
Seperti biasanya Keisha menunggu kedatangan Reagan di loby perusahaan. Reagan keluar dari mobil dan melihat leher Keisha yang hampir penuh dengan bercak merah. Tatapan Reagan cukup tajam ke arah leher Keisha. Membuat Keisha risi dan menutupinya dengan rambut.
“Tutupi bercak merah itu dengan benar, aku bosan melihatnya!” bentak Reagan. Ia berjalan dengan langkah cepat meninggalkan Keisha. Kesabarannya sudah habis, setiap hari ia melihat leher Keisha yang penuh dengan tanda merah. Seolah tiap malam mereka melakukan hal itu dan ingin menunjukkannya pada dunia.
Keisha menyebutkan jadwal untuk Reagan. Selama ia berbicara Reagan tidak menatapnya. Keisha selesai dengan urusan jadwal Reagan, ia memberikan berkas yang perlu di tandatangani Reagan. Selesai mengerjakan rutinitas paginya Keisha kembali ke ruang kerjanya. Di sana Luisa tengah menikmati secangkir kopi di pagi hari.
“Luisa,” panggil Keisha.
Luisa menyimpan gelas yang sedang di pegangnya. “Ada apa Keisha?”
“Reagan marah karena ini, apa kau tahu cara menghilangkannya?” Tangan Keisha menunjuk lehernya.
Luisa tersenyum melihat ekspresi Keisha yang malu-malu menunjukkan lehernya. “Tutupi saja dengan concealer.” Sepertinya Areliano sangat bernafsu setiap hari, begitu pikiran yang mengisi kepala Luisa melihat leher Keisha tidak pernah absen dari tanda.
Keisha mengambil tas miliknya. “Jika Reagan mencariku bilang saja aku pergi sebentar.”
Luisa mengacungkan jempolnya. Keisha keluar dari ruangan. Ia pergi menuju swalayan kosmetik yang ada di samping gedung. Usai membeli concealer Keisha pergi ke kamar mandi untuk menutupi bercak merah di lehernya. Kini ia bisa bernafas lega melihat bercak merah di lehernya tersamarkan dengan sempurna.
Telepon genggam Keisha berdering, tanda panggilan masuk. Keisha menerima panggilan dari Reagan, sambil kakinya terus melangkah memasuki gedung Havelaar Grup. “Ada apa Tuan?”
[Cepat ke ruanganku sekarang juga.]
Keisha melangkahkan kakinya masuk ke dalam lift. Ia segera menyimpan kembali ponselnya ke dalam tas.
Pintu lift terbuka di lantai khusus para petinggi. Dan Keisha segera mengetuk pintu ruangan Reagan. Ia masuk setelah mendapat ijin.
Keisha membungkuk memberi hormat.
“Bawa kotak ini, dan masukkan ke dalam mobil.”
Keisha menatap kotak di atas meja Reagan. “Baik tuan.” Ia mengangkat kotak tersebut ke dalam pangkuannya, lalu berjalan keluar dari ruangan Reagan.
__ADS_1
Keisha sudah sampai di basemen ia berjalan menuju mobil Regan, namun Keisha tidak sengaja terjatuh. Isi dari Kotak tersebut sedikit berhamburan, ternyata isinya buku-buku tebal. Keisha hendak bangkit untuk membereskan buku-buku yang terjatuh namun perutnya terasa sangat sakit. Tangan Keisha meraba perutnya, ia berusaha menahan sakit dan memungut buku lalu memasukkannya kembali ke dalam kotak.
Keisha menatap mobil Reagan yang berjarak dua meter di depannya. Ia berusaha bangkit membawa kotak tersebut dan berjalan menuju mobil. Namun sakit di perutnya semakin mendera, Keisha menyimpan kotak di lantai. Ia tidak bisa menahan rasa sakit di perutnya lagi.
Reagan yang melihat Keisha berjongkok dengan wajah meringis segera menghampirinya. “Keisha,” panggil Reagan.
Wajah Keisha meringis, “Tolong.”
Reagan segera mengangkat tubuh Keisha dan mendudukkannya ke dalam mobil. Reagan duduk di balik kemudi dan segera melajukan mobilnya menuju rumah sakit.
Selama di perjalanan Reagan terus melirik ke samping, wajah Keisha terus meringis sambil memegangi perutnya. Reagan sangat khawatir dengan keadaan Keisha, ia membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Mobil Reagan akhirnya sampai di rumah sakit, para perawat membawa tubuh Keisha ke dalam ruang UGD.
Reagan menunggu dengan perasaan khawatir di depan UGD. Ia menghubungi Areliano jika Keisha di larikan ke rumah sakit.
Lima menit setelah Reagan memberikan kabar pada Areliano, kini pria itu berjalan di ikuti asisten pribadinya yang mengekor di belakang.
Reagan kesal mendengar Areliano yang memanggil Keisha istriku, bahkan pria itu terlihat sangat khawatir membuat dada Reagan memanas menahan cemburu.
“Dia masih di dalam,” jawab Reagan. Ia memilih duduk di kursi tunggu.
Setengah jam berlalu akhirnya dokter keluar. “Keluarga pasien Keisha Karenza?”
“Saya suaminya, bagaimana keadaan istri saya dok?” ucap Areliano dengan nada khawatirnya. Ia melangkahkan kakinya mendekati dokter.
“Ibu Keisha mengalami pendarahan ringan, beruntung keadaan janinnya baik-baik saja.”
Areliano sangat gembira mendengar dokter mengatakan jika Keisha hamil.
“Tolong di jaga baik-baik ya, usia kandungannya baru sepuluh minggu. Kehamilan pada trimester pertama harus di perhatikan baik-baik, jadi jaga ibu Keisha untuk menghindari penyebab keguguran.”
__ADS_1
“Baik dok, saya akan lebih berhati-hati untuk menjaga istri saya,” jawab Areliano.
“Bapak sudah boleh masuk dan segera temani istri bapak, ia harus mendapatkan perhatian lebih dari suaminya. Agar ibu Keisha merasa tenang dan tidak setres menghadapi perubahan hormon di trimester pertamanya.”
Hati Reagan semakin memanas mendengar Keisha mengandung anak Areliano. Setelah dokter pergi Reagan mendekat ke arah Areliano. “Selamat atas kehamilan Keisha.”
Areliano menganggukkan kepalanya.
“Kalau begitu saya balik ke kantor,” setelah berpamitan Reagan berjalan meninggalkan Areliano serta asistennya.
Areliano masuk ke dalam ruang UGD. Seorang perawat masuk bersama empat perawat lainnya. “Dengan bapak Areliano?” Tanya perawat tersebut.
“Iya.”
“Ibu Keisha akan kami pindahkan ke ruang rawat sekarang juga,” ucap Perawat.
Bert kembali ke depan ruang UGD setelah membayar administrasi. Ia melihat tubuh Keisha yang di dorong keluar dari sana. Bert berjalan di belakang Areliano, sampai Keisha di pindahkan ke ruang rawat.
Para perawat keluar dari ruangan Keisha setelah memastikan semuanya dalam keadaan baik.
Areliano menatap Bert, dan memintanya untuk keluar. Bert mengangguk mengerti dan mengikuti perintah tuannya.
Areliano duduk di kursi yang berada tepat di samping brankar Keisha. Tangan Areliano menggenggam tangan istrinya dengan sangat erat. “Jangan membuatku khawatir, apalagi kamu sedang mengandung.”
Hati Keisha tersentuh sekaligus merasakan sakit secara bersamaan. Keisha merasakan kehangatan dari tangannya yang di genggam suaminya. Ia tidak salah melihat, wajah Areliano yang tampak khawatir menatap dirinya. Tanpa sadar air mata Keisha mengalir.
Tangan Areliano yang lainnya menghapus air mata Keisha. “Jangan menangis Keisha.”
“Bolehkah aku meminta pelukan?” tanya Keisha dengan suara tertahannya.
Areliano membantu Keisha menegakkan tubuhnya, lalu ia memeluk tubuh Keisha.
__ADS_1