Sung Lin

Sung Lin
Buku Immortal temporal spirit


__ADS_3

'Tak kusangka mereka cepat sekali dalam mengejarku' pikir Dong Feng.


Dong Feng segera mengeluarkan sebuah buku untuk di berikan kepada Sung Lin. "Bocah aku berikan buku ini untukmu. Jangan perlihatkan kepada siapapun termasuk orang yang kau percaya sekalipun".


Sung Lin menerima buku tersebut. Buku tersebut berjudul . Buku yang terlihat sudah tua dan sangat kuno.


Setelah Dong Feng selesai memberikan buku itu kepada Sung Lin. Dia segera pergi untuk mengalihkan perhatian ke dua orang yang mengejarnya. Ini


Sedangkan Sung Lin hanya bisa diam dan melihat Dong Feng yang sedang dikejar oleh dua orang. Sebenarnya Sung Lin ingin membantu dan melawan orang yang mengejar Dong Feng, tapi perbedaan kekuatannya dengan orang itu sungguh jauh. Dia tidak bisa melawan mereka karena kekuatan Sung Lin yang lemah.


"Kenapa ? Padahal aku sudah berlatih dengan giat, tapi aku tetap saja lemah..."


Sung Lin menangis menyalahkan dirinya yang tidak mempunyai bakat. Dia benci dengan dirinya yang tidak bisa menyelamatkan Dong Feng. Air matanya terus menetes sampai jatuh mengenai buku yang di berikan oleh Dong Feng.


Buku tersebut bersinar karena merespon akan perasaan Sung Lin yang tulus. Sinar tersebut tidak terlalu terang tapi cukup untuk di jadikan sebagai cahaya penerang malam.


"Nak apa kau ingin menolongnya ?"


Sebuah suara entah dari mana terdengar di telinga Sung Lin. Sung Lin mencari-cari di sekitar apakah ada orang yang tengah berbicara dengannya atau tidak. Meskipun begitu dia tidak menemukan satu orang pun, yang ada hanya sebuah buku yang diberikan oleh Dong Feng kepadanya.


"Apa buku ini yang berbicara denganku ?" tanya Sung Lin yang penasaran.


"Nak apa kau ingin menolongnya ?"


Dan ternyata benar suara itu berasal dari buku yang tengah di pegang oleh Sung Lin. Suara itu sekali lagi berbisik ke telinganya, bermaksud menawarkan bantuan kepadanya.


"Jika yang kamu maksud adalah paman, maka iya aku ingin menolongnya !" ucap Sung Lin.


Suara itu kembali berbisik ke telinga Sung Lin. "Maka akan ku pinjamkan kau sedikit kekuatan"


Buku yang di pegang oleh Sung Lin langsung masuk ke dalam kepalanya. Bersamaan dengan itu muncul sebuah tanda dengan pola aneh di dahinya. Kekuatan Sung Lin secara bertahap melonjak dari ranah Qi Refening melonjak ke ranah Fondation Building hingga seterusnya sampai rambut Sung Lin berubah menjadi warna putih.

__ADS_1


Di arah lain situasi semakin memburuk, Dong Feng tengah tersungkur di atas tanah akibat serangan dari dua orang yang mengejarnya.


"Bagaimana ? Apa kau menemukannya ?" tanya Tang Du kepada Song Xiang.


Song Xiang kemudian berdiri setelah selesai memeriksa semua barang milik Dong Feng. "Tidak aku tidak menemukan pusaka itu".


Ekspresi Tang Du berubah menjadi kesal saat mendengar pusaka yang dicari oleh mereka tidak ada di tangan Dong Feng. Ini menjadi semakin buruk jika mereka tidak segera menemukannya.


"Kita harus mencari di seluruh gunung ini. Aku yakin kalau pusaka itu pasti di sembunyikan di sekitar sini" ucap Tang Du.


Mereka berdua akhirnya memutuskan untuk mencari pusaka itu di seluruh gunung ini. Tapi saat mereka mulai melangkah terasa ada suatu tekanan besar yang mengarah kepada mereka.


"Song Xiang ! Apa kau merasakannya juga !?" tanya Tang Du yang merasakan tekanan yang menekan dirinya.


"Ya ! Asalnya dari arah depan !" jawab Song Xiang.


Tiba-tiba sebuah serangan muncul dari arah depan dan mengincar mereka berdua. Mereka yang sadar segera menghindar agar tidak terkena oleh serangan yang tiba-tiba muncul tadi.


"Seorang bocah !?"


Tang Du bersikap waspada terhadap bocah di depannya. Begitu pula dengan Song Xiang yang juga sangat waspada terhadap bocah yang telah menyerangnya.


"Song Xiang sepertinya ada yang aneh dengan bocah itu" ucap Tang Du.


"Kau benar. Aku bahkan tidak bisa melihat ke dalaman kultivasinya" balas Song Xiang.


Sung Lin mulai menyerang kembali dengan jarinya. Lintasan yang dibuat oleh jari Sung Lin seketika berubah menjadi sebuah goresan yang mampu memotong apapun bahkan ruang sekalipun.


"Hati-hati dia mulai menyerang !"


Tang Du menghindari serangan tersebut. Sedangkan Song Xiang yang juga ingin menghindar seakan-akan tubuhnya terkunci dan tidak mau mendengarkannya.

__ADS_1


"Apa yang kau lakukan !? Cepat menghindar !" teriak Tang Du kepada Song Xiang.


"Aku sudah mencobanya, tapi tubuhku tidak mau mendengarkanku !" jawab Song Xiang dengan panik.


Lintasan tersebut mulai membelah tubuh Song Xiang menjadi dua bagian. Dan seketika tubuhnya langsung jatuh ke tanah seperti tubuh adiknya.


Tang Du menjadi takut saat Song Xiang mati tepat di depannya. Insting bertahan hidupnya seakan memberitahu dirinya bahwa dia harus lari sejauh mungkin dari bocah di depannya.


'Aku harus lari. Aku tidak boleh mati disini' Dengan cepat Tang Du langsung berlari menjauh dari bocah di depannya. Dia tidak ingin bernasib sama seperti Song Xiang yang tidak bisa melakukan apa-apa dan hanya bisa menerima kematiannya.


Sung Lin melihat ada satu orang yang melarikan diri. Sung Lin kemudian mengangkat tangannya dan mengepalkannya. Seketika tubuh Tang Du langsung hancur seperti diremas oleh tangan yang tidak terlihat. Darah mulai mengalir ke bawah bersamaan dengan tubuhnya yang mulai jatuh ke tanah.


Setelah selesai membunuh dua orang yang mengejar Dong Feng. Sung Lin mulai berlari menghampiri Dong Feng yang tersungkur di tanah.


"Paman ! Paman ! Aku sudah berhasil membunuh orang yang mengejarmu" teriak Sung Lin sambil berlari menghampiri Dong Feng.


Saat sudah sampai di tempat Dong Feng Sung Lin merasa sedikit aneh dengan keadaan Dong Feng. Karena penasaran dia mulai membalik tubuh Dong Feng sehingga wajahnya bisa terlihat oleh Sung Lin.


Terlihat Dong Feng yang sudah menutup matanya dengan darah yang keluar dari mulutnya. Akan tetapi yang membuat Sung Lin kaget bukan itu melainkan Dong Feng yang sudah tidak bernafas sama seperti kakeknya yang sudah meninggal.


Suasana sekitar terasa mencekam dengan awan mendung yang mengelilingi kota Gouli. Semua orang juga penasaran kenapa tiba-tiba ada awan mendung yang tiba-tiba muncul.


Sung Lin yang tidak terima dengan kematian Dong Feng, dia kemudian berteriak sekeras-kerasnya.


"Tidak... Tidak... AAAAAA !!"


Bersamaan dengan teriakannya muncul pilar biru yang menjulang ke atas sampai menembus awan. Pandangan semua orang menjadi teralihkan ke arah pilar yang tiba-tiba muncul. Termasuk pandangan dari keluarga kerajaan.


"Pilar apa itu ?" ucap Guang Feifei yang tengah berdiri di atas serambi.


Catatan :

__ADS_1


Serambi bisa disebut juga balkon yang merupakan sebutan lain dari teras lantai atas.


__ADS_2