
Setelah beberapa saat, makanan yang mereka pesan akhirnya sampai juga, pelayan tersebut langsung menata makanan di meja dengan rapi, "Selamat menikmati semua," kata Zulfi sambil mengambil makanan yang telah dia pesan tadi. begitu juga dengan Alan dan Jejey, mereka langsung melahap makanan nya masing-masing.
"Ini punya lo Cha, jangan sungkan-sungkan sama dua curut ini," kata Jejey sambil meletakkan makanan Icha.
"Parah lo Jey, temen sendiri dibilang curut," sahut Alan sambil makan.
"Tau tuh!! mana ada curut ganteng kayak gue ini." timpal Zulfi dengan pd.
"Serah gue lah, mulut mulut gue juga," sinis Jejey. Sedangkan Icha hanya tertawa kecil menanggapi perdebatan antara tiga sekawan tersebut.
"Oh iya, ngomong-ngomong kok bisa lo kenal sama Jejey Cha?" tanya Zulfi pada Icha.
"Kepo lo Mat," sela Jejey.
"gue gak nanya ke lo, gue nanya ke Icha," sahut Alan.
"Jadi gini, gue gak sengaja nabrak Jejey dijalan, katanya dia baru di kota ini, dan kebetulan juga barang-barang dia kecopetan katanya" tutur Icha.
"Wahhh! beneran Jey barang-barang lo kena copet?" tanya Zulfi.
"Iya, pas hari pertama gue nyampe ke sini, tas gue diambil orang, " jawab Jejey.
"Oww gitu, sekarang lo tinggal dimana? lo kerja apa?" tanya Zulfi lagi.
"Jejey tinggal dirumah gue sekarang, dan dia juga kerja sama gue narik angkot," jawab Icha.
Zulfi juga Alan terkejut mendengar penuturan Icha, "Gila si Jejey, cuman demi nyari cinta sejati dia rela jadi supir angkot" bisik Alan pada Zulfi.
"Gak nyangka gue sama Jejey, seorang CEO kaya jadi supir angkot," bisik Alan sambil tertawa kecil.
Melihat tingkah kedua temannya yang agak aneh, Jejey pun angkat suara, "Ngapain bisik-bisik? gibahin gue lo pada!" tanya Jejey heran.
"Gak pa-apa kok, siapa yang gibahin lo, idih pd banget sih lo bang," jawab Zulfi.
"Gak baik lohh kalau makan sambil ngomong!" ujar Icha.
"Dengerin tuh apa kata bidadari," sahut Alan modus.
__ADS_1
Icha hanya tersenyum kaku menanggapi perkataan alan.
Mereka pun melanjutkan makan sampai habis tak bersisa.
"Setelah ini kalian mau kemana?" tanya Jejey pada keduanya.
"Kayaknya mau liat kantor Jey," jawab Alan.
"Wiiiss, sejak kapan kalian tertarik dengan urusan kantor?" tanya Jejey tak percaya.
"Sejak tadi," kata Zulfi singkat.
Mendengar penuturan Zulfi, Jejey tertawa terbahak-bahak, "Buhuhahaha, mimpi apa kalian semalem? apa kalian sakit? kalian waras kan?" tanya Jejey sambil memegang jidat kedua temannya.
"Apa sih Jey? gue baik-baik aja kok, dan satu hal lagi gue juga masih waras," sangkal Alan.
"Gue juga sehat wal afiat jasmani juga rohani." timpal Zulfi.
Jejey tambah mengeraskan suara tawanya, seaka-akan tak percaya dengan apa yang Zulfi dan Alan katakan, "Aduh sakit perut gue dari tadi ketawa mulu," sahut Jejey, "kalian gak becanda kan?" tanya Jejey lagi.
Kini Zulfi juga Alan terlihat kesal dengan sikap Jejey, "kita seriusan lah Jey, ngapain juga gue bohong sama lu, gak ada untungnya juga," Sinis Alan.
"Terpaksa Jey, kalau enggak mana mau kita kerja kantoran, membosankan." ujar Zulfi.
"Iya, gue sama Zulfi dipaksa sama bokap Jey, kalau gue sama Zulfi gak mau nerusin perusahaan keluarga, kita bakal dicoret dari daftar keluarga," tutur Alan.
"Kasian banget kalian, bukannya kalian dari dulu pengen jadi aktor atau penyanyi?" tanya Jejey lagi.
"Iya Jey, mau gimana lagi gak dapet ijin dari orang tua." jawab Alan.
Icha yang dari tadi hanya menyimak, kini membuka suara, "ngomong-ngomong kalian ini saudara?" tanya Icha pada Alan juga Zulfi.
"Ya kita saudara, tapi bukan saudara kandung, hanya sepupuan aja" jawab Zulfi.
Icha menggangguk tanda mengerti dengan apa yang Zulfi katakan. Kini Jejey kembali membuka suara, "Terus gimana ceritanya kok sampek bisa lo jadi pengusaha?" tanya Jejey.
"Gue tadi kan bilang, kalo kita diancem!" jawab Alan.
Jejey cenge-cengesan dan menggaruk tengkuknya yang tak gatal, "hehehe, lupa gue Mat," sahut Jejey. "Kalian udah sholat?" tanya Jejey pada keduanya.
__ADS_1
"Udah tadi Jey, pas perjalanan kesini, sekalian mampir," ujar Zulfi.
"Bagus deh kalau kalian udah sholat, gue sama Icha cabut dulu yah, mau narik lagi," sahut Jejey.
"Kita juga mau balik, kalian hati-hati dijalan," jawab Alan.
"Ok, kalian juga hati-hati dijalan." kata Jejey, "ayok Cha narik lagi," Jejey pun langsung beranjak dari tempat duduknya.
"Kita pergi duluan ya! Assalamulaikum," kata Icha memberi salam.
"Hati-hati Jey, Cha!" kata Alan juga Zulfi.
Jejey juga Icha keluar dari restoran tersebut menuju tempat parkir, sedangkan Alan dan Zulfi masih berada di dalam restoran tersebut. "Semoga aja Jejey dan Icha berjodoh," ujar Alan.
"Semoga aja Mat, kasian gue sama dia, dari dulu selalu saja dibohongin sama cewek," jawab Zulfi.
"Dia terlalu baik sama semua orang, jadi orang gampang ngibulin dia," sahut Alan. "dan iya, jangan manggil gue Mamat lagi!" Alan kesal.
Zulfi hanya menyeringai menanggapai perkataan Alan.
"Ayok balik, jam makan siang udah lewat nih! pasti semua karyawan udah pada masuk kantor" ujar Alan.
"Biarin aja, kita kan bosnya, suka-suka kita mau masuk kapan" jawab Zulfi.
Alan menghela nafas panjang, "ya gak gitu juga lah Zul, sebagai atasan kita harus memberikan contoh yang baik untuk bawahan" sahut Alan.
"Serah deh," jawabnya singkat.
Alan pun menyeret Zulfi keluar dari restoran tersebut, menuju mobilnya ditempat parkir.
**********
Sementara Jejey dan Icha mulai mencari penumpang, tak membutuhkan waktu lama, angkot mereka sudah penuh dengan penumpang perempuan, yah mereka naik angkot Jejey hanya ingin melihat seorang supir angkot yang tampan rupawan.
"Aduhh, si masnya ganteng banget sih!, gimana kalau masnya berhenti jadi supir angkot, dan nikah sama saya," ujar salah seorang penumpang cewek.
"Apa sih, masnya gak bakalan mau sama kamu, pasti masnya maunya sama aku" jawab penumpang yang lain.
Jejey hanya tersenyum menanggapi perkataan semua penumpang, sedangkan Icha terlihat kesal dengan sikap penumpang yang tengah menggoda Jejey.
__ADS_1