagan gendong.


“Sudah sama ibu saja, kasihan bayinya jadi menangis terus,” ucap Sahira mengambil alih. Ia mengayun cucunya dengan perlahan hingga kembali tertidur.


Dengan perasaan tidak rela Reagan membiarkan anaknya tidur dengan nyaman di pangkuan Sahira.


Arsya dan Feriska yang ada di sana hanya terdiam memandangi interaksi Reagan dan Sahira. Ada rasa nyeri karena mereka belum di beri kesempatan untuk mendapatkan cucu dari Areliano.


Sahira kembali menidurkan cucunya di tempat semula.


Reagan mengecek ponselnya ada beberapa notif masuk ke ponselnya dari pagi. Namun pesan kali ini berisi ancaman yang tidak bisa Reagan abaikan. “Reagan harus pamit, ada urusan penting,” ucap Reagan pada keluarga Arsya.


Areliano yang tidak tertarik memilih diam.


“Kalau begitu ibu juga pulang sama kamu aja ya,” pinta Sahira karena Filio berhalangan hadir.

__ADS_1


“Ayo Bu.”


“Hati-hati di jalan ya,” ucap Feriska dan Arsya.


Sementara Keisha tersenyum ramah ke arah Sahira dan Reagan.


Arsya dari tadi melihat wajah Areliano yang tampak murung, ia merasa putranya butuh waktu berdua bersama Keisha. Setelah kepergian Reagan dan Sahira, Arsya beranjak dari duduknya sambil menarik tangan Istrinya. “Kita ngopi di depan yuk, papa mengantuk,” ujar Arsya.


Feriksa setuju saja dengan ajakan suaminya. “Kita tinggal sebentar tidak apa-apa kan?” tanya Arsya sambil menatap ke arah Keisha dan Areliano. Setelah mendapatkan persetujuan Arsya dan Feriska meninggalkan ruangan rawat Keisha.


Keisha menggenggam erat tangan suaminya. “Kenapa?” tanya Keisha dengan suara lembutnya.


Areliano menatap mata Keisha dengan serius. “Anak kalian sangat mirip Reagan,” ungkap Areliano.


Keisha melihat kekecewaan pada wajah Areliano. Tangan Keisha mengelus rahang Areliano. “Nanti kita buat bayi yang mirip banget sama suamiku,” ujar Keisha dengan nada antusiasnya.


Bibir Areliano sedikit tersenyum melihat kilatan antusias Keisha.


Seorang suster mengetuk pintu sebelum masuk ke ruang rawat Keisha. “Maaf mengganggu saya ingin mengecek keadaan bayi,” udap suster meminta ijin.


Areliano dan Keisha memperhatikan suster yang sedang mengecek keadaan bayi mereka. Suster menggendong bayi dan menghampiri brankar Keisha. “Bayinya haus ibu bisa memberikannya ASI terlebih dahulu.”


Suster menunggu hingga bayinya cukup kenyang. Bayi Keisha melepaskan isapannya dan tertidur dalam pangkuan Keisha.


Untuk kedua kalinya Keisha menggendong bayinya.


Suster yang melihat bayinya tampak nyaman serta Keisha yang serius memandangi wajahnya akhirnya memilih berpamitan karena ia harus mengecek pasien lain. “Jika perlu sesuatu bisa tekan tombol, saya pamit dulu.”


Keisha mengangguk dan kembali memperhatikan wajah damai bayinya.


Areliano ikut memperhatikan bayi yang ada di pangkuan Keisha. “Apa boleh aku menggendongnya?”


“Tentu saja kau kan Ayahnya,” jawab Keisha. Ia mengarahkan bayinya pada Areliano.


Dengan hati-hati Areliano menerima bayinya. Ia sangat gemas melihat wajah bayinya yang tertidur pulas di dalam pangkuannya.

__ADS_1


“Dia sangat senang berada di dalam gendonganmu,” ujar Keisha.


Areliano mengangguk setuju karena saat di gendong Reagan menangis terus. “Kamu sudah kenal papa ya, karena sering papa tengok,” ujar Areliano sambil mengusap pelan pipi halus bayinya.


Keisha yang mendengar ucapan Areliano tertawa kecil.


Sudah lima belas menit berlalu dan tangan Areliano mulai terasa pegal menggendong terlalu lama. “Dia tidur terus, taruh di tempat tidurnya saja ya,” usul Areliano.


“Iya.”


Areliano menyimpan bayinya di atas tempat tidur. Baru beberapa detik terlepas dari Areliano bayinya menangis cukup kencang.


Areliano yang khawatir akhirnya kembali menggendong bayinya. “Dia tidak mau di tidurkan,” ujar Areliano.


“Ya sudah gendong saja sebentar lagi.”


Areliano menuruti ucapan Keisha ia menggendong bayi mereka sambil duduk di samping Keisha.


Setengah jam berlalu rasanya tangan Areliano mulai kebas. “Tidurkan lagi ya?”


Keisha menganggukkan kepalanya ia mengambil air minum dan menenggaknya dengan perlahan sambil memperhatikan Areliano yang menidurkan bayi mereka.


Areliano merasa tanangnya terbebas dari beban.


Suara tangisan bayi cukup kencang membuat Areliano menghela nafasnya. “Kenapa kau menangis lagi, papa ingin beristirahat sejenak saja,” protes Areliano namun ia tetap membawa bayinya ke dalam gendongannya karena tidak tega membiarkan bayinya menangis.


“Dia tahu sayang kalau kau papanya, mungkin dia ingin bermanja denganmu,” ujar Keisha sambil tersenyum ke arah Areliano yang menggendong bayinya.


Keisha tidak pernah menyangka akan di titik di mana ia cukup bahagia dengan pernikahannya ini. Ia tidak pernah menyangka mengandung anak dari pria lain. Ia juga tidak pernah menyangka bayinya akan sangat lengket pada Areliano yang jelas-jelas bukan ayah kandungnya.


Keisha menangis terharu, rasa sakit karena perlakuan Keluarganya di bayar setimpal dengan memiliki Keluarga yang bahagia serta mertua yang menyayanginya. ‘Terima kasih tuhan, aku sangat bahagia dengan takdir yang kau berikan padaku.’


_-TAMAT-_


***

__ADS_1


***Terima kasih sudah menemani prosesnya, maafkan diri ini yang lama update 😁


Sampai jumpa di karyaku yang lainnya, dan terima kasih atas dukungan kalian. love u all 💕***


__ADS_2