
“Tidak, aku tidak akan membiarkanmu kembali pada Areliano begitu saja!”
“Sebenarnya apa maumu?” tanya Keisha dengan nada frustasinya.
“Aku ingin anakku, aku ingin melihatnya tumbuh bahagia bersamaku,” jawab Reagan dengan nada pelannya, kepalanya tertunduk menatap perut Keisha. Tangan Reagan terulur meraba perut Keisha dan mengelusnya dengan penuh kasih sayang.
“Aku bisa mewujudkan keinginanmu, tapi tidak dengan menikah. Aku sangat mencintai Areliano,” jawab Keisha. Ia merasakan gerakan halus di perutnya saat Reagan mengusap dengan perlahan.
“Apa kau bisa menjaganya dengan baik? aku sangat menyayanginya,” ujar Reagan. Ia menatap Keisha dengan pandangan lembutnya.
Keisha menghembuskan nafas lega mendengar penuturan Reagan. “Aku dan Areliano akan menjaganya dengan baik, kau tidak perlu khawatir,” ucap Kiesha serius.
Reagan mendekatkan wajahnya pada perut Keisha, ia mengecupnya dengan lembut. “Tumbuhlah dengan baik, daddy tidak sabar menunggu kelahiranmu,” ucap Reagan. Ia memberikan elusan terakhirnya sebelum menarik diri.
Keisha tertegun saat lagi-lagi merasakan gerakan halus di dalam perutnya. “Sepertinya dia senang dengan sentuhanmu,” ujar Keisha.
“Benarkah?” tanya Reagan dengan wajah antusias dan bahagianya.
Keisha mengangguk. “Dia bergerak saat mendapat sentuhanmu.”
Tanpa sadar bibir Reagan tersenyum mendengar ucapan Keisha, ia sangat bahagia karena bayi yang ada di dalam perut Keisha menyadari kehadirannya.
__ADS_1
“Bolehkah aku mengecupnya lagi?”
Keisha mengangguk, ia merasakan geli saat Reagan menyentuh perutnya bayi yang ada di dalam rahim Keisha ikut bergerak.
Regan memberikan beberapa kali kecupan untuk terakhir kalinya, serta elusan lembut pada perut Keisha yang menonjol. Rasanya ia ingin egois seperti biasanya, dan membawa Keisha dan janinnya. Namun ia sadar rasa egoisnya tidak akan mendatangkan kebahagiaan untuk Keisha dan Areliano.
Keisha memandangi wajah Reagan yang tampak bersedih. Ini pertama kalinya ia melihat ekspresi Reagan yang berbeda.
Telepon Reagan bergetar panggilan masuk dari Areliano. Reagan menerima panggilan tersebut dan menempelkan ponselnya pada telinga kanannya.
[Bawa Keisha kembali.]
Setelah mendengar ucapan Areliano, Reagan mematikan sambungan teleponnya. “Kita kembali ke rumah Oppa Arsya,” perintah Reagan.
Keisha merasa sangat lega, ia tidak pernah berpikir jika Reagan cukup bijak di balik sifat kerasnya.
Keisha segera keluar dari dalam mobil saat sampai di kediaman Arsya. Ia berjalan menghampiri Areliano yang berdiri tegak dengan tangan terlipat serta wajah yang di penuhi amarah.
Reagan baru saja keluar dari mobil hendak berbicara dengan Areliano namun suara Areliano terdengar cukup lantang. “Pergi dari sini, aku malas melihat wajahmu!”
Reagan mengurungkan niatnya untuk berbincang sejenak dan memilih kembali masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
Keisha sedikit terkejut dengan nada yang cukup tinggi keluar dari mulut suaminya.
Areliano mengacuhkan Keisha dan berjalan masuk ke dalam rumah.
Melihat sikap Areliano yang marah, dengan cepat Keisha segera menyusul. Ia menarik tangan Areliano, hingga tubuh suaminya berhenti.
Areliano berbalik dan menatap tajam ke arah istrinya. Ia menarik tangannya yang di pegang Keisha. “Apa yang kalian lakukan selama tiga puluh menit?”
Keisha menceritakan semua perbincangannya dengan Reagan, serta pelukan dan reaksi bayinya.
Wajah Areliano semakin terlihat kesal setelah mendengar cerita Keisha. “Pergi mandi dan ganti baju!” titah Areliano.
“Besok saja ya,” ucap Keisha. Ia tidak ingin mandi malam-malam, rasanya ia ingin merebahkan tubuhnya yang terasa sedikit pegal.
“Cepat mandi, aku tidak suka sisa jejak-jejak Reagan menempel di tubuhmu,” tutur Areliano. Ia sangat cemburu mendengar Reagan mengecup perut Keisha dan mengelusnya dengan lembut. Ia menyesal mengusir Reagan, seharusnya ia memberikan sedikit pelajaran pada Reagan karena berani menyentuh istrinya.
“Dingin,” keluh Keisha dengan wajah memelasnya berharap Areliano luluh.
“Aku yang akan membantumu mandi supaya tidak terasa dingin,” jawab Areliano. Dengan sigap ia membawa tubuh Keisha ke dalam pangkuannya dan membawa tubuh istrinya.
Dari kejauhan Arsya dan Feriska mendengar semua berbincang Areliano dan Keisha. Arsya menatap wajah istrinya, “Apa semuanya akan baik-baik saja?”
__ADS_1
Feriska mengangguk penuh yakin, rasanya melihat Areliano cemburu seperti barusan sebuah kebahagiaan bagi Feriska. Terlebih ia sedikit bangga pada Keisha yang sangat jujur dan tetap pada pendiriannya.