Sung Lin

Sung Lin
Awal mula perubahan


__ADS_3

"Prajurit cepat periksa apa yang terjadi di gunung timur !" perintah Guang Bin yang merupakan ayah dari Guang Feifei.


Setelah menerima perintah dari sang Raja. Para prajurit lalu bergegas mengarah ke lokasi dimana pilar itu muncul.


'Semoga tidak ada hal buruk yang terjadi' pikir Guang Bin sambil melihat ke arah pilar.


Sementara itu Sung Lin masih menjerit melepas emosi yang terkumpul di dalam hatinya. Emosi itu merupakan kesedihan yang dalam setelah melihat kenyataan yang ada di depannya.


Setelah emosinya keluar semua, Sung Lin akhirnya berhenti untuk menjerit. Pilar biru yang menjulang ke langit juga sedikit demi sedikit mulai menghilang. Perasaan lega dia rasakan meskipun dirinya masih tidak terima bahwa Dong Feng telah mati.


"Aku sudah cukup menjadi seorang bocah... Aku tidak ingin menangis dan melihat orang yang ku sayangi mati lagi..."


Sung Lin mulai mengangkat mayat Dong Feng dan pergi mencari sebuah tempat yang layak untuk peristirahatan Dong Feng.


Di sebuah bukit yang terdapat pohon dengan beberapa bunga di sekitarnya. Terlihat Sung Lin yang sudah menguburkan Dong Feng ke dalam tanah. Dan untuk menghormati Dong Feng yang sudah menolong dan mengajarkannya cara untuk kultivasi. Sung Lin menancapkan pedang Dong Feng di atas makam Dong Feng.


Sung Lin berdoa agar Dong Feng tenang di alam sana. Setelah itu dia pergi pulang menuju toko tempat kakek Wang.


Di malam hari terlihat kakek Wang yang sedang beres-beres dan mau menutup tokonya. Dan di waktu itu juga dia tidak sengaja melihat Sung Lin yang berjalan menuju tempatnya.


"Nak ? Apakah itu kau ?" tanya kakek Wang terhadap sosok bocah di depannya.


Sung Lin berjalan mendekat ke arah kakek Wang. Setelah itu dia memeluknya dengan erat. Kakek Wang bingung karena tidak tahu apa maksud Sung Lin melakukan hal ini.


Setelah beberapa detik Sung Lin kemudian menghadapkan mukanya ke arah kakek Wang sambil tersenyum. "Kakek biarkan aku membantumu !"


Tak terduga Sung Lin ternyata menunjukkan ekspresi senang. Kekhawatiran kakek Wang ternyata tidak benar. Kakek Wang merasa lega jika tidak ada hal buruk yang terjadi kepada bocah di depannya.

__ADS_1


"Kalau begitu kamu bawa semua mangkok itu ! Sekaligus piringnya juga !" perintah kakek Wang sambil tersenyum.


Mereka berdua lalu bekerja untuk membereskan toko bersama-sama. Tidak lupa sambil menunjukkan senyuman yang Sung Lin punya kepada kakek Wang.


Sedangkan di arah lain di istana kerajaan tempat Guang Bin berada. Sekarang dia tengah bertatap muka dengan para prajurit yang telah dia perintahkan untuk memeriksa gunung timur.


"Bagaimana hasil pemeriksaan kalian ?" tanya Guang Bin kepada para prajuritnya.


Salah satu prajurit kemudian menjawab pertanyaan yang raja mereka ajukan. "Lapor Raja. Setelah kami sampai di lokasi tempat munculnya pilar. Kami melihat di sana ada bekas pertarungan".


Guang Bin mulai berpikir pertaruangan apa yang terjadi disana sampai bisa memunculkan sebuah energi yang begitu besar dan murni. "Apa kau tahu siapa yang bertarung di sana ?" tanya Guang Bin.


Si prajurit kemudian menjawab, "Maaf Raja, yang kami temukan di lokasi pertaruangan hanyalah tiga orang yang telah menjadi mayat. Mayat pertama kami temukan tidak jauh dari kedua mayat lain yang di temukan. Sementara untuk orang yang membunuhnya kami tidak tahu siapa itu".


Para prajurit hanya bisa menjawab dengan apa yang telah mereka lihat. Mereka tidak tahu siapa yang membunuh tiga orang yang mereka temukan. Tapi yang jelas pembunuh tersebut adalah orang yang sangat kuat. Bahkan mampu membunuh tiga kultivator yang berada di ranah Golden Core.


Para prajurit kemudian mengantar Raja mereka ke lokasi mayat yang telah mereka bawa. Saat sampai di lokasi Raja mereka terlihat terkejut dengan identitas mayat tersebut.


"Tidak mungkin..."


Di toko kakek Wang, Sung Lin sudah selesai dalam beres-beresnya. Kakek Wang sudah lama tidur dan sekarang Sung Lin hanya sendirian di dalam toko. Ini adalah waktu terbaik untuk mempelajari buku yang telah di berikan oleh almarhum Dong Feng kepadanya.


"Hey buku, apa kau bisa mendengarku ?" tanya Sung Lin.


Khawatir kalau si buku tidak merespon, tapi dalam beberapa detik kemudian buku tersebut akhirnya berbicara lagi.


"Ya ! Apa kau ingin kekuatan ?"

__ADS_1


Buku itu langsung tahu apa yang di inginkan oleh Sung Lin. Karena buku itu telah melihat beberapa peristiwa yang Sung Lin lalui. Peristiwa senang maupun sedih karena buku tersebut sudah melihat isi pikiran yang Sung Lin miliki.


"Benar. Aku memang menginginkan kekuatan. Aku ingin menjadi kuat secepat mungkin hingga aku bisa melakukan apa yang aku mau tanpa khawatir dengan kekuatan musuhku" ucap Sung Lin dengan penuh tekad.


Si buku diam sejenak sebelum menjawab tanggapan Sung Lin. Dan setelah beberapa saat si buku mulai berbicara kembali.


"Jika kau ingin menjadi yang terkuat, maka kau hanya bisa melakukannya selangkah demi selangkah. Perhatikanlah prosesnya dan bukan hasilnya" ucap si buku yang ada di pikiran Sung Lin.


sung Lin pun berpikir kalau apa yang dikatakan buku itu memanglah benar. Pedang yang bagus pasti akan melalui proses menempa yang panjang dan sulit. Jika Sung Lin ingin menjadi pedang itu maka dia harus melalui proses yang panjang dan harus berhadapan dengan kondisi hidup dan mati.


"Jika harus seperti itu, maka aku akan siap ! Tuan buku saya sudah siap menerima pengajaran darimu !" ucap Sung Lin dengan tegas.


Si buku merasa sedikit aneh dengan panggilan yang Sung Lin berikan padanya. "Nak kau bisa memanggilku master mulai sekarang'.


"Baik Master ! Jika diijinkan murid ini ingin bertanya. Kapan pelatihannya akan dimulai ?"


Sung Lin menjadi tidak sabar dengan pelatihan yang akan di berikan buku itu kepadanya. Mengingat buku itu dapat meminjamkan Sung Lin kekuatan yang dahsyat. Itu sungguh luar biasa saat pertama kali merasakannya.


"Tidak tidak. Kita tidak akan memulai pelatihannya dulu. Karena sebelum itu kau harus membeli semua barang yang ada di tulisan ini".


Seketika keluar satu lembar kertas dari dahi Sung Lin. Lembaran tersebut Sung Lin tangkap dan langsung di bacanya.


"Apa !? Apa aku harus membeli semua ini ?" Sung Lin terkejut setelah membaca isi dari lembaran tersebut. Semua barang yang di tuliskan di lembaran tersebut sangat mahal bagi Sung Lin yang tidak memiliki uang sepeser pun.


"Ini pasti akan memakan waktu yang lama" ucap Sung Lin dengan ekspresi memelas di wajahnya.


Setelah selesai Sung Lin langsung menyimpan lembaran tersebut di kantongnya dan mulai memposisikan diri untuk berlatih menyerap Qi di sekitar.

__ADS_1


__ADS_2