Suamiku Bukan Ayah Dari Anakku

Suamiku Bukan Ayah Dari Anakku
Manusia Tak Di Undang


__ADS_3

Bert memarkirkan mobilnya setelah sampai di resto. Mereka turun dari mobil dan masuk ke dalam. Bert sudah memesankan tempat privasi untuk makan siang Areliano dan Keisha.


Keisha dan Areliano memesan makanan siang mereka. Kini mereka hanya tinggal menunggu pesanan datang. “Kapan kau akan berhenti bekerja?” tanya Areliano.


Keisha tampak berpikir sejenak, ia memang sudah tak membutuhkan uang lagi. Semua keperluannya sudah di tanggung sepenuhnya oleh Areliano. Bahkan gaji Keisha pun masih utuh. “Aku tidak tahu,” jawab Keisha.


“Lebih baik berhenti saja, dan fokus pada kehamilanmu,” saran Areliano. Kerap kali ia merasa kasihan melihat Keisha yang pulang dengan wajah lelahnya.


Keisha mengangguk. “Aku akan mengajukan surat pengunduran diri secepatnya.”


Areliano merasa tenang mendengar jawaban istrinya. Mereka makan siang dalam keadaan tenang sibuk dengan makanannya masing-masing.


Selesai makanan berat mereka menikmati makanan penutup. Keisha memesan mochi dengan isian buah. Ponsel Keisha bergetar, ia melihat ada panggilan masuk dari ibu mertuanya. “Ibu menelepon,” ujar Keisha memberitahu. Areliano menganggukkan kepalanya memberikan persetujuan untuk Keisha mengangkat teleponnya.


Keisha mengangkat telepon dari Feriska. [Halo Keisha]


“Iya Bu,” jawab Keisha begitu mendengar sapaan dari Feriska.


[Ibu ingin mengadakan baby shower bulan depan, bagaimana menurutmu?]


“Apa tidak terlalu cepat Bu? Kandunganku baru berusia sepuluh minggu,” jawab Keisha. Setahu dirinya baby shower idealnya di adakan beberapa bulan sebelum kelahiran bayi.


[Tidak terlalu cepat kok, lagi pula ibu hanya akan mengundang keluarga saja.]


“Kalau begitu nanti Keisha kabari lagi, Keisha ingin berbicara dulu dengan Areliano,” jawab Keisha. Ia tidak ingin gegabah dalam mengambil keputusan.


[Baiklah, ibu tunggu kabar baik kalian secepatnya.]


“Iya Bu,” jawab Keisha.

__ADS_1


[Jaga kandunganmu dan jangan lupa minum vitamin.]


Keisha menjauhkan ponsel dari telinganya setelah telepon berakhir. Ia kembali menyimpan ponselnya ke dalam tas.


“Ada apa?” tanya Areliano yang penasaran.


“Ibu ingin mengadakan baby shower, bulan depan. Apa boleh?”


“Biar aku saja dan ibu yang mengurusnya, kau tidak perlu ikut mengurus. Aku tidak ingin kau kelelahan.”


Bibir Keisha tersenyum mendengar ucapan Areliano, suaminya itu sangat perhatian. “Terima kasih.”


Usai makan siang Keisha di antar oleh Areliano sampai di depan gedung. Tangan Areliano menahan agar Keisha tidak turun.


“Ada apa?” tanya Keisha.


Keisha menumpuk tangannya di atas tangan Areliano. Ia mengangguk dengan senyuman di bibirnya. Tidak menyangka Areliano akan bersikap semanis ini, padahal ia sudah tahu jika anak yang di dalam perut Keisha bukan anaknya.


Keisha melepaskan tangan Areliano dari perutnya, ia menggenggam tangan suaminya sebentar dan bertatapan sebelum akhirnya memutuskan untuk turun dari mobil.


Keisha melambaikan tangannya saat jendela mobil tempat Areliano duduk terbuka. “Hati-hati.”


Keisha segera masuk ke dalam gedung untuk sampai di ruangannya. Jam makan siang sudah habis Luisa tampak di sibukkan dengan tumpukan pekerjaannya.


“Tadi Reagan mencarimu?” ungkap Luisa saat melihat Keisha duduk di kursi kerjanya.


“Ada apa?” tanya Keisha pada Luisa.


“Setengah jam yang lalu dia memintamu ke ruangannya, tapi aku bilang kau sedang makan di luar,” ungkap Luisa.

__ADS_1


“Baiklah kalau begitu aku ke ruangan Reagan dulu ya,” ucap Keisha. Ia berjalan menuju ruang Reagan. Dan masuk setelah mendapat ijin dari pemiliknya.


Langkah Keisha berjalan mendekat ke arah Reagan yang tengah memakai jas. “Apa Tuan ingin pergi?”


“Iya, antar saya pulang.”


Keisha mengangguk lalu mengambil ponselnya untuk menelepon sopir agar segera bersiap.


Keisha berjalan di belakang Reagan, sampai di basemen. Sopir sudah siap siaga membukakan pintu belakang untuk Reagan. Sementara Keisha masuk di kursi penumpang samping kemudi.


Keisha melirik ke spion tengah, Reagan tampak memejamkan matanya dengan tubuh yang bersandar. “Apa kita perlu ke rumah sakit?” tanya Keisha. Sedikit khawatir akan kondisi Reagan.


“Tidak.”


Keisha memilih mengalah dan membiarkan Reagan merasakan sakit yang di deritanya. Pria itu ternyata cukup keras kepala.


Sampai di kediaman Reagan Keisha melihat mobil berwarna merah muda terparkir. Untuk pertama kalinya ia melihat mobil berwarna terang itu ada di kediaman Reagan.


Sopir membukakan pintu untuk Reagan. Keisha keluar dari mobil, dan berjalan di belakang Reagan.


Reagan melihat Bianca yang tengah berdiri di depan pintu utama.


Keisha baru pertama kali melihat wanita ada di kediaman Reagan dengan baju minim yang hanya menutup bagian dada, serta bagian inti bawahnya. Rambutnya yang mengkilap terang berwarna hitam legam tampak lurus dan panjang sepinggang. Tangannya memegang koper berwarna merah muda seperti warna mobilnya yang terparkir.


Wanita tersebut berlari ke arah Reagan. Bianca mengecup bibir Reagan lalu memeluk tubuh Reagan dengan sangat erat. “Aku sangat merindukanmu,” teriaknya dengan wajah kegirangan.


“Lepaskan Bianca,” tegas Reagan.


Bianca tidak mengikuti keinginan Reagan, ia malah semakin erat memeluk Reagan menempelkan gundukan kenyalnya pada dada bidang Reagan.

__ADS_1


__ADS_2