
Keisha mendengar suara kunci pintu yang dibuka dari luar. Kakinya melangkah mundur, begitu pintu terbuka Keisha melihat pipi Areliano yang lebam. Keisha mendekat dan meraba pipi Areliano. “Apa yang terjadi?” tanya Keisha dengan perasaan khawatirnya.
“Reagan hanya kesal dan memukulku, tapi semuanya sudah beres,” jawab Areliano.
Areliano menutup pintu, dan menguncinya dari dalam agar tidak ada orang yang mengganggu. Ia sudah tidak peduli dengan acara baby shower yang di adakan ibunya.
Keisha mengikuti langkah Areliano yang menuntunnya hingga ke tempat tidur. “Duduk,” pinta Areliano.
Keisha mengikuti keinginan suaminya untuk duduk di pinggiran tempat tidur.
Areliano merebahkan tubuhnya, menjadikan paha Keisha sebagai bantalan. Matanya menatap lurus ke langit-langit kamar. “Apa kau tidak akan pernah menyesal hidup bersamaku?”
“Kenapa bertanya seperti itu, bukannya aku hanya wanita yang di beli oleh orang tuamu. Maka apa pun yang terjadi aku akan patuh terhadap orang tuamu,” jawab Keisha jujur.
“Jika orang tuaku, memintamu untuk menikah dengan Reagan bagaimana?”
__ADS_1
Keisha terdiam sejenak, ia menatap lekat-lekat wajah Areliano yang terlihat tidak sabar menunggu jawaban Keisha. “Mau bagaimana lagi, aku-“ Ucapan Keisha terpotong karena gerakan Areliano yang tiba-tiba saja bangkit dan menatapnya.
“Dengan mudahnya kau berkata seperti itu, padahal aku mempertahankanmu di depan orang tuaku.” Areliano bangkit dan berjalan menuju jendela kamarnya yang terbuka.
Keisha tersenyum mendapati tingkat cemburu Areliano. Ia berjalan menghampiri Areliano, dan berdiri tepat di belakang suaminya. Tangan Keisha terulur untuk melingkarkan tangannya di perut Areliano. Kepala Keisha bersandar pada punggung Areliano.
“Aku sadar akan posisiku, tapi jika bisa memilih aku lebih ingin hidup bersamamu suamiku.”
Bibir Areliano tersenyum mendengar jawaban yang terdengar sangat lembut dan menenangkan yang keluar dari mulut istrinya.
Areliano membalikkan tubuhnya agar berhadapan langsung dengan Keisha. “Kau tidak memiliki perasaan sedikit pun terhadap Reagan?”
Reagan mencubit pipi gembil milik Keisha. “Ucapanmu sangat receh.”
Keisha tersenyum menampilkan deretan giginya, ia menghamburkan dirinya ke dalam pelukan Areliano. “Aku bahagia dan sangat bersyukur dapat memilikimu sebagai suamiku.”
__ADS_1
Aula tempat baby shower di adakan tetap berjalan sesuai rencana, meskipun tidak ada Areliano dan Keisha.
“Aku ingin berbicara dengan Arsya,” ucap Jordan pada pelayannya. Alana yang duduk di sampingnya memilih menemani suaminya.
Pelayanan Jordan mendorong kursi roda majikannya menghampiri Arsya.
“Arsya,” panggil Jordan. Jagoan kecilnya Jordan dulu kini tumbuh menjadi dewasa.
“Iya Pi,” sahur Arsya.
“Jangan terlalu mengekang keinginan anakmu, cinta itu butuh pengorbanan. Papi rasa seharusnya kamu bisa bersikap lebih dewasa dalam menangani hal ini,” ucap Jordan memberikan sedikit nasihat kepada putranya. Raut wajah tidak tenang Arsya dapat di rasakan oleh Jordan.
Alana meremas bahu suaminya, pria tua bangka ini sangat bijak dalam hal berbicara. “Mami setuju dengan ucapan Papi, mungkin ini pertama kalinya masalah yang datang dalam kehidupanmu. Tapi kamu harus percaya akan kekuatan cinta. Bukankah kau menikah dengan Feriska karena cinta? Padahal saat itu Papi melarangmu, apalagi hubungan kalian sangat tidak sehat.”
“Masalah ini tidak sama Mam,” tutur Arsya.
__ADS_1
“Jangan terlalu mengkhawatirkan masalah ini, Filio pasti bisa menangani Reagan.”
Kalimat penenang dari orang tuanya tidak bisa menangkan hari Arsya, apalagi jika mengingat keputusan Areliano yang bersikeras.