
Keisha mengelar matras, ia menyalakan televisi lalu memutar video pemberian dari pelatih senamnya. Keisha mengikuti setiap gerakan, rasa khawatir dalam dirinya tidak bisa ia hindari. Usia kehamilannya hari ini sudah masuk di empat puluh minggu, namun belum ada tanda-tanda kontraksi persalinan.
Keisha mencoba rileks dan mengikuti setiap gerakan sampai selesai. Ia menggulung kembali matras tersebut dan menyimpannya kembali pada tempatnya. Keisha berjalan ke ruang makan ia mengambil minum lalu duduk. Keisha tersenyum saat merasakan gerakan aktif di perutnya. “Kamu tidak ingin keluar cepat-cepat? Momy sudah tidak sabar melihat kamu,” ucap Keisha sambil mengelus perutnya.
Keisha sedikit terkejut saat melihat kehadiran Reagan di depannya. Karena ini pertama kalinya ia melihat Reagan lagi setelah kejadian baby shower. Kini Reagan tampak sehat, tidak ada luka seperti saat terakhir bertemu.
Reagan menghampiri Keisha, tangannya mengambil sapu tangan dari saku dan memberikannya pada Keisha. “Seka keringatmu,” ujar Reagan.
Regaan ikut duduk di samping Keisha. Memperhatikan Keisha yang menyeka keringatnya.
“Apa Areliano tahu kau mampir kemari?” tanya Keisha.
“Tidak, aku sengaja tidak memberitahunya karena ingin berbicara berdua.”
Keisha melihat wajah Reagan yang semakin serius. “Ada hal penting apa?”
“Kata tante Feriska kehamilanmu sudah memasuki empat puluh minggu tapi belum melahirkan, dia sampai khawatir dan mengadu pada ibuku. Karena Areliano terlihat sangat santai menghadapi masalah ini,” tutur Reagan.
“Dokter bilang masih aman, air ketubannya juga masih bagus. Jadi masih bisa menunggu beberapa hari lagi,” ucap Keisha menangkan Reagan. Meski diri sendiri pun tidak tenang menunggu hari itu tiba.
“Tidak ingin operasi caesar saja?” tanya Reagan.
Keisha menggelengkan kepalanya.
“Kamu takut? Sekarang operasi caesar tidak sakit dan menyeramkan seperti dulu.” Sebelum berbincang dengan Keisha Reagan sudah mencari beberapa informasi.
__ADS_1
“Aku hanya ingin melahirkan secara normal.” Sebetulnya Keisha memiliki tujuan untuk mencoba kembali memberikan keturunan untuk Areliano setelah melahirkan. Dari yang ia tahu jika telah melahirkan dengan cara operasi caesar terlalu berisiko jika hamil kembali. Ia tidak ingin Areliano bersedih karena Keisha melahirkan anak Reagan. Mungkin dengan memberikan keturunan untuk suaminya Keisha dapat sedikit membalas kebaikan Areliano.
“Baiklah jika memang itu keputusanmu,” tandas Reagan.
“Bagaimana hubunganmu dengan Bianca?” tanya Keisha.
“Kau tahu?”
Keisha mengangguk, ia meminum air putih miliknya. “Ibu selalu menceritakan hasil keluh kesah tante Fiona padaku.”
Reagan merasa tidak heran, tante Fiona memang bersahabat dengan Feriska dari masa kuliah. Mereka sangat dekat.
“Sampai kapan kau membiarkan hubungan tidak jelas itu, menunggu Bianca lulus kuliah?”
“Dia tidak akan pernah lulus kuliah,” jawab Reagan yakin. Karena selama ini Bianca tidak pergi ke kampus dan memilih berdiam diri di apartemen milik Reagan meskipun Reagan ada di kantor.
Reagan memandang kesal ke arah Keisha. “Lama-lama kau sepeti ibuku jika membahas masalah Bianca.”
Keisha merasa puas melihat wajah kesal Reagan. “Lagi pula sebentar lagi kau jadi bapak, tapi tidak bisa bersikap dewasa,” ucap Keisha semakin mengompori.
“Aaw,” keluh Bianca saat merasakan perutnya yang terasa sakit.
“Kenapa?” tanya Reagan khawatir.
“Perutku tiba-tiba sakit,” jawab Keisha. Ia memegangi perutnya, sakitnya tidak hilang begitu saja.
__ADS_1
Reagan ikut meraba perut buncit Keisha dan mengelusnya dengan perlahan.
Mendapatkan elusan dari tangan Reagan membuat rasa sakitnya hilang. ‘Hais dasar pencari perhatian, tahu ya jika daddymu ada di sini?’ batin Keisha.
“Mau aku antar ke rumah sakit?” tawar Reagan.
“Tidak perlu,” tolak Keisha karena rasa sakit di perutnya sudah mulai hilang.
Asisten rumah tangga menghampiri Keisha dan Reagan dengan nampan berisi minuman serta camilan.
“Jika masih ingin berbincang tunggu sebentar ya, aku ingin mandi,” ujar Keisha.
Reagan mengangguk, ia meminum teh miliknya dan mengeluarkan ponselnya untuk menghilangkan rasa bosan menunggu Keisha. Sebetulnya ia sudah tak ada keperluan, hanya saja melihat ekspresi kesakitan Keisha membuat Reagan sedikit khawatir.
Keisha masuk ke kamar mandi dan membersihkan tubuhnya. Rasa sakit kembali menyerang, tidak tahan dengan rasa sakitnya Keisha duduk di closet. Ia merasakan cairan hangat yang melewati jalan lahir.
Keisha menunduk dan sedikit terkejut saat melihat cairan bercampur lendir yang bening serta sedikit kekuningan. Ia segera menyelesaikan mandinya. Saat memakai baju ia kembali merasakan sakit di perutnya.
Tangan Keisha mengelus perutnya. “Ada apa baby?”
Rasa sakitnya kembali mereda, usai berpakaian Keisha berjalan perlahan menghampiri Reagan.
“Ada apa?” tanya Reagan khawatir saat melihat wajah serius Keisha.
“Sepertinya aku akan melahirkan,” ucap Keisha dengan senyuman canggungnya.
__ADS_1
Mata Reagan membelalak, ia terkejut bukan main. “Apa melahirkan?”