
Di sebuah tempat yang terjadinya bencana, yang di akibatkan oleh pertempuran antara kultivator dan iblis. Yang semula tempat tersebut hijau dan damai, kini sekarang menjadi berbeda. Banyak lubang yang terlihat serta kobaran api yang membakar beberapa pohon Seorang anak kecil tengah menangis sambil meratapi kematian orang yang paling berharga untuknya.
"Kakek... Hiks..."
Perasaan yang sedih akibat kehilangan keluarga yang dia punya. Perasaan tertusuk akibat melihat satu satunya keluarga yang dia punya mati. Perasaan itu yang sekarang dia rasakan dan baru pertama kali dia sangat sakit meskipun tidak ada luka di tubuhnya.
Sedangkan di arah lain terlihat ketiga kultivator yang tengah selesai dalam membunuh iblis. Mereka bertiga melayang diatas langit dengan pedang yang dijadikan sebagai alat untuk mereka terbang.
"Apa kau sudah selesai mengurus mayat si iblis ? Kalau sudah kita harus segera kembali ke sekte untuk membuat laporan !" tanya sang wanita yang mengenakan pakaian berwarna biru.
Pria yang ditanya oleh wanita tadi langsung memasang raut muka kesal. 'Cih dasar ****** ! Kalau bukan kau anak dari patriak maka aku tidak akan sudi menuruti semua perintahmu !' Karena perbedaan status pria itu hanya bisa mengumpat di dalam hatinya sambil mengutuk si wanita yang berbicara dengannya.
Sedangkan pria yang satunya bersama mereka hanya diam tanpa menunjukkan ekspresi di wajahnya.
Setelah selesai mengurus si iblis mereka bertiga langsung terbang menuju ke arah sekte mereka berada. Tidak peduli dengan dampak yang mereka sebabkan karena yang terpenting bagi mereka hanyalah membunuh si iblis. Asalkan si iblis mati maka tugas mereka selesai.
Anak yang kehilangan kakeknya tadi masih menangis. Dia menengok ke arah samping melihat kepergian dari ketiga kultivator yang menyebabkan semua ini terjadi.
__ADS_1
Angin bertiup dengan hembusan pelan. Awan berkumpul dengan warna yang menggelap. Lingkungan sekitar yang menyeru memahami perasaan yang di rasakan oleh bocah itu.
"Kakek... Kaulah satu-satunya keluarga yang aku punya. Tapi... tapi... sekarang aku sendirian. Kemana aku harus pergi. Aku sudah tidak punya keluarga lagi".
Bocah itu sekali lagi menangis didepan kuburan yang telah dibuatnya. Kuburan tempat dia memakamkan kakek yang merupakan satu-satunya keluarga yang dia punya.
Sekarang bocah tersebut sebatang kara. Tanpa kerabat ataupun orang yang dia kenal. Dia tidak tahu sekarang harus berbuat apa.
Meskipun demikian bocah itu juga sadar kalau tidak ada gunanya dia tetap berdiam sambil menangisi kakeknya yang telah meninggal. Seseorang yang telah mati tidak akan bisa hidup lagi, itulah yang bocah itu tahu.
Sebelum pergi meninggalkan kuburan kakeknya bocah itu mengambil beberapa tangkai bunga untuk ditaruh di atas kuburan kakeknya. Setelah itu dia mendoakan agar kakeknya tenang di alam sana. Kemudian bocah tersebut pergi meninggalkan kuburan kakeknya.
...QI REFINING...
...FONDATION BUILDING...
...CORE BEARING...
__ADS_1
...GOLDEN CORE...
...ORIGINAL INFANT...
...INFANT TRANFORMATION...
...VOID REFINING...
...FROM SYNTHESIS...
...CROSSING CALAMITY...
...MAHAYANA...
Catatan :
Seperti biasa setiap ranah dibagi menjadi sembilan tahap. Dimana tahap satu sebagai awal ranah dan tahap sembilan sebagai puncak ranah.
__ADS_1
Mungkin beberapa dari kalian ada yang sudah tahu apa arti dari kata patriak. Tetapi saya akan menjelaskan bagi kalian yang belum tahu apa itu arti dari kata patriak. Sebenarnya arti dari kata patriak adalah seorang pemimpin. Sebuah sekte atau sebuah perguruan akan ada seseorang pemimpin yang mengatur segala hal tentang tempat tersebut. Orang seperti itu biasa disebut sebagai pemimpin atau patriak. Seperti contoh : patriak sekte yang merupakan pemimpin dari sebuah sekte.