Suamiku Bukan Ayah Dari Anakku

Suamiku Bukan Ayah Dari Anakku
Berusaha


__ADS_3

Keisha sedang membaca berkas promosi untuk iklan produk baru Havelaar Grup. Telepon di sampingnya berbunyi, Keisha segera mengangkat gagang telepon dan menempelkannya pada telinga. [Ke ruanganku sekarang!] Suara Reagan terdengar sangat jelas sebelum telepon di tutup.


Keisha segera mengikuti perintah Reagan, ia masuk ke ruangan CEO dan melihat pria itu tengah membaca berkas. Keisha membungkuk memberi hormat. “Ada yang bisa saya bantu Tuan?”


Kepala Reagan terangkat menatap Keisha. “Bantu saya berdiri!”


Keisha sedikit kebingungan dengan perintah Reagan, namun saat ia memperhatikan lebih detail wajah Reagan tampak pucat dan sedikit berkeringat. Keisha segera menghampiri Reagan, membantu pria itu berdiri.


“Ke ruangan pribadiku.”


Keisha membantu Reagan berjalan menuju ruangan pribadi Reagan yang ada pintu di pojok ruangan. Dengan sedikit susah payah akhirnya Keisha berdiri tepat di pintu, ia menerima kunci dari tangan Reagan untuk membukanya.


Setelah pintu terbuka Keisha membawa Reagan masuk ke dalam, ruangan yang berisikan tempat tidur serta nakas dan di sudut terdapat kamar mandi.


Dari dekat seperti ini Keisha cukup merasakan hawa panas yang menguar dari tubuh Reagan. Ia membantu membaringkan tubuh Reagan di tempat tidur. Setelah selesai ia hendak pergi namun tangannya di tarik oleh Reagan. “Ada apa lagi tuan?”


“Ambilkan obat demam di laci dan air minum,” perintah Reagan. Ia tidak tahan dengan rasa panas di tubuhnya. Kepalanya terasa berdenyut.


Keisha mengambilkan air minum, lalu kembali ke ruang pribadi mengambil obat yang ada di laci. Lalu menyerahkannya pada Reagan.


Regan tidak sanggup bangkit untuk duduk, ia hanya mengangkat kepalanya sedikit untuk meminum obat pemberian Keisha.


“Apa perlu saya panggilkan dokter?”


Kepala Reagan menggeleng, ia menutup kelopak matanya.

__ADS_1


“Kalau begitu saya permisi Tuan.” Keisha meninggalkan ruangan pribadi Reagan dan menutup pintunya dengan perlahan lalu keluar dari ruangan CEO menuju ruangannya.


Sampai di meja kerjanya ia melirik Luisa yang sedang menatap layar komputernya. “Sepertinya Reagan demam,” ucap Keisha.


Kepala Luisa menengok ke arah Keisha. “Tidak perlu khawatir dia akan baik-baik saja. Pesankan sup saja nanti untuk menu makan siang.” Luis sudah bekerja hampir tiga tahun lebih, dan ia sudah melewati beberapa kali kejadian Reagan sakit.


Keisha merasa sedikit tenang mendengar ucapan Luisa. Keisha kembali melanjutkan pekerjaannya. Beruntung hari ini tidak ada tamu penting atau rapat yang harus Reagan hadiri.


Jam makan siang sudah tiba, Keisha membawa sup daging yang sudah ia pesan menuju ruang pribadi Reagan. Ia membuka pintu begitu saja dan terkejut melihat Reagan yang tertidur tanpa pakaian atas. “Tuan, makan siangnya saya simpan di meja kerja ya,” teriak Keisha dari ambang pintu.


“Bawa kemari.” Suara Reagan terdengar sangat berat.


Keisha menundukkan pandangan berjalan masuk lalu menyimpan sup yang ia bawa ke atas nakas.


“Bantu aku duduk,” titah Reagan.


Dalam jarak dekat Reagan tidak menyia-nyiakan kesempatan emasnya. Tangannya meraba perut Keisha. “Bagaimana keadaannya, apa dia merepotkanmu?”


Keisha segera menjauh dari jangkauan Reagan. “Tidak perlu bersikap seperti itu, kini aku istri dari Areliano. Begitu pun juga dengan anak yang di kandungku secara resmi menjadi anak Areliano.”


Bibir Reagan tersenyum mengejek. “Kenapa kau bersikukuh seperti itu, sudah sangat jelas aku Ayahnya. Dia darah dagingku Keisha.”


“Aku hanya wanita yang di bayar olehmu untuk satu malam. Apa pun yang terjadi sekarang bukan hakmu, malam itu kau sudah mengambil hakmu sampai tuntas. Dan sekarang anak ini resmi milikku. Jadi jangan berharap aku akan mengakuimu sebagai ayah dari anak ini,” tegas Keisha.


Harga diri Reagan sedikit terhempas mendengar penuturan Keisha. “Apa kau tidak ingin bahagia hidup bersamaku dan anak kita?”

__ADS_1


Keisha menatap mata Reagan dengan serius. “Tidak, aku sangat bahagia menjadi istri Areliano.”


“Apa yang di berikan oleh Areliano, aku bisa memberikannya untukmu.”


Keisha menggelengkan kepalanya. “Kau terlalu ambisius. Rumah tangga seperti apa yang akan di bangun dengan rasa ambisius pada akhirnya akan hancur. Lebih baik kau cari saja wanita yang mau menikah dan mengandung anakmu.”


Keisha membungkuk memberi hormat. “Saya permisi Tuan,” ucap Keisha kembali bersikap formal dan keluar dari ruangan Reagan.


Sampai di ruang kerjanya Keisha melirik ponselnya yang berdering, panggilan dari suaminya. Keisha mengambil tasnya lalu menerima panggilan Areliano sambil berjalan keluar. [Aku sudah menunggu di tempat parkir depan gedung.]


“Tunggu sebentar, aku segera menuju ke sana,” jawab Keisha. Ia masuk ke dalam lift untuk segera sampai di lobi.


Keisha keluar dari gedung dan melihat mobil Areliano yang terparkir tidak jauh. Ia juga melihat Bert berada di bawah terik matahari berdiri di samping mobil. Bert membukakan pintu untuk Keisha. Keisha masuk dan duduk di samping Areliano.


Keisha melihat wajah serius Areliano yang menatapnya. “Kau membuatku menunggu lima menit,” ungkap Areliano.


Keisha memberikan kecupan singkat di pipi suaminya. “Hanya lima menit, lagi pula aku bukan klienmu. Jadi bebas untuk mengulur waktu dan membuatmu menunggu,” jawab Keisha dengan senyuman di bibirnya.


Areliano mencubit hidung Keisha cukup kencang. “Kau menguji kesabaranku?”


Keisha menggelengkan kepalanya, tubuhnya berhambur ke dalam pelukan suaminya.


Areliano membalas pelukan Keisha. Ia tidak masalah jika harus menunggu, asalkan Keisha datang dalam keadaan baik-baik saja.


“Bert kau terlalu asyik menonton kami. Cepat jalan!”

__ADS_1


Bert yang memandangi kaca spion depan terkejut dengan ucapan Areliano dan segera melajukan mobilnya.


__ADS_2