
Sung Lin khawatir kalau dirinya yang sedang latihan akan terganggu karena kehadiran dua orang yang tak di kenal. Apalagi air yang di gunakan ya ini.
"Jangan khawatir aku sudah memasang mantra ilusi di gua ini. Mereka tidak akan tahu kalau kau sedang berlatih" ucap Master Buku di dalam pikiran Sung Lin.
Sung Lin pun melanjutkan latihannya tanpa rasa khawatir lagi.
Sedangkan di arah depan mendekat dua orang yang Sung Lin cukup kenal wajah mereka.
'Bukankah mereka dua pelanggan yang ada di toko tadi siang ? Untuk apa mereka ke gua ini ?'
Dua irang itu lalu duduk tepat tiga meter di depan Sung Lin. Mereka lalu membicarakan sesuatu. Sung Lin yang ada di dekat mereka mendengar pembicaraan yang mereka lakukan. Dan setelah beberapa saat akhirnya mereka berdua pergi dari gua.
Ternyata mereka ke gua ini hanya untuk sekedar istirahat. Mereka juga sesekali membahas masalah tentang pusaka. Sepertinya pusaka itu sangat penting bagi mereka dan jika mereka tidak cepat menemukannya maka mereka akan dihukum oleh orang yang memberi mereka tugas.
Keesokan harinya di rumah keluarga Lie. Terlihat Lie Mei yang tengah berdandan dengan cantik dan rapi. Setelah dirasa sudah bagus Lie Mei segera keluar dari kamar dan berjalan melewati halaman untuk keluar.
"Mei ! Kau mau pergi kemana ?" tanya Lie Ji yang tidak sengaja melihat adiknya.
"Ini bukan urusan kakak ! Terserah aku mau pergi kemana !" ucap Lie Mei sambil berjalan pergi keluar melewati gerbang.
Mendengar tanggapan dari adiknya, Lie Ji merasa sedikit kesal. "Dasar anak itu. Selalu saja begitu kepada kakaknya".
Hubungan Lie Ji dan Lie w sebelumnya baik-baik saja seperti kakak dan adik. Tapi semenjak Lie Ji melihat Putri Feifei dia jadi lebih sering pergi untuk menemui Putri Feifei. Itu membuat Lie Mei merasa kesal karena kakaknya bersikap kecentilan terhadap si Putri.
"Memang apa salahnya sih kalau aku suka sama Putri Feifei ? Sudahlah lebih baik aku menghampiri Putri Feifei" Lie Ji langsung bergegas keluar untuk mencari Putri Feifei.
Di tempat makan Kakek Wang terlihat Sung Lin yang tengah bekerja. Lie Mei yang sudah sampai di sana segera memanggil Sung Lin. "Sung Lin~ !"
Sung Lin menoleh untuk melihat siapa yang memanggilnya. Ternyata itu adalah Lie Mei gadis petarung yang dia temui satu hari lalu. Sung Lin lalu menghampiri Lie Mei yang tengah duduk di kursi.
__ADS_1
"Lie Mei, kamu ingin pesan apa ?" tanya Sung Lin.
"Menu disini apa saja ? Soalnya aku belum pernah ke tempat ini" jawab Lie Mei dengan sedikit malu.
Sung Lin lalu memberikan daftar menu untuk di perlihatkan kepada Lie Mei. "Kebanyakan orang orang yang datang kesini selaku pesan Kwettiao dan Dou sha bou".
"Kalau begitu aku pesan dua itu !" ucap Lie Mei.
"Akan segera siap !"
Sung Lin kemudia kebelakang untuk mempersiapkan pesanan. Tidak butuh waktu lama datang Sung Lin yang membawa dua makanan yang berbeda.
"Ini pesanan anda nona" Sung Lin menaruh makanan tersebut di depan Lie Mei.
"Hm~ kelihatannya enak" ucap Lie Mei setelah mencium bau dari makanan di depannya.
Setelah satu hidangan habis, Lie Mei mulai memperhatikan sekitarnya lagi. Dia baru sadar kalau Sung Lin sudah memperhatikannya dari tadi.
"Apa wajah makanku terlihat aneh ?" tanya Lie Mei dengan ekspresi malu. Melihat wajahnya yang sedang makan diperhtikan oleh krang lain membuat Lie Mei malu.
"Tidak kok. Malahan wajahmu menjadi manis" jawab Sung Lin dengan jujur.
Karena mendengar pujian dari Sung Lin. Wajah Lie Mei menjadi semakin malu, tapi dia tetap harus menahannya untuk tidak boleh bersikap memamulakn di depan Sung Lin.
"Oh ya Lie Mei apa kamu tahu dimana tempat aku bisa menjual obat ?" tanya Sung Lin.
Lie Mei lalu menjawab pertanyaan dari Sung Lin sambil mengambil bakpaonya, " Jika kamu ingin menjual obat, maka sebaiknya kamu harus pergi ke pavilun obat. Disana akmu dapat menjual obat dengan tingakatan apapun".
"Paviliun obat ya... ?"
__ADS_1
Sung Lin berpikir apakah obat yang dibuatnya akan laku atau tidak. Dengan ajaran dari gurunya dia sudah memulai membuat pil. Tapi dia tidak tahu kualitasnya akan sama dengan yang di buat gurunya atau tidak.
'Setidaknya aku akan coba dulu. Meskipun tidak sebaik buatan guru, tapi setidaknya obatku dapat terjual' pikir Sung Lin.
"Lie Mei apakah kamu bisa mengantarku ke tempat paviliun obat ?" Meskipun Sung Lin sudah satu bulan berada di kota ini. Dia masih belum tahu nama-nama dan lokasi tempat sekitar.
Lie Mei menghabiskan dulu bakpao yang sudah ada di mulutnya. Setelah habis Lie Mei dengan senang hati menerima permintaan dari Sung Lin. "Jika begitu maka ayo ! Akan aku antar kamu sekarang !"
Sudah di tetapkan mereka berdua hari ini akan pergi ke pavilun obat. Sebelum pergi Sung Lin berpamitan dulu kepada kakek Wang.
"Kakek Wang ! Saya ingin keluar dulu sebentar !" ucap Sung Lin.
"Ya ! Jika sudah cepat kembali !" jawab kakek Wang yang berada di belakang.
Setelah mendapatkan izin dari Kakek Wang. Sung Lin kemudian pergi bersama Lie Mei menuju ke tempat yang bernama pavilun obat.
Cukup jauh jaraknya dari tempat makan Kakek Wang. Sekitar setengah jam mereka berjalan dan akhirnya sampai di tempat yang bernama pavilun obat. Saat memasuki tempat itu mereka disambut oleh para pekerja yang ada disana.
"Selamat datang Nona Mei !"
Para pekerja memberi salam dengan hormat kepada gadis yang ada di sebelah Sung Lin. Itu membuat Sung Lin sedikit terkejut karena baru pertama kali mendapat perlakuan seperti ini.
"Hey Lie Mei, kenapa orang-orang ini menunduk ke padamu ?" tanya Sung Lin sambil berbisik.
"Hehe... Itu karena aku merupakan pelanggan VIP tempat ini" jawab Lie Mei sambil menunjukkan kartu VIP kepada Sung Lin.
Mereka kemudian masuk ke area pertama yang dimiliki paviliun obat. Paviliun obat memiliki empat area yang sudah di bagi. Untuk area pertama yang ada di lantai pertama di khususkan untuk obat berperingkat 1 sampai 3. Untuk area kedua yang ada di lantai dua di khususkan untuk obat berperingkat 4 sampai 6. Hingga seterusnya.
Sung Lin melihat beberapa obat di area pertama. Salah satunya juga ada obat sejenis yang ingin di jual oleh Sung Lin. Tapi yang aneh adalah warna dari obatnya berbeda meskipun itu obat yang sama.
__ADS_1