
Areliano tengah duduk di kursi kerja miliknya. Ia menatap Bert yang berada di depan meja kerjanya.
“Malam di mana saya menemukan nona Keisha, malam yang sama bertepatan dengan ibunya nona Keisha menjual kesucian nona Keisha pada pria. Saya juga sudah mengancam muncikari untuk memberikan informasi pria tersebut tapi mereka tetap bersikukuh menjaga kerahasiaannya kliennya. Saya tidak mendapatkan informasi mengenai pria yang nona Keisha temui di hotel.”
“Jadi hotel merahasiakan identitas pria itu dan kau tidak bisa melakukan apa-apa?” untuk pertama kalinya Areliano sedikit kecewa dengan hasil Bert.
“Rekaman CCTV hotel di beberapa lantai tertentu pun terhapus tepat di kejadian malam itu.”
Areliano dapat memperkirakan jika anak yang di kandung Keisha bukan dari pria sembarangan. Pencarian ini berada di titik buntu. Sepertinya ia harus berbicara langsung dengan Keisha agar ke depannya tidak ada masalah lagi.
Selepas jam pulang kantor seperti biasanya Areliano pulang ke rumahnya. Ia masuk ke kamar dan tidak mendapatkan tanda-tanda kepulangan istrinya. Akhirnya ia memilih membersihkan tubuhnya.
__ADS_1
Areliano keluar dengan pakaian tidurnya. Ia melihat Keisha yang baru saja datang dengan wajah lelahnya.
Areliano menghampiri Keisha dengan wajah datarnya. “Keisha,” panggil Areliano setelah berada di depan wanita itu.
Keisha yang baru saja duduk di sofa menengok ke karena panggilan Areliano, ia tersenyum kepada suaminya. “Iya,” jawab Keisha.
Areliano duduk di sofa tepat di samping istrinya. “Apa kau bisa memberitahuku siapa ayah dari anak tersebut?”
Keisha cukup terkejut dengan pertanyaan Areliano yang tiba-tiba. Dengan perlahan Keisha melepaskan tas dari bahunya. “Aku tidak bisa memberitahumu,” jawab Keisha dengan menundukkan kepalanya. Ia tidak siap memberitahu Areliano Sekarang, apalagi Reagan juga saudara Areliano. Ia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya jika Areliano tahu jika ayah dari anak yang di kandung Keisha anaknya Reagan.
“Berikan aku waktu, aku akan mengatakannya padamu jika sudah siap.” Keisha merasa harus memikirkannya matang-matang, sepertinya ini akan menjadi hal yang cukup rumit.
__ADS_1
Areliano menghela nafasnya. Ia menarik dagu Keisha agar menatapnya. “Kau tahu aku mencintaimu Keisha, aku bisa menerima semua yang telah terjadi. Tapi aku tidak ingin di kemudian hari sesuatu hal buruk akan terjadi.”
“Maaf,” hanya satu kata tersebut yang dapat di ucapkan Keisha.
Areliano membawa tubuh istrinya ke dalam pelukannya. “Bersihkan tubuhmu dan beristirahat lah, aku ada sedikit pekerjaan,” ucap Areliano setelah melepaskan pelukannya. Ia berjalan meninggalkan kamar.
Keisha membersihkan tubuhnya mengikuti perintah Areliano. Ia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, sibuk melihat berbagai resep menu di media sosial. Melihat berbagai macam menu makanan cukup membuat Keisha kembali merasa lapar, padahal ia sudah makan malam. Kepala Keisha menengok ke arah jam yang sudah menunjukkan pukul sepuluh malam tapi Areliano belum kembali ke kamar. Keisha merasa perutnya sedikit lapar, ia pergi ke dapur. Membuka lemari pendingin dan melihat persediaan buah. Pilihannya tertuju pada jeruk yang tampak menggoda dengan warna kulit oranye yang cerah. Ia juga mengambil pisang serta apel, lalu membawanya ke meja pantry dan duduk di sana.
Areliano mencari keberadaan istrinya ke dapur, karena tidak menemukan Keisha di dalam kamar. Ia ikut bergabung bersama Keisha. Duduk memperhatikan istrinya yang tengah mengupas kulit buah apel. “Biar aku saja,” ucap Areliano berinisiatif mengambil alih pekerjaan istrinya.
Keisha mengambil pisang dan mengupas kulitnya. Ia memakan pisang sambil menunggu apelnya di kupas oleh Areliano.
__ADS_1
Areliano memotong apel menjadi kepingan menaruhnya dalam piring agar Keisha dapat menikmatinya dengan mudah.
Lalu tangan Areliano mengambil jeruk dan mengupasnya. Setelah semuanya selesai Areliano memperhatikan Keisha yang sibuk memakan buahnya. Areliano memperhatikan wajah Keisha yang tampak ceria seperti biasanya. Meskipun terjadi sedikit perdebatan, kini Areliano sedikit merasa lebih tenang jika Keisha tidak setres. Wanita hamil terlalu beresiko jika stres, karena dapat membahayakan janinnya. Tidak banyak yang Areliano harapkan, ia hanya ingin Keisha tetap berada di sampingnya, ia sudah merasa sangat nyaman hidup bersama Keisha.