
Di sisi lain, di mana Jejey berada. dia sedang duduk bersama keluarga Icha, di sebuah ruang makan. mereka semua makan malam bersama dengan menu sederhana, tapi nikmat menurut Jejey.
"Ayo dimakan nak Jey, tak perlu sungkan, anggap saja rumah sendiri," kata pak Udin.
"Terimakasih pak, atas semua kebaikan bapak juga keluarga." jawab Jejey sopan.
"yaelah bang, woles aja kali." timpal indri.
"Iya Jey, santai aja anggep kami ini keluarga baru lo," ujar Icha.
Jejey pun membalas kata-kata Icha dengan senyuman, mereka berempat melanjutkan makan, sesekali mereka berbincang juga diiringi candaan juga tawa.
Beberapa saat kemudian datang seorang laki-laki tinggi putih juga tampan, menghampiri mereka semua. terutama pak Udin, laki-tersebut langsung salim pada pak Udin.
"Assalamualikum pak," laki-laki tersebut memberi salam.
Pak Udin menjawab salam laki-laki tersebut, "Walaikumsalam, sudah pulang nak?ayo makan nak, pasti kamu sudah lapar!".
"Iya bang, langsung makan aja. kan enak makan kalau ada temennya," timpal Indri.
"Iya abang ikut makan." kata laki-laki tersebut, "oh iya ini siapa pak?" menunjuk Jejey.
"Ini nak Jejey, temen adik mu. untuk beberapa waktu dia tinggal disini," tutur pak Udin, "ini juga anak bapak nak Jey, anak pertama bapak.".
"Perkenalkan saya Jejey, asal saya dari kampung." sapa Jejey sopan.
"Gue Irwan abang nya Icha, kayak nya lo seumuran sama Icha, panggil gue abang aja, jangan sungkan" ujarnya tak kalah sopan.
"Baik bang Irwan. terimakasih karena mau nerima Jejey dengan baik." sahut Jejey.
"Sama-sama Jey, tak perlu sungkan," jawab Irwan.
"Sudah kalian dilanjutkan makannya, setelah itu istirahat," Timpal pak Udin.
"Tau nih abang, ngomong mulu." pekik Indri.
"Yeeyyy," Irwan mengacak-ngacak rambut indri.
Icha hanya menggelengkan kepalanya melihat abang juga adik nya, sedang kan Jejey hanya tersenyum melihat betapa dekat nya hubungan keluarga mereka, saling menunjuk kan rasa kasih sayang satu sama lain.
__ADS_1
Jejey merasa iri melihatnya, Dia teringat dengan keluarga nya. Ya, karena sama-sama punya kesibukan, jadi Jejey jarang berkumpul dengan mama papanya, Jejey lebih sering menghabiskan waktunya dengan Agus,atau pacarnya.
_______-______
Setelah makan malam, Irwan juga pak Udin langsung istirahat. sedangkan Indri masih mengerjakan tugas sekolah nya, Icha yang baru selesai membereskan piring kotor dan dibantu Jejey. kini duduk di teras rumahnya sambil melihat bintang-bintang, Jejey ikut duduk di samping Icha juga ikut melihat indah nya langit malam.
"Langit nya Cantik ya Jey?" kata Icha yang masih mendongakkan kepala nya memandang langit.
"Iya, tapi lebih Cantik lo Cha, dibanding bintang-bintang itu. "ujar Jejey yang kini menatap ke Icha.
Icha terkejut mendengar kata-kata Jejey, dia langsung melihat kearah Jejey, "apa? lo bilang apa barusan Jey?".
"Gue bilang, lebih cantik lo dari bintang-bintang itu." jawab nya Jujur.
"Apa sih Jey? gak usah ngegombal, gak mempan," sahut Icha, meskipun berkata begitu, pipinya udah blushing.
"Siapa yang ngegombal Cha, gue ngomong kenyataan nya kok,".
"Serah lo aja deh," pekik Icha.
"Oh iya Cha, emang nya lo kenapa kok bisa putus sama pacar lo?" tanya Jejey.
Wajah Icha berubah sendu,"dia selingkuh Jey ...." jawabnya Lirih.
Icha menghembuskan napas nya kasar, "huuftt, lo gak salah apa -apa kok Jey, gue nya aja yang terlalu baper. gue berusaha buat lupain dia Jey." Icha memperlihatkan senyum nya.
"Gitu dong harus semangat, gak usah meratapi cowok brengsek. Gue yakin lo bisa Cha,"Jejey memberikan semangat, "gue aja bisa." tanpa disengaja Jejey mengucapakan kata-kata tersebut.
"Maksud lo apa Jey? lo juga diselingkuhi pacar lo?" tanya Icha penasaran.
"Ehh bukan apa-apa kok Cha," jawab nya sedikit gugup.
Icha membalikkan badannya,dan sepenuh nya menghadap Jejey, "ayo lah Jey!! gak usah di rahasiain dari gue, katanya lo nganggep gue temen?" bujuk Icha.
Jejey juga menghadap Icha,(ceritanya hadap-hadapan gitu), "Iya Cha, pacar gue juga selingkuh sama Cowok lain, dia cuman manfaatin gue doang," jawab Jejey jujur.
"Kita sama yah Jey, sama-sama dikhianati orang yang kita sayang," ujar Icha.
"Makanya Cha, kita harus saling sport. juga saling menguatkan kan kita temen," kata Jejey sambil menjulurkan kelingking nya.
Icha membalas nya dengan kelingkingnya, "Iya, selamanya kita temenan, janji!!".
"Janji," sahut Jejey.
__ADS_1
Mereka berdua pun saling lempar senyum satu sama lain, kedua nya mulai merasa nyaman saat sedang dekat, apakah benih-benih cinta mulai tumbuh? entahlah hanya mereka berdua yang tau.
______****_____
Malam yang sunyi, langit indah yang bertaburan beribu bintang warna-warni. kini berganti dengan fajar yang muncul diufuk timur.Terlihat di sebuah mushollah beberapa orang tengah duduk, setelah menyelesaikan sholat shubuh. iya keluarga pak Udin sering melakukan sholat berjema'ah di musholla samping rumah Mereka. tak ketinggalan Jejey juga ikut berjemah.
"Hari ini hari pertama nak Jey narik angkot, apa nak Jejey punya SIM?" tanya pak Udin.
"Ada pak, saya dulu pernah jadi supir pikup di kampung" bohong Jejey, (ya punya lah,masak holang kaya kagak punya SIM, Ok lanjut😂😂).
"Bagus, hati-hati nak Jey, jangan ngebut-ngebut," tambah pak Udin.
"Iya pak," jawab Jejey singkat.
"Icha masak buat sarapan dulu yah, ayok Dri bantuin mbak!!" Icha merapikan mukenah nya, dan melangkah menuju rumah.
"Ok, tunggu mbak," Indri menyusul Icha yang sudah sampai duluan.
Di mushollah tersebut tinggal Jejey Irwan juga pak Udin, Jejey memulai pembicaraan, "oh iya bang, abang kerja apa?" tanya Jejey pada Irwan.
"Gue kerja di kantor Jey, PT.MD,"jawab Irwan, "gue kayak gak asing sama wajah lo Jey?".
****** gue, kalo bang irwan ngenalin wajah gue, bisa kelar urusannya, gumam Jejey dalam hati.
Irwan membuyarkan lamunannya, "woyyy kok bengong sih?".
"Ehh gak pa-apa bang, mungkin abang salah ngenalin orang aja," jawab Jejey.
"Mungkin kali ya," kata Irwan singkat.
"Memang nya dimana kamu pernah lihat nak Jejey Wan?" timpal pak Udin.
"Kayak nya Irwan pernah liat wajah Jejey di sebuah foto keluarga di ruangan direktur pak," kata Irwan sambil mengingat-ingat.
"Masak iya Wan? mungkin mirip saja," sahut pak Udin.
"Iya bang gak mungkin itu, Jejey yang dari kampung ini, bisa ada disebuah foto keluarga kaya," timpal Jejey.
"Mungkin gue salah liat, atau anaknya pak direktur mirip kamu Jey," sahut Irwan.
"Ya sudah, kalian berdua siap-siap setelah itu sarapan," tambah pak Udin.
"Baik pak," jawab Jejey dan Irwan bersamaan.
__ADS_1
Mereka pun turun dari musholla, dan bersiap-siap, mengerjakan kesibukan masing-masing.