Sung Lin

Sung Lin
Membangun fondasi


__ADS_3

'Hm... sepertinya aku pernah melihat bocah itu' pikir Feifei sambil menyentuhkan jarinya di dagu.


Feifei merasa tidak asing dengan wajah yang dimiliki oleh bocah yang membawa satu kantong herbal. Feifei mencoba mengingat kapan dan dimana itu terjadi, tapi dia tetap saja tidak bisa mengingatnya. Banyak berbagai macam orang yang Feifei temui saat perjalanan, dia tidak tahu apakah bocah itu termasuk orang yang dia temui di perjalanan atau tidak.


'Mungkin hanya perasaanku saja'. Setelah itu Feifei berbalik dan kembali berjalan pulang menuju istana.


Di malam harinya Sung Lin mengendap endap untuk keluar dari toko kakek Wang. Dia sebisa mungkin mengecilkan suara langkah kakinya agar kakek Wang tidak terbangun pada tidurnya.


'Baiklah saatnya mencari tempat berlatih !' Di dalam hatinya Sung Lin sudah berniat dan semangat. Dia menjadi antusias ketika pelatihan sebenarnya akan dimulai.


Sung Lin pergi ke sebuah hutan, dia mendaki gunung dan menerobos semak-semak yang ada di sana. Dan akhirnya dia menemukan sebuah gua yang sepertinya kosong.


Sung Lin mendekat ke arah gua dan memeriksa ke dalam. "Bagus ! Mulai sekarang tempat ini akan aku jadikan sebagai tempat latihanku !"


Dia mulai mengeluarkan semua herbal yang ada di kantong yang dia bawa sedari tadi. Semua herbal itu telah dia beli dari pasar yang ada di kota.


"Guru ! Bisakah kita mulai berlatih ? Aku sudah menemukan tempat seperti yang kau perintahkan".


Sebenarnya Sung Lin sudah ngotot dari siang untuk segera mulai berlatih. Tapi guruyabg ada di buku bilang kalau Sung Lin harus menemukan tempat latihan seperti gua agar dia bisa berlatih dengan leluasa.


Guru yang dipangging oleh Sung Lin langsung keluar dalam bentuk roh menyerupai buku. Yang menjadi pembeda adalah roh buku tersebut mempunyai tangan dan kaki serta mulut dan mata. Karakternya seperti sebuah maskot dalam bentuk buku.


"Bagus ! Kau telah membeli apa yang aku sebutkan. Sekarang perhatikan baik-baik dan pelajari apa yang aku lakukan !" ucap Master Buku dengan tegas.


Master Buku mulai mengeluarkan api putih dari tangannya. Bersamaan dengan itu beberapa herbal mulai melayang dan msauk ke dalam kobaran api. Herbal yang masuk kedalam kobaran api tadi perlahan-lahan meleleh menjadi sebuah cairan yang kental.

__ADS_1


Sung Lin merasa kagum saat melihat apa yang tengah dilakukan oleh gurunya. "Waah... Apakah ini yang dinamakan alkemis ?" tanya Sung Lin dengan wajah yang antusias.


"Perhatikan ini ! Mulai dari sini adalah bagian yang tersulit !"


Cairan yang mengambang tadi secata perlahan mulai memadat dan menjadi sebuah pil berwarna hijau.


"Keren ! Apakah jika aku menjadi seorang alkemis, maka aku akan dapat melakukannya juga ?" Sung Lin menjadi ingin melakukan apa yang dilakukan oleh gurunya. Membayangkan semua herbal berterbangan di sekitar sambil membuat sebuah obat, dia pikir itu akan terlihat keren.


"Untuk menjadi seorang alkemis, bakat memang sangat penting. Kamu harus dapat merasakan pergerakan dari aliran Qi dan bahan yang melebur"


Seorang alkemis adalah sebuah profesi yang sangat menguntungkan. Mereka akan di hormati tergantung pil apa yang mereka buat. Untuk pil tingkat satu bisa dijual dengan harga beberapa tael emas. Oleh karena itulah seorang yang menjadi alkemis hidupnya akan sangat makmur.


Master Buku mulai menjelaskan pengetahuan seputar alkemis kepada muridnya. Di dalam penjelasanya itu seorang alkemis harus bisa mengendalikan sepenuhnya api miliknya. Bahan yang berbeda maka akan membutuhkan kendali yang berbeda. Jika salah satu saja maka itu0 PLPG semua akan hancur.


"Aku akan mengirimkan satu teknik yang cocok untukmu !" Master Buku kemudian mengirimkan satu teknik yang cocok langsung ke dalam pikiran Sung Lin.


Teknik yang dikirimkan Mater Buku bernama Sebuah teknik yang memiliki fondasi terkuat dan diantara itu dapat di gabungkan dengan teknik teknik yang lain.


'Teknjk ini kenapa lebih mengarah ke membangun fondasi ? Apa guru tudak salah memberikannya ?' batin Sung Lin saat menerima tekniknya. Dia kemudian menatap gurunya seperti mempertanyakan apakah teknik yang diberikan sudah benar atau tidak.


"Aku tahu apa yang kau pikirkan, teknik ini memang yang paling cocok untukmu. Sekarang sana cepat pergi ke kolam !" ucap Master buku sambil menunjuk ke kolam yang ada di dalam gua.


Sung Lin kemudian berjalan menuju ke kolam. Sesampainya di sana dia langsung mengikuti instruksi yang di berikan oleh gurunya. Sung Lin melepas pakaiannya dan masuk ke dalam kolam. Sebelum itu kolam sudah di masukkan pil berwarna hijau yang mudah melebur jika terkena air. Pil itu sekarang menyatu dengan kolam yang Sung Lin masuki.


Sung Lin duduk bersila di kolam itu sambil mempraktekkan teknik yang telah gurunya berikan. Saat ini Sung Lin tengah berada di ranah membangun fondasi. Ranah yang begitu penting dan kebanyakan kultivator tidak terlalu memperhatikan seberapa penting ranah ini.

__ADS_1


Siang harinya di rumah makan kakek Wang. Sung Lin tengah melayani pembeli yang berniat makan di sana.


"Tuan ini pesanan anda" ucap Sung Lin sambil menaruh dua porsi makanan untuk kedua pembeli yang tengah duduk berhadapan.


Setelah itu Sung Lin pergi untuk melayani pembeli lain. Kedua tuan tadi mulai memakan makanan yang mereka pesan sambil membicarakan tujuan mereka.


"Kita sudah menelusuri ke berbagai area dan kita tidak menemukan apapun" ucap tuan pertama.


"Lalu apakah kita perlu menelusuri daerah lain ?" tanya tuan kedua.


"Ya kita akan melakukannya nanti" jawab tuan pertama.


Mereka lalu memakan kembali makanan mereka hingga tuan kedua memulai pembicaraan kembali.


"Menurutmu apakah Guang Bin berbohong kepada kita ? Masalahnya dia adalah seorang raja yang bisa memanipulasi situasi di sekitarnya" ucap tuan kedua.


Seorang Raja memang dapat memanipulasi informasi yang ada di seluruh kerajaannya. Tapi itu membutuhkan usaha yang banyak karena harus membuat rakyat menutup mulut atau berbohong atas kejadian yang di lihat.


"Jika memang benar, maka kenapa semua orang terlihat biasa-biasa saja saat kita lewat ?" tanya tuan pertama yang membenarkan pertanyaan dari tuan kedua.


Tuan kedua sempat berpikir sejenak. Apa yang dikatakan rekannya memang benar. Tidak mungkin semua orang akan bersikap biasa saja jika mulut mereka sudah di sewa. Setidaknya akan ada satu atau dua orang yang merasa gugup jika bertemu dengan mereka.


"Ha... Kau benar. Tidak mungkin Guang Bin akan berbohong kepada kita" ucap tuan kedua sambil melanjutkan memakan makanannya.


Setelah kedua tuan tersebut selesai makan. Mereka meninggalkan uang diatas meja dan pergi untuk melanjutkan tugas yang telah di berikan kepada mereka.

__ADS_1


__ADS_2