
"Sudah lama aku tidak melihat-lihat pasar. Aku penasaran kira-kira apakah ada yang berubah setelah aku pulang dari pengasingan ?" ucap Guang Feifei sambil melihat ke sekelilingnya.
Sudah satu tahun dia pergi dalam pengasingannya untuk mencari terobosan dalam kultivasinya. Dan sekarang setelah dia berhasil menerobos sampai ranah Golden Core akhirnya dia kembali. Feifei merasa senang dapat melihat juga merasakan suasana di dalam kota setelah satu tahun dia tinggalkan.
Feifei berjalan dengan perlahan sambil melihat kios kios yang memperjual belikan barang dagangan mereka. Salah satu dari kios itu juga menjual sebuah pernak pernik yang cukup menarik di mata Feifei.
Feifei mendekat dan melihat kalung yang di jual di kios tersebut. Kalung yang Feifei lihat terbuat dari batu giok dengan inti hewan buas sebagai daya tariknya.
"Hai putri, apa anda menyukainya ? Ini hanya seharga 5 tael perak" ucap bibi yang mempunyai kios tersebut.
"Baiklah" jawab Guang Feifei.
Saat mau mengambil uang yang ada di kantongnya. Tiba-tiba Feifei di kejutkan dengan orang yang tiba-tiba muncul di sampingnya.
"Halo Putri Feifei. Sudah lama tidak bertemu ya !"
Orang yang tiba-tiba muncul di samping Feifei ternyata adalah Lie Ji. Seorang anak dari perdana mentri istana kerajaan. Bakatnya juga tidak kalah baik dengan Feifei. Sekarang Lie Ji berada di ranah Core Bearing menengah.
"Ternyata dewi ku masih cantik meskipun sudah satu tahun kita tidak bertemu" ucap Lie Ji kepada Guang Feifei.
Feifei merasa jengkel saat Lie Ji berada di dekatnya. Meskipun sudah satu tahun tidak bertemu tapi sifat Lie Ji tidak berubah dan masih saja membuat Feifei merasa terganggu.
"Apa yang kau mau !?" tanya Guang Feifei dengan nada dingin.
"Sudah lama kita tidak bertemu. Jangan bersikap dingin begitu" jawab Lie Ji sambil mengusap rambutnya.
Dengan tegas Feifei pun membalas perkataan dari Lie Ji, "Beberapa orang memang tidak perlu untuk ditemui !"
Lie Ji sedikit terkejut dengan jawaban yang di berikan oleh si putri. Memang Lie Ji sudah menebak reaksi apa yang akan ditunjukkan si putri saat bertemu dengan Lie Ji. Tapi ini di luar dugaan bahwa jawabannya akan sedikit menyinggung hati Lie Ji.
Sedangkan di arah lain Sung Lin saat ini tengah berada di depan toko yang menjual herbal. Dia tengah memegang selembar kertas yang berisi berbagai macam herbal dengan harga yang cukup mahal.
__ADS_1
"Watu yang sudah ditunggu-tunggu akhirnya tiba juga. Selama ini aku sudah bekerja sangat keras tanpa istirahat sekalipun".
Sung Lin sudah mempersiapkan banyak uang untuk membeli beberapa herbal yang di butuhkan. Dan untuk mengumpulkan semua uang itu dia harus bekerja selama satu bulan penuh.
Sung Lin lalu memasuki toko herbal itu dan langsung menghampiri sang pemilik toko. Dengan memberikan selembar kertas tersebut maka pemilik dari toko herbal akan tahu apa yang Sung Lin butuhkan.
"Bos, tolong siapkan semua herbal yang ada di dalam kertas ini !" ucap Sung Lin sambil memberikan selembar kertas.
Bos pemilik toko herbal langsung mengambil dan membaca herbal yang di tulis di kertas itu. Setelah selesai membaca si Bos langsung menyiapkan herbal yang di butuhkan. Butuh beberapa watu untuk menyiapkan herbal yang Sung Lin butuhkan.
Setelah semua herbal selesai disiapkan. Si Bos langsung menaruh herbal itu di meja pembayaran.
"Nak, aku sudah menyiapkan herbal yang kamu butuhkan, tapi untuk jaga-jaga apa kau tahu kegunaan herbal ini ?" tanya si Bos kepada Sung Lin.
Sung Lin pun langsung menjawab pertanyaan itu dengan mudah, "Bukankah herbal digunakan untuk membuat obat !? Memangnya fungsi apa lagi yang dimiliki herbal selain itu ?"
"Haish... Dasar bocah. Sudahlah semua ini harganya 3 tael emas dan 12 tael perak".
Sung Lin keluar dari toko herbal setelah dia selesai membeli semua yang ada di lembaran kertasnya. Sambil membawa satu kantong yang penuh dengan herbal. Sung Lin berjalan untuk kembali ke tempat kakek Wang.
Saat dalam perjalanan kembali dia tidak sengaja melihat ada keramaian di salah satu kios. Karena penasaran Sung Lin berjalan ke arah tempat yang ramai itu. Sampai disana dia melihat dua orang yang tengah berselisih hanya karena masalah aksesoris.
"Terimalah kalung ini. Aku secara baik hati membelikannya untukmu dewiku" ucap Lie Ji sambil menyodorkan kalung itu kepada Feifei.
Feifei masih tidak mau menerima kalung pemberian Lie Ji, karena kalung itu memang sudah mau Feifei beli. Tapi sekarang malah dibeli oleh Lie Ji yang selalu membuat Feifei jengkel.
"Tolong cepat diterima. Jika tidak aku akan terlihat seperti orang bodoh karena dilihat oleh banyak orang" ucap Lie Ji.
Dia masih dalam postur yang aneh karena memberikan kalung itu dengan tingkah yang berlebihan. Dan karena dilihat oleh banyak orang membuat dirinya menjadi semakin malu.
"Huh... Kau berikan saja kalung itu kepada ibumu ! Bukannya kau bilang ingin memberikannya kepada orang yang kau cintai ? Semoga ibumu menerima cintamu !" ucap Feifei sambil berbalik.
__ADS_1
"Pfft..." Sung Lin menahan tawa karena melihat pernyataan cinta yang di tolak. Meskipun dia sudah menahannya, suara Sung Lin masih bisa di dengar oleh beberapa orang yang ada di sana.
Lie Ji merasa malu karena pernyataan cintanya di tolak di depan orang banyak. Tapi yang lebih membuat malu Lie Ji adalah dirinya yang bahkan sampai ditertawakan oleh seorang bocah yang tidak tahu darimana asalnya.
Lie Ji kemudian berjalan mendekat ke arah bocah yang menertawakannya. Dia lalu berdiri di depan bocah itu sambil berkata, "Bocah ! Apa yang sedang kau tertawakan !?"
Sung Lin kemudian berhenti tertawa saat melihat Lie Ji berada di depannya sambil berbicara kepadanya.
"Tidak. Aku tidak menertawakan apa-apa" jawab Sung Lin sambil memalingkan mukanya.
"Aku tahu kau pasti sedang menertawakan ku kan !?" Lie Ji merasa kesal saat bocah di depannya tidak mau mengaku.
"Bocah ku tanya kau dimana rumahmu ? Biar aku buat perhitungan dengan orang tuamu karena tidak becus dalam mendidik anaknya !"
Sung Lin mulai berpikir jika dia memberitahu kalau dirinya tinggal di tempat kakek Wang, maka kakek Wang lah yang akan terkena masalah karena perbuatan Sung Lin.
"Lie Ji ! Kenapa kau mengusik seorang bocah !?" teriak Guang Feifei dari arah belakang.
Lie Ji kemudian berbalik dan berkata, "Bocah ini dulu yang cari masalah. Aku hanya berbaik hati untuk mendisiplinkannya".
Feifei merasa marah kepada Lie Ji yang berbuat seenaknya. Melampiaskan emosinya kepada seorang bocah karena dia baru saja di tolak oleh Feifei.
"Bocah itu tidak ada kaitannya dengan masalah tadi ! Kau tidak seharusnya mengusik dia !" teriak Guang Feifei dengan nada yang tinggi.
"Memang benar. Tapi siapa suruh dia tadi tertawa" jawab Lie Ji sambil mengangkat kedua tangannya tidak peduli dengan perkataan Feifei.
Sung Lin yang melihat kesempatan dia lalu menendang telur Lie Ji dengan sangat keras.
"Ack !" Lie Ji berteriak kesakitan sambil memegang benda pentingnya yang terasa sakit.
Setelah itu Sung Lin langsung lari meninggalkan tempat lokasi kejadian. 'Dasar orang bodoh' pikir Sung Lin.
__ADS_1
"Dasar bocah ! Akan aku ingat wajahmu !"