Sung Lin

Sung Lin
Pandai besi


__ADS_3

"Master kapan kamu akan membiarkanmu senjata ?"


Sung Lin mengeluh terus kepada gurunya yang selalu hanya berbuat janji. Sudah dua bulan berlalu semenjak kejadian di dalam hutan. Kini Sung sedang mengemis agar dibuatkan senjata oleh gurunya.


"Sudah kau lakukan saja apa yang aku katakan" , jawab master buku.


Sung Lin terus berjalan dan berjalan hingga pada akhirnya dia sampai di depan tempat pandai besi.


"Untuk apa kita kemari ? Bukankah kata master kita akan membuat senjata ?"


Master buku memukul kepala Sung Lin dengan tongkat yang entah mana dia dapat. "Dasar murid bodoh ! Memang dari mana semua asal senjata yang terpajang di dinding itu. Ini adalah tempat pandai besi membuat senjata dan menjualnya, tentu di dalam pasti ada peralatan untuk kamu bisa membuat senjatamu".


...(TANG !)...


...(TANG !)...


...(TANG !)...


Terdengar suara pukulan dari palu. Aroma khas dari besi yang panas juga tercium oleh hidung Sung Lin. Dia kemudian pergi menghampiri pria berotot yang tengah memukul lempengan besi. Pria berotot yang menyadari kedatangan Sung Lin, dia langsung berbicara.


"Ada urusan apa kemari ? Jika ingin membeli senjata kamu bisa melihat dan memilih yang ada di dinding. Kalau kamu ingin senjatamu sendiri maka aku bisa membuatkannya !" ucapnya sambil tetap fokus memalu.


Nada bicara dari pria tersebut sedikit membuat Sung Lin jengkel. Dan tidak itu saja pria itu berbicara kepada Sung Lin tanpa melihat wajahnya.


Pria yang memalu itu juga sadar akan tatapan dari Sung Lin. "Sikapku memang begini. Aku tidak mau bertele-tele karena aku sangat benci jika diganggu saat dalam proses membuat senjata".


Karena sikap pria itu yang langsung ke intinya Sung juga tidak ingin bertele-tele dan langsung mengutarakan maksud dan tujuannya kemari.


"Aku kesini bukan ingin membeli senjata ataupun dibuatkan senjata oleh Anda, melainkan aku ingin meminjam bengkel untuk membuat senjataku sendiri"


Si pria tersebut langsung berhenti dari melakukan pekerjaan memalunya Dia kemudian menatap Sung Lin dengan raut wajah tidak suka.

__ADS_1


"Nak apa kamu meremehkan teknik seorang pandai besi ? Jika kamu kesini hanya untuk mengatakan omong kosong seperti itu maka lekaslah pergi karena aku tidak ingin mengurusi pelanggan seperti mu" , ucapnya sambil melanjutkan pekerjaan memalunya kembali.


Master buku tentu saja sudah menduga kalau hal ini akan terjadi, jadi dia sudah mempersiapkan rencana agar pandai besi itu bisa mengijinkan Sung Lin untuk menggunakan bengkelnya.


"Nak.."


Master buku memberikan petunjuk agar Sung Lin bisa memakai bengkel pandai besi tersebut.


"Baiklah bagaimana jika kita buat taruhan saja paman. Jika aku mampu memperbaiki pedang yang rusak ini maka paman harus memperbolehkan ku untuk menggunakan bengkel. Dan jika aku gagal maka aku akan bekerja disini selama satu bulan penuh tanpa di gaji !".


Panda besi itu merasa taruhan ini tidak begitu buruk. Dan malah dia akan merasa untung jika mempunyai pekerja sukarela tanpa dibayar sedikitpun.


"Tawaran menarik. Aku setuju dengan taruhanmu dan aku ingin kau bekerja disini bukan hanya satu bulan melainkan tiga bulan" , jawab pandai besi itu dengan tersenyum.


"Tidak masalah, karena aku akan memenangkan taruhan ini !" jawab Sung Lin dengan percaya diri.


Sung Lin langsung mengambil satu pedang rusak dari tong kayu. Dia lalu segera menuju ke dalam yang terdapat sebongkah besi dengan ukuran yang besar. Di sanalah Sung Lin akan memperbaiki pedang yang ia pegang.


Dia menggulung lengan bajunya sampai ke pundak agar memudahkan dalam proses memperbaiki senjata.


Si pandai besi masih bersikap seperti biasa karena dia tahu kalau itu hanya bualan semata. Xia tidak khawatir akan kalah karena teknik menempa cukup sulit untuk di pelajari bocah seumurannya. Untuk menjadi penempa profesional maka seseorang harus bekerja keras dan pantang menyerah dengan itu pedang yang dihasilkan akan bagus dan tajam.


Mester buku kemudian untuk sementara mengambil alih tubuh Sung Lin saat dalam proses penempaan. Master buku yang sudah mengendalikan tubuh Sung Lin, dia langsung memulai proses menempa.


...(TANG !)...


Sebuah panas langsung keluar dari pedang yang ia tempa. Panas itu menjalar dari bagian yang terpukul ke seluruh tubuh pedang dengan merata. Master buku yang memegang lalu mengeluarkan api putih mengalirkannya ke palu untuk membersihkan kotoran yang menempel pada pedang.


Si pandai besi itu tidak bisa tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Masalahnya bocah yang seharusnya masih bermain kerikil saat ini malah menunjukkan teknik menempa yang begitu luar biasa dan belum pernah dia lihat selama seluruh hidupnya.


"Apa ? Bagaimana mungkin ?"

__ADS_1


Master buku terus saja mengulangi teknik itu sampai semua kotoran menghilang dari tubuh pedang. Setelahnya dia memasukkan Qi spiritual kedalam proses menempanya menjadikan pedang itu pedang spiritual yang mampu mengeluarkan Qi dua kali lipat dari sebelumnya.


Sung Lin yang berada dalam kesadaran meskipun tubuhnya sedang bergerak sendiri juga kagum dengan apa yang Masternya lakukan.


"Nak ini teknik yang aku tunjukkan ini adalah teknik yang biasa digunakan di alam immortal !" ucap master buku dalam kepala.


"Alam immortal ?" Sung Lin merasa bingung dengan apa yang dikatakan oleh gurunya.


"Heh.. suatu hari nanti kamu juga akan mengerti sendiri".


Beberapa menit kemudian pedang yang semula tumpul dan karatan saat ini telah berubah menjadi pedang yang cukup tajam dan mampu mengeluarkan Qi spiritual dengan mudah.


"Bagaimana paman ?" tanya Sung Lin yang sudah kembali ke kondisi semula.


"Nak, dari mana kau mempelajari teknik tadi ? Seumur hidupku aku belum pernah melihat teknik menempa yang seluar biasa ini !"


Sung Lin tidak tahu harus menjawab bagaimana karena yang melakukan barusan adalah gurunya dan bukan dia.


"Aku mempelajarinya dari guruku, tapi sayangnya guru sudah pergi dan aku tidak tahu dimana dia" , jawabnya dengan asal.


"Gurumu pasti adalah seorang penempa terbaik di seluruh benua ini. Haish... meskipun aku enggan mengakuinya tapi tidak dipungkiri kamu yang memenangkan taruhan ini" , ucap si pandai besi.


Dengan Sung Lin yang memenangkan taruhan, sekarang dia diperbolehkan untuk menggunakan bengkel.


"Ngomong-ngomong aku belum tahu siapa namamu ?" tanya pandai besi.


"Namaku Sung Lin, kalau paman sendiri ?"


"Aku Jao, kamu bisa memanggilku paman Jao !" jawab Jao dengan lantang.


"Tapi nak Lin pedang seperti apa yang ingin kamu buat ?" tanya Jao dengan penasaran.

__ADS_1


"Aku tidak akan membuat pedangnya sekarang karena aku belum mempunyai bahannya. Dan untuk itu aku akan mencarinya terlebih dahulu".


Itu yang master buku katakan kepada Sung Lin. Mereka ke sini hanya untuk mendapatkan ijin terlebih dahulu sebelum mereka membuat pedang yang sebenarnya.


__ADS_2