
“Jarak dari rumah ibu ke kantor cukup jauh, banyak waktu yang akan terbuang,” bantah Areliano.
Feriska menyimpan kedua tangan di pinggang. “Tidak ada penolakan!”
Areliano melirik Ayahnya yang sejak tadi duduk menikmati secangkir kopi. “Ayah,” panggil Areliano memohon bantuan.
“Sudah ikuti saja kemauan ibumu,” jawab Arsya.
“Biarkan kami tinggal di rumahku, aku berjanji akan memberikan ibu dan ayah cucu secepatnya,” ucap Areliano. Ia tidak ingin tinggal bersama orang tuanya, apalagi jaraknya cukup jauh dari kantor.
“Dua bulan. Jika Keisha tidak kunjung hamil juga, kalian harus tinggal bersama ibu dan ayah,” putus Feriska. Meskipun Feriska tahu jika anak adalah sebuah anugerah, tapi jika tidak berusaha tidak akan pernah ada hasil.
Keisha melirik jam yang ada di dinding. Ia harus segera ke kantor. “Ibu bolehkah Keisha berganti pakaian?”
Feriska sedikit melupakan waktu saat mereka bertengkar. Ia memberikan baju Keisha.
Keisha segera masuk kembali ke kamar Areliano dan mengganti pakaiannya. Sudah siap dengan pakaian kerjanya Keisha keluar dan berpamitan. “Ibu maaf Keisha harus segera berangkat,” ucap Keisha dengan penuh penyesalan tidak ikut sarapan bersama.
Feriska menatap Areliano. “Kamu tidak akan mengantarkan istrimu?”
Areliano terpaksa mengakhiri sarapan paginya. “Ayo Bert.”
Bert memasukkan satu suapan terakhirnya, masakan Feriska tidak ada yang menandingi. Bert masih ingin menghabiskan makanannya tapi tidak bisa, dengan terpaksa bangkit dan ikut berjalan bersama Areliano.
Feriska sempat menyiapkan bekal untuk sarpan Keisha. “Sarapanlah di kantor, dan jangan lupa minum jamunya.”
“Terima kasih Bu,” jawab Keisha tulus. Ia merasakan kasih sayang seorang ibu yang tidak pernah ia dapatkan dari ibu kandungnya.
Areliano melihat mata Keisha yang berkaca-kaca, namun wanita itu segera menghapusnya dan berjalan lebih dulu. Ada sebuah tanda tanya di dalam kepala Areliano, ibunya hanya memberikan bekal untuk Keisha tapi mengapa ekspresinya terasa sangat berlebihan?
__ADS_1
Setelah melewati jalanan pagi yang cukup padat akhirnya mobil yang di kemudikan Bert sampai di kantor Havelaar grup. “Hati-hati,” ucap Keisha pada suaminya seraya menampilkan senyuman.
Areliano seperti mendapat semangat yang tak bisa di gambarkan kala melihat senyum di bibir istrinya. Areliano mengangguk kecil pada ke arah Keisha. “Ayo jalan Bert.”
Bert teringat sesuatu, ia keluar dari mobil memberikan ATM atas nama Areliano. “Nona bisa pakai untuk keperluan nona.”
Keisha menerimanya dengan senang hati. “Terima kasih.”
Bert mengangguk dan kembali masuk ke dalam mobil.
Keisha menatap kepergian mobil suaminya. Ia melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Lima menit lagi Reagan akan sampai. Keisha memeriksa aplikasi pesan antar untuk melihat sarapan pagi Reagan sudah sampai atau belum.
Sudah menjadi kewajiban Keisha untuk menyambut kedatangan Reagan di lobi. Mobil sport Reagan berhenti tepat di depan pintu lobi. Kakinya melangkah keluar dari mobil.
Beberapa pasang mata menatap ke arah CEO Havelaar Grup. Semua mata memandang tanpa berkedip, mereka seperti melihat pria sempurna dalam diri Reagan.
Reagan menengok ke arah Keisha, pandangannya langsung tertuju pada leher Keisha yang terdapat bercak merah. Tangan Reagan terkepal, dadanya panas hanya membayangkan Keisha berada di bawah kendali Areliano.
Sampai di ruangan Reagan menatap menu sarapan yang di pesankan Keisha hanya dua potong sendwich berisi buah-buahan segar. Reagan sangat kesal melihat bercak merah di leher Keisha. Ia melemparkan sarapan paginya ke lantai. “Aku ingin makan burger pagi ini.”
Keisha berjongkok mengeluarkan sapu tangan dari sakunya dan mengambil sendwich dari lantai lalu membuangnya ke tempat sampah. Keisha keluar dari ruangan Regan untuk memesan sarapan pagi yang Regan inginkan.
Lima belas menit berlalu Keisha kembali masuk ke dalam ruang Reagan. Keisha memberikan burgernya pada Reagan.
Reagan menerima dan membuka bungkusnya. Tangannya dengan ringan kembali melempar burger tepat ke leher Keisha. “Double beef!”
Kesabaran Keisha sudah habis. Ia menghela nafasnya dan kembali memungut burger yang jatuh di lantai. Ia kembali membuang sarapan pagi Reagan ke tempat sampah.
“Kenapa masih di sini, cepat bawakan!”
__ADS_1
Suara Reagan terdengar lebih tinggi dari biasanya, Keisha harus membiasakan dirinya jika mood Reagan dapat berubah-ubah setiap harinya.
Keisha keluar dari ruangan Reagan. Kali ini ia memesan seluruh varian burger, dan Kembali ke dalam ruangan Reagan dengan penuh percaya diri.
“Kenapa lama sekali?” tegur Reagan.
Keisha mengeluarkan satu persatu burger yang ia pesan sambil menyebutkan variannya. “Double beef, double cheese, double beef and double cheese. Tanpa tomat, tanpa selada. Silahkan tuan pilih. Saya permisi.”
Reagan menatap deretan burger yang masih terbungkus. Lalu menatap punggung Keisha yang menghilang di balik pintu. Dia tidak menyangka Keisha terpikir untuk memesan semua varian hanya karena tidak ingin melakukan kesalahan.
Pagi ini Keisha sedikit kesal dengan sikap Reagan yang tiba-tiba. Keisha teringat bekal yang di buatkan oleh Feriska belum sempat ia makan. Keisha mengeluarkan kotak bekalnya. Aroma nasi bercampur telur menguar di udara. Bibir Keisha tersenyum, ia sangat senang bisa menikmati sarapan paginya.
Luisa mencium aroma yang cukup wangi dari arah sampingnya. “Kamu membawa apa Keisha, kenapa sangat wangi? Seperti masakan Oma Feriska.” Luisa sangat hafal betul masakan Feriska. Meskipun Feriska tidak masuk ke dunia usaha tapi Oma Luisa yang satu itu sangat pandai memasak.
“Mau? Mari makan bersama,” ajak Keisha.
Sarapan pagi lezat yang di buatkan Feriska menghilangkan rasa kesal Keisha terhadap Reagan. Ia bisa kembali bekerja dengan perasaan tenang.
Seakan tak puas mengerjai Keisha sore harinya Reagan tidak memperbolehkan Keisha pulang. Reagan berjalan lebih dulu keluar dari ruangannya. “Kita pergi ke hotel W.”
Keisha tidak merasa ada pertemuan penting dalam jadwal Reagan malam ini. Namun pria itu tidak menginginkannya pulang. Keisha menghubungi Areliano namun tidak di angkat. Keisha akhirnya memilih menghubungi Bert. “Bert apa Areliano sedang sibuk?”
[Iya, apa nona ingin menitipkan pesan?]
Reagan yang berdiri di dalam lift menunggu dengan kesal karena Keisha tidak kunjung masuk. “Cepat,” bentak Reagan.
Keisha masuk ke dalam lift dan menekan tombol. “Sampaikan maafku karena tidak bisa menemaninya makan malam, hari ini aku pulang terlambat.”
[Baik Nona.]
__ADS_1