
"Nak Lin bisakah kau kemari !" panggil kakek Wang.
Sung Lin yang merasa terpanggil segera kesana. "Ada apa kakek ?" tanyanya yang tidak tahu kenapa dia dipanggil.
Kakek Wang lalu mengambil beberapa uang dari laci meja dan memberikannya kepada Sung Lin. "Tolong belikan kacang merah dan beberpaa bahan. Sudah aku tuliskan di lembaran ini" Kakek Wang memberikan lembaran kertas kepada Sung Lin.
"Baik kek !" jawab Sung Lin. Dia lalu pergi ke pasar untuk membeli bahan-bahan yang ada di lembaran.
Beberapa saat kemudian Sung Lin sudah membeli apa yang ada di kertas. "Aku rasa sudah membeli semuanya" Sung Lin lalu mengecek apakah ada bahan yang terlewat atau tidak.
Di alun-alun kota terdapat sebuah arena latih tanding yang di khususkan untuk para kultivator. Kebetulan Sung Lin harus lewat area alun alun saat hendak berjalan pulang. Sung Lin menengok ada sebuah pertandingan yang sedang berlangsung dan karean tertarik Sung Lin berjalan mendekat untuk menonton beberapa gerakan yang ditampilkan.
Sung Lin melihat seorang gadis yang tengah latihan melawan seorang pria yang sedikit lebih dewasa dari gadis itu. Gadis itu dengan beberapa gerakan dengan mudah memukul mundur lawannya.
"Hiah... Huh... Aku rasa semua ini akan jadi membosankan" ucap Lie Mei.
Karena bosan dirinya yang selalu menang Lie Mei menoleh ke area penonton dan melihat Sung Lin yang tengah menatapnya.
'Hm~ anak yang tampan' pikir Lie Mei yang melihat Sung Lin sambil tersenyum.
Sung Lin tidak tahu kenapa Lie Mei menatap dirinya dengan tatapan seperti itu. Padahal pertandingan masih berlangsung. Dan itu adalah sebuah kesalahan jika mengabaikan hal seperti itu.
Tak lama kemudia lawan Lie Mei dengan cepat mulai mendekat untuk melancarkan pukulan kepada Lie Mei.
Sung Lin yang melihat itu langsung berteriak untuk memberitahu Lie Mei. "Awas ! Dibelakang !!"
Lie yabg sudah sadar dari tadi langsung menghindari serangan tersebut. Lalu dia dengan cepat memukul lawannya sampai terpental mundur beberapa meter hingga melewati garis yang di tentukan.
"Pemenangnya adalah Lie Mei !" teriak wasit yang mengatur jalannya pertandingan.
__ADS_1
"YEAH !"
"YEAH !"
Sorak para penonton yang menonton pertandingan Lie Mei.
Lie Mei lalu melompat turun menghampiri Sung Lin yang ada disana. Dengan perlahan melangkah berjalan mendekati Sung Lin. "Apakah kamu adalah orang yang tadi berteriak ? Terimakasih karena telah memberitahuku" ucapnya sambil tersenyum.
"Itu bukan apa-apa. Aku hanya kebetulan tadi melihatnya" ucap Sung Lin.
"Oyah ? Hm.. Ngomong-ngomong hey namamu siapa ? Kalau aku Lie Mei dari keluarga Lie".
"Aku Sung Lin".
Sekarang Lie Mei tahu bahwa anak tampan yang ada di depannya ini bernama Sung Lin. Tapi dia tidak tahu keluarga mana dikira ini yang memiliki marga Sung.
"Oh ini ? Ini hanya bahan makanan seperti kacang merah" jawab Sung Lin sambil menunjukkan isi yang ada di dalam bungkusan.
"Aku tadi membeli ini untuk stok bahan makanan di tempat aku bekerja" jawab sekali lagi Sung Lin.
Lie Mei tidak menduga ternyata anak di depannya ini juga bekerja. Lie Mei kira bahan yang di belinya itu adalah ibunya yang suruh.
"Jika begitu kamu bekerja dimana ? Mungkiin jika ada waktu aku akan kesana" tanya Lie Mei.
Sung Lin lalu memberitahu Lie Mei dimana dia bekerja. Setelah itu dia pamit kepada Lie Mei karena kakek Wang mungkin sudah menunggunya dari tadi. "Kalau begitu aku pergi dulu. Jangan lupa untuk mapir !" ucap Sung Lin sambil melambaikan tangan.
Sekarang Sung Lin tengah dalam perjalanan pulang ke tempat Kakek Wang. Dia senang karena dia baru saja mendapatkan seorang teman. Tapi di tengah perjalanan ada sesuatu yang terasa janggal yang tidak di sadari oleh Sung Lin.
"Hey nak, apa kamu sadar ada seseorang yang mengikutimu ?" tanya Master Buku kepada Sung Lin.
__ADS_1
Sung Lin menjadi waspada setelah diberitahu oleh gurunya kalau ada orang yang tengah mengikutinya. Sedikit Sung Lin menoleh ke belakang untuk melihat siapa orang yang ingin berniat jahat kepadanya.
'Bukankah itu orang yang kutendabg dua hari lalu !?' pikir Sung Lin setelah melihat siapa orang yang mengikutinya dari tadi.
Sung Lin segera lari ke sebuah gang untuk menghindari Lie Ji yang telah mengikutinya. Sedangkan Lie Ji yang telah ketahuan segera bergerak lebih cepat untuk mengikuti Sung Lin.
Saat pada sebuah belokan gang Lie Ji sudah tidak melihat Sung Lin lagi. Dia mulai kesal sambil memukul tembok yang ada di sampingnya. "Sial ! Bocah itu berhasil lari dariku !"
Berharap dapat menemukan rumahnya dnwgan cara mengikutinya diam diam. Tapi sayang dia sudah dulu ketahuan sehingga bocah yang di ikutinya lepas dari pandangannya.
'Tapi tidak perlu khawatir karena sekarang aku tahu kalau bocah itu tinggal di kota ini. Hanya perlu waktu sampai aku melihatnya kembali' Lie Ji tersenyum dengan senang lalu dia berbalik dan pergi dari gang tersebut.
Sebenarnya Sung Lin tidak terlalu jauh pergi. Malahan Sung Lin bersembunyi tepat di dalam tong sampah yang ada didepan Lie Ji.
Merasa situasi sudah aman Sung Lin lalu keluar dari tong sampah. Karena pengendalian Qi yang di ajarkan gurunya. Sung Lin berhasil menghindar dari orang yang mengejarnya.
"Fiuh... Kali ini aku berhasil menghindar dari orang itu. Lebih baik kedepannya aku harus lebih waspada lagi, jika tidak karena guru dia pasti sudah tahu dimana akau tinggal".
Setelah itu Sung Lin pergi berlari ke tempat kakek Wang.
Di malam harinya Sung Lin mengendap-ngendap lagi untuk pergi ke gua yang ada di gunung. Setelah sampai di sana dia langsung berlatih menggunakan teknik yang telah di berikan gurunya. Aura berwarna emas sedikit dan samar muncul di sekitar badan Sung Lin.
Aura itu adalah bukti kalau Sung Lin tengah menerapkan teknik itu pada tubuhnya. Teknik yang memfokuskan dalam memperkuat fondasi sekaligus tubuh. Setelah teknik ini selesai di terapkan maka Sung Lin akan memiliki fondasi yang kokoh dan tidak mudah gentar saat menghadapi petir malapetaka saat kenaikan tingkat.
Seseorang biasanya kualahan saat menghadapi hukuman petir. Mereka biasanya mengandalkan berbagai macam artefak untuk menangkal petir tersebut. Tepi dengan teknik ini Sung Lin tidak memerlukan hal seperti itu, malahan petir yang menyambar dirinya akan membantunya dalam menempa tubuhnya agar bertambah kuat dan tidak mudah tergores oleh pedang.
Di tengah pelatihan yang Sung Lin lakukan tiba-tiba datang dua orang yang tengah mengarah ke gua yang Sung Lin tempati. Dan karena merasakan adanya dua kehadiran yang kuat Sung Lin segera membuka matanya.
''Siaoa mereka ?'
__ADS_1