Suamiku Bukan Ayah Dari Anakku

Suamiku Bukan Ayah Dari Anakku
Adik Luisa


__ADS_3

Reagan menjauhkan tubuh Bianca. “Jangan membuatku jengkel Bianca!”


Mendengar nada keras dari Reagan akhirnya Bianca memilih melepaskan pelukannya. Wajahnya tampak sedih dan berlinang air mata. “Aku adukan pada Daddy,” ucap Bianca dengan nada merajuk.


“Aku tidak peduli, malah itu lebih bagus.” Reagan berjalan masuk ke dalam rumah.


Keisha yang merasa canggung di tatap tajam oleh Bianca memilih ikut masuk ke dalam mengekor di belakang Reagan.


Bianca Demetri Havelaar, anak kedua dari Fiona dan Ignazio. Ia tahu meskipun masih memiliki hubungan keluarga dengan Reagan, namun ia sudah menetapkan dalam dirinya kalau kelak Reagan akan menjadi suaminya. Langkah tegas Bianca berjalan masuk menyusul Reagan dan wanita yang Bianca tidak ketahui namanya, namun melihat pakaiannya sepertinya wanita itu asisten pribadi Reagan.


Reagan membuka pintu kamarnya, ia membalikkan tubuhnya kala mendengar suara langkah di belakangnya yang terus berjalan. “Untuk apa kau mengikutiku?”


Keisha menghentikan langkahnya. “Tuan belum menyuruhku pergi.”


“Pergi sana!”


Keisha mengumpat pada dirinya sendiri yang bodoh. Lagi pula Reagan hanya minta di antar pulang, kenapa ia ikut masuk. “Kalau begitu saya permisi.”


Anggukan kecil dari Reagan menjadi akhir dari hari Keisha. Ia berjalan dan berpapasan dengan wanita yang Reagan panggil dengan nama Bianca.


“Kau asistennya Reagan?”


“Iya.”


Bianca meneliti penampilan Keisha yang tampak sangat tertutup. Ia bisa bernafas sedikit lega, setidaknya ia tidak harus bersaing dengan asisten Reagan yang akan mengikuti calon suaminya ke mana pun.


“Kau boleh pergi, titip salam pada kakakku Luisa. Informasinya sangat akurat,” ucap Bianca pada Keisha.

__ADS_1


Keisha mengangguk dan melanjutkan langkahnya. Dirinya cukup terkejut mengetahui bahwa Bianca dan Luisa kakak beradik, itu artinya mereka bersaudara dengan Reagan. Namun melihat tingkah Bianca sepertinya ada hal yang menarik di baliknya, tapi Keisha tidak ingin berasumsi yang tidak-tidak apalagi tanpa bukti. Ia keluar dari kediaman Reagan dan masuk ke dalam mobil. “Kembali ke kantor,” ucap Keisha pada sopir.


Keisha sedikit berpikir, untuk apa Reagan meminta di antar pulang oleh Keisha padahal bisa di antar sopir saja, jika memang hanya ingin pulang. “Ah pria itu selalu saja merepotkan,” batin Keisha merasa membuang waktunya dengan percuma.


Setelah kepergian Keisha dari hadapan Bianca wanita itu masuk ke dalam kamar Reagan. Bianca melemparkan tas selempang miliknya ke lantai, seolah membuang barang yang tidak berharga yang berisi ponsel keluaran terbaru yang ia beli beberapa jam lalu setelah tiba di kota kelahirannya.


Bianca berjalan mendekati Reagan yang berbaring di tempat tidur, tangan lentik Bianca meraba rahang Reagan bergerak ke lehernya.


“Bisakah kau pergi Bianca, aku sedang ingin beristirahat.”


Bianca meraba dari Reagan yang sedikit panas, namun bau keringat yang ada di tubuh Reagan membuatnya tidak bisa menahan diri.


“Kau bisa beristirahat setelah melakukan kegiatan panas kita,” ujar Bianca. Tangannya membuka satu persatu kancing Reagan.


Melaksanakan kegiatan panas yang di sukai Bianca hingga mereka menuju puncak yang sangat nikmat.


Telepon yang ada di meja Keisha berdering. Ia menghentikan aktivitasnya yang sedang membaca untuk mengangkat telepon. “Iya ada apa Tuan?”


[Batalkan acara ke luar kota, atur ulang jadwalnya.]


“Baik Tuan.” Keisha menghela nafasnya, ia harus mengatur ulang jadwal yang sudah ia susun.


Sore itu Keisha cukup sibuk hingga tidak sadar jika jam pulang telah tiba. Luisa merapikan meja kerjanya. “Aku duluan ya kei,” pamit Luisa.


“Iya, hati-hati.”


Keisha memerlukan sedikit waktu lagi agar pekerjaannya selesai dan tidak menumpuk esok pagi. Setengah jam berlalu akhirnya pekerjaannya Keisha selesai, ia mengecek ponselnya ada pesan masuk dari Areliano. [Aku pulang terlambat malam ini.]

__ADS_1


Keisha memasukkan ponselnya ke dalam tasnya, ia lalu keluar dari ruangannya. Keisha masuk ke dalam lift. Pintu lift terbuka di basemen. Ia menekan kunci kontak mobilnya, lalu masuk ke dalam.


Keisha memilih pulang ke rumah. Tanpa membersihkan tubuhnya, Keisha memilih pergi ke dapur untuk membuat makan malam untuknya dan Areliano.


Satu jam waktu yang cukup lama untuk Keisha membuat hidangan pembuka hingga penutup. Semuanya sudah selesai Keisha memilih ke kamar duduk sebentar di sofa ia menelepon Areliano. “Halo,” sapa Keisha saat sambungan teleponnya terhubung.


[Ada apa?]


“Aku sudah menyiapkan makan malam,” jawab Keisha dengan senyuman di bibirnya. Setelah beberapa hari ia tidak sempat menyiapkan makan malam. Ini harus menjadi makan malam yang sempurna untuk Areliano.


[Baik, aku akan segera pulang.]


Mendengar kabar kepulangan suaminya Keisha segera pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Selesai membersihkan tubuhnya Keisha sedikit merias wajahnya serta merapikan tatanan rambutnya untuk menyambut kedatangan Areliano.


Areliano menatap berkas-berkas yang ada di hadapannya, namun ia tidak sabar untuk segera pulang dan bertemu dengan Keisha. Areliano menghubungi Bert. “Ke ruangaku sekarang juga.”


Bert mengikuti perintah Areliano. Ia menghampiri meja Areliano.


Areliano menyerahkan berkas yang belum sempat ia baca dengan teliti pada Bert. “Kerjakan semuanya.”


Bert cukup terkejut dengan berkas yang menumpuk di tangannya.


“Kunci mobil? Malam ini saya bisa pulang sendiri, selesaikan pekerjaannya. Dan besok pagi berikan laporan detailnya.”


Bert menyimpan berkas pemberian dari Areliano ke atas meja, tangannya merogoh saku untuk mengambil kunci mobil yang di minta Areliano.


Setelah mendapat kunci Areliano melangkah pergi meninggalkan Bert di ruangannya.

__ADS_1


Bert sedikit terheran pada permintaan Areliano, pria itu berkata ingin menyelesaikan pekerjaannya yang menumpuk. Namun kini melimpahkannya begitu saja. Mulut Bert berdecap melihat tumpukan berkas yang di berikan Areliano.


__ADS_2