Suamiku Bukan Ayah Dari Anakku

Suamiku Bukan Ayah Dari Anakku
Lechon Buaya


__ADS_3

Sampai di rumah Areliano menuntun tubuh istrinya menuju kamar mereka. Areliano tidak bekerja hari ini, ia memerintahkan Bert untuk mengambil alih seluruh tugasnya. Areliano ingin menemani Keisha.


Keisha duduk di pinggiran tempat tidur. “Liano,” panggil Keisha.


Areliano menatap istrinya seolah berkata ‘ada apa?’


“Apa daging buaya enak di makan?” tanya Keisha dengan nada polosnya.


Areliano sedikit terkejut dengan pertanyaan Keisha. “Aku tidak tahu, kau ingin mencobanya?”


Keisha mengangguk dengan semangat. “Boleh?”


Areliano mengecup bibir istrinya. “Boleh,” jawab Areliano.


“Tapi aku ingin melihat cara membuatnya,” pinta Keisha.


“Memangnya mau di buat apa?”


Keisha berpikir sejenak, ia teringat video beberapa hari yang lalu lewat di media sosialnya trend lechon dari daging buaya. Dengan warna merah yang menggoda serta crispy. “Lechon,” jawab Keisha dengan semangat.


“Oke.” Areliano meminta Bert untuk memesankan buaya khusus konsumsi yang di ternak. Ia juga meminta chef terbaik untuk memasakkan lechon keinginan istrinya.


Setengah jam berlalu buaya hidup pesanan Keisha sudah datang. Dengan semangatnya ia ingin melihat buaya keinginannya.


Areliano meminta pelayanannya untuk membawa buaya ke area belakang serta menyiapkan segala keperluan memasak.


Keisha berjalan ke halaman belakang, bibirnya tersenyum melihat seekor buaya yang kaki dan tangannya di ikat. Ada perasaan kasihan dalam diri Keisha, ia ingin melepaskan ikatannya. Namun di urungkan karena mendapat tatapan tajam dari Areliano. “Kemari,” titah Areliano.


Keisha menurut dan berjalan menjauh dari buaya. Areliano melingkarkan tangannya di pinggang Keisha, agar istrinya tidak berbuat aneh-aneh seperti barusan.


Para pelayan membawakan kursi untuk duduk Keisha dan Areliano. Areliano memperhatikan wajah serius Keisha yang sedang melihat proses menguliti buaya.

__ADS_1


Setelah buaya bersih chef yang sudah meracik bumbu mulai mengoleskan bumbu pada tubuh buaya. “Aku ingin mencobanya,” ujar Keisha. Tangannya menunjuk chef yang sedang mengoles bumbu.


Areliano mengangguk. Tubuh istrinya mendekat ke arah chef dan ikut membantu mengoleskan bumbu. Areliano tersenyum melihat wajah serius Keisha yang sedang membantu mengoleskan bumbu.


Setelah buaya terbalut dengan lapisan bumbu kini waktunya di panggang.


Keisha kembali duduk di kursi yang berdampingan dengan Areliano. “Aku tidak sabar ingin memakannya,” ujar Keisha.


Areliano mengeluarkan sapu tangan dari sakunya saat melihat kening Keisha berkeringat. Dengan perlahan Areliano menyapu bersih keringat Keisha.


Keisha terpaku, matanya menatap raut wajah serius Areliano. Untuk pertama kalinya Keisha merasa Areliano tampannya berkali-kali lipat dari biasanya. Dada Keisha berdetak cukup kencang karena perlakuan Areliano.


Suaminya itu selalu berhasil membuat jantung Keisha tidak aman jika berada di dekatnya.



Setelah setengah jam menunggu Keisha menatap lechon buaya dengan panjang satu meter ada di hadapannya. Air liur Keisha memenuhi rongga mulutnya, ia tidak sadar untuk menyantap makanannya keinginannya.


Pelayan memberikan pisau kepada Areliano. Melihat Keisha yang sudah tidak sabar, Areliano memotong daging buaya dan menaruhnya di atas piring Keisha.


Areliano menerima suapan istrinya dan mulai mengunyahnya. Rasanya tidak begitu aneh.


Areliano tidak tertarik untuk memakannya lagi, ia lebih tertarik memperhatikan Keisha yang makan dengan lahapnya.


Keisha menyerah saat merasakan perutnya cukup begah. Areliano mengusap lembut perut Keisha. “Sepetinya dia sangat puas.”


“Terima kasih, sudah memenuhi keinginanku.” Keisha memberikan kecupan di pipi Areliano.


“Jangan sungkan untuk bilang padaku jika kau menginginkan sesuatu,” ucap Areliano. Tangannya mengacak puncak kepala istrinya.


***

__ADS_1


Masa cuti Keisha sudah habis, ia pergi bekerja di antara sopir. Sampai di ruangannya Keisha menatap tumpukan berkas di meja kerjanya.


Keisha menghela nafasnya lalu menyimpan tas dan duduk di kursi kerjanya. Keisha mengambil iPad kantor dan mengecek jadwal Reagan hari ini. Keisha cukup terkejut melihat lusa Reagan akan pergi keluar kota. Keisha segera memesankan tiket pesawat serta, hotel dan kebutuhan Reagan lainnya untuk tinggal dua hari.


Keisha membawa berkas yang harus di tandatangani Reagan. Ia pergi ke ruangan Reagan.


Setelah satu Minggu tidak melihat Keisha, Reagan cukup senang melihat wanita itu tampil tampak segar seperti biasanya.


“Ini tuan, berkas yang harus di tandatangani.” Keisha memberikan berkasnya pada Reagan.


Reagan menandatangani berkas dari Keisha. “Bagaimana kabar anakku di dalam perutmu, apa dia baik-baik saja?”


Kepala Keisha yang menunduk tengah melihat Reagan menandatangani berkas terangkat ke atas menatap mata Reagan. “Apa maksudmu?”


Reagan menutup berkas yang sudah ia tanda tangani. “Jujurlah Keisha, jika anak yang kamu kandung itu anakku.”


“Tidak, ini bukan anakmu,” tegas Keisha. Keisha mengambil berkas yang sudah di tanda tangani Reagan dan melangkahkan kakinya. Namun langkahnya tertahan karena tangannya di tarik Reagan. Keisha menepis tangan Reagan.


“Kau masih mengingat kejadian dua bulan lalu saat aku mengambil kesucianmu?”


Tubuh Keisha menegang kala di ingatkan tentang kejadian malam yang ia paling benci sepanjang hidupnya.


“Lalu jika kau yang mengambil kesucianku itu artinya ini anakmu? Kamu salah besar Reagan!” Bentak Keisha.


“Lalu anak siapa kalau bukan anakku, anak suamimu?” Reagan tersenyum meremehkan.


“Iya,” jawab Keisha.


“Bagaimana kau begitu yakin, bahkan suamimu saja bertanya padaku siapa pria yang kau temui dua bulan lalu. Areliano tidak bodoh Keisha, dia tahu janin yang kau kandung bukan anaknya. Jadi mengakulah jika itu anakku.”


Tubuh Keisha bergetar hebat, ia menahan tangis yang akan keluar dari matanya. Dia tidak ingin terlihat lemah di hadapan Reagan. “Kau terlalu percaya diri Reagan, janin ini bukan anakmu.”

__ADS_1


Keisha memilih keluar dengan cepat dari ruangan Reagan. Keraguannya kini tergambar jelas, anak yang ada di perutnya berkemungkinan besar anaknya Reagan. Tapi Keisha menampik kenyataan itu, Areliano sangat baik padanya. Bahkan sampai detik ini suaminya itu tidak pernah bertanya pada Keisha sedikit pun. Selain itu Keisha juga melihat ketulusan di setiap wajah Areliano yang memenuhi keinginannya, ia tidak pernah melihat Areliano terpaksa melakukannya.


“Keisha Karenza, lihat saja apa yang aku lakukan. Kalian harus hidup bahagia bersamaku,” tekad Reagan. Tangannya mengepal erat, ia harus mencari cara untuk merebut Keisha dari Areliano.


__ADS_2