SUPIR ANGKOT TAJIR

SUPIR ANGKOT TAJIR
EMOSI


__ADS_3

JEJEY POV


Lama banget si Icha, katanya cuman bentar. Emang kalau cewek udah ngegibah, pasti lama banget. Butuh waktu seabad mungkin, hadehhhhh!! Gue ampek ngantuk ini.


Sebelum gue berniat menutup mata, tiba-tiba sebuah motor sport berhenti didepan rumah Citra. Gue mulai kepo, dan kulihat secara seksama orang tersebut. Kayaknya gak asing menurut gue, tapi siapa dia.


Setelah laki-laki tersebut membuka helmnya, gue langsung kaget dibuatnya. Bagaimana bisa dia disini? apa dia kakaknya Citra? berarti mantannya Icha. Hahhh? dunia emang sempit, sesempit kolor abang gue hahaha. Maap bang maap, gue nistain sebentar.


Gue pun memilih untuk memejamkan mata sebentar, siapa tau Icha masih lama disana.


POV ICHA


"Waww!! ada apa ini?" mendengar suara yang dulu selalu ada disetiap hari gue. Gue diam mematung, seakan-akan roh gue udah lompat dari raganya. Gue melihat kearahnya, gue kunci pandangan gue tepat dimanik indah miliknya. Gak ada yang berubah dari dia, masih sama kayak dulu, pas masih sama gue. Gantengnya, tingginya, putihnya, entah kalau sifatnya.


"Inget pulang juga, bang?" suara Citra membuyarkan tatapan kami berdua. Gue memalingkan wajah, supaya gak bertatapan lagi dengan dia. Gue takut pertahanan yang selama ini gue buat, bisa runtuh cuman gara-gara liat senyumannya.


"Kapan pulang? kok gak ngabarin gue dulu?" tanya dia dingin, dia kini mendekat pada Citra.


Tanpa menunggu aba-aba, Citra langsung memeluk laki-laki yang tadinya dia sebut 'brengsek'. Begitu juga dengan Adit, dia langsung membalas pelukan hangat dari Sang adik. meskipun wajahnya terlihat datar, tapi gue yakin dia juga sangat merindukan adiknya tersebut.


Suasana baru pun kembali menyelimuti keduanya. Gue juga 'ibu' hanya bisa melihat mereka, gak ada yang menyela keduanya, untuk saling melepaskan rasa rindu diantara keduanya.

__ADS_1


"Abang gak sayang lagi sama gue? buktinya selama gue gak disini, abang gak pernah jenguk gue," sahut Citra yang masih dalam pelukan Adit.


Sedangkan Adit hanya menggeleng sambil memejamkan matanya. Adegan tersebut berlangsung, untuk beberapa saat. Sampai Citra melepaskan pelukan tersebut.


"Abang masih punya hutang penjelasan sama gue, nanti setelah gue mandi. " tambahnya dengan tatapan tajam.


"Cit, gue pulang dulu. Temen gue pasti udah nungguin," gue memberanikan diri untuk buka suara. Jujur sih, rasanya aneh banget. Keadaan gue saat ini.


"Ok, gue anterin sampai depan ya, Cha?" dia kini beralih melihat kearah gue.


"Icha pamit dulu, bu. Pan-kapan Icha main kesini lagi," gue pamitan sama ibu, sambil mengulurkan tangan untuk salim.


Bukannya membalas uluran tangan gue, ibu malah menarik gue kedalam pelukannya lagi.


"Ibu salut sama Icha, Icha anak yang kuat. Semoga selalu bahagia sayang," tambah beliau sambil melepas tubuh gue, dan kini memegang kedua pundak gue.


"Nanti kalau mau kesini, jangan lupa kabarin Citra dulu. Kita bikin kue bertiga nanti, gimana?" memang dari dulu, gue Citra, juga ibu sering bikin kue bersama. Lebih tepatnya gue sama Citra bantuin makan doang, hehehe.


"Ide bagus tuh, ma. itung-itung buat bernostalgia, mengenang MASA LALU," Citra menekan kata-katanya sambil ngelirik kearah Adit.


"Ya sudah kalau kamu mau pulang, hati-hati dijalan!!" Gue mengacungkan kedua jempol kearah Ibu, tanda mengerti.

__ADS_1


Gue berjalan menuju pintu, dan diikuti sama Citra. Tapi, langkah Citra terhenti saat Adit menahan tangannya, "Biar gue aja yang nganterin dia," kata-kata dia sontak bikin gue diam sejenak. Otak gue berusaha untuk mencernanya. Tapi, bodoh amat lah. Gue gak mau ambil pusing, gue meneruskan langkah.


Saat sudah didepan, dia malah menahan tangan gue, yang bikin gue menoleh kearahnya. "Ada apa lagi, Dit? " tanya gue. Jantung, apa kabar anda disana? semoga baik saja. Sumpah, setelah beberapa minggu gak pernah bertemu langsung, baru kali ini gue bisa ngeliat wajahnya lagi. Gak bisa di pungkiri, gue kangen sama dia banget malah.


"Maafin gue Cha, gue bisa jelasin semuanya. Emang gue pengecut, gue cuman mentingin diri sendiri. Gue cuman mikir seneng aja, gue gak mikirin perasaan lo. Sebenernya gue jadian sama cewek itu, cuman Main-main Cha. Gue dapet tantangan dari temen gue, kalau gue bisa macarin dia dalam waktu seminggu, dan gue mutusin lo. Gue bisa dapetin motor dia, tapi kalau gue gak bisa motor gue yang bakal mereka ambil. Maafin gue Cha!!" tuturnya sambil memegang tangan gue lembut.


"Sebelum lo minta maaf. Gue udah maafin lo kok, Dit." sahut gue singkat.


"Berarti gue masih punya kesempatan buat memperbaiki semua? please Cha, kasih gue kesempatan kedua!! gue masih sayang sama lo, gue yakin lo pasti masih sama," dia berkata begitu sambil memelas. Rasanya, tembok pertahanan yang selama ini gue bangun. Kini mulai hancur, dengan terjalan kata-kata manis yang keluar dari mulut Adit.


Tapi, gue segera menggelengkan kepala, "Emang gue masih sayang sama lo. Tapi, rasa kecewa gue lebih besar dari sayang gue ke lo. Jadi, gak ada kata KESEMPATAN KEDUA," sahut gue sedikit menekan kata-kata gue.


Gue hendak pergi dari hadapannya, tapi dia keburu mencengkram pergelangan tangan gue sangat kencang. Pasti saat ini, pergelangan tangan gue merah dibuatnya.


"Lepasin gak? sakit tau!!" kata gue sedikit meringis.


Dia tak menggubris kata-kata gue, malah dia semakin mendekatkan tubuhnya. Tapi belum sempat dia Macam-macam sama gue, tubuhnya terdorong sedikit menjauh. Gue lihat sesosok laki-laki tengah berada di samping gue. Dia orang yang telah membuat hati berbunga-bunga saat bersama dengannya, siapa lagi kalau bukan Jeyop si mood booster.


Terlihat dari sorot matanya, kalau dia khawatir. "Lo gak pa-apa kan? ada yang sakit?" tanya nya sambil memegang tangan gue lembut. Gue menggelengkan kepala, menanggapi pertanyaannya.


Kini dia mengalihkan atensinya, menatap tajam pria yang telah menyakiti gue. Selama gue kenal Jejey, baru kali ini gue liat dia menyeramkan. Biasanya, dia selalu tersenyum ceria pada setiap orang. Tapi, sosok Jejey saat ini adalah sisi dirinya yang lain. "Lo bisa gak kasar sama cewek? lo cowok bukan? beraninya main kasar sama cewek. Banci," sarkas nya.

__ADS_1


Adit emosi dengan apa yang Jejey katakan, "Gak usah ikut campur urusan gue. Lo siapa sih? mending pergi dari sini!!" sahut Adit.


"Gue cowoknya dia, mulai sekarang lo gak usah ganggu cewek gue lagi. Dia sekarang jauh lebih bahagia bersama gue, ketimbang sama lo yang cuman tau nyakitin doang. Udah yang, sekarang kita pulang," Jejey langsung menarik gue menuju angkot.


__ADS_2