SUPIR ANGKOT TAJIR

SUPIR ANGKOT TAJIR
BERTEMU MANTAN CAMER


__ADS_3

Icha juga Citra masih dalam posisi pelukan, mereka berdua saling menguatkan satu sama lain. Setelah keduanya sedikit tenang, mereka melepeskan pelukannya.


"Gimana sekarang? udah baikan belum?" tanya Icha pada Citra, yang masih sesegukan.


Citra mengangguk menimpali ucapan Icha, "Habis ini lo mau langsung pulang?" tanya Icha lagi.


"Iya Cha, gue kangen banget sama mama, juga abang brengsek itu," Citra merotasi matanya malas, kala mengatakan 'abang brengsek'. Sedangkan Icha, hanya terkekeh geli melihat ekspresi sahabatnya itu.


"Udah, ayok gue anterin sampai rumah," Icah beranjak dari duduknya. Tapi Citra masih menatap Icha ragu.


"Lo yakin mau nganterin gue sampai rumah? giamana kalau nanti ketemu bang Adit?" tanya Citra ragu. Dia merasa gak enak pada sahabatnya, atas perlakuan abangnya yang telah ninggalin Icha demi wanita lain. Yang menurutnya brengsek.


Icha menepuk pundak sahabatnya pelan, dia berusaha meyakinkan, bahwa dirinya baik-baik saja. "Gak pa-apa kok Cit. Santai aja, lagian gue udah move on kok," jawab Icha penuh keyakinan.


Citra tersenyum kearah Icha, dan juga ikut beranjak dari duduknya. Keduanya pun keluar dari resto tersebut, dan melangkah menuju angkot.


Sesampainya mereka, "Kalian udahan ceritanya?" tanya Jejey, saat kedua wanita cantik masuk kedalam angkotnya.


"Udah, sekarang anterin gue pulang," jawab Citra, setelah dia mendudukkan bokongnya dikursi penumpang. Begitu juga Icha, dia duduk berhadpan dengan Citra.


Setelah mendapat jawaban dari Citra, Jejey pun langsung melajukan angkotnya, menuju rumah Citra.


Angkot merah milik pak Udin, melaju membelah jalanan kota. Yang saat ini terbilang tak terlalu ramai, mengingat sekarang masih belum waktunya jam macet.

__ADS_1


ICHA POV


Setelah beberapa menit didalam angkot, akhirnya kita pun sampai ditempat tujuan. Yap, rumah yang selama beberapa minggu ini, gue hindari, bahkan untuk kembali menginjakkan kaki dihalamannya pun gue gak pernah kepikiran.


Gue menghela nafas lega, karena gue tau kalau Adit gak ada dirumah. Kenapa gue bisa yakin, karena motor yang biasa dia gunakan gak terlihat. Berarti dia lagi keluar dong!! bagus, Dewi Fortuna lagi dipihak gue sekarang.


Citra keluar terlebih dahulu, dan gue pun ikut turun. Sebelum gue mengikuti Citra, gue melirik kearah Jejey yang masih stay ditempat kemudi.


"Gak ikut turun lo, Jey?" gue bertanya pada Jejey. Sedangkan yang ditanya, hanya menggeleng, seakan gak berminat, entahlah gue juga gak ngerti. "Kalau gitu tunggu aja disini, gue cuman bentar doang. Gue janji!!" tambah gue, sambil mengangkat kedua jari, dan membentuk huruf V.


Dia kembali mengangguk, setelah itu gue melangkahkan kaki, untuk masuk kedalam rumah tersebut. Sambil mengucap istighfar, gue memantapkan langkah, supaya gak keliatan gugupnya. Siapa tau, nanti gue ketemu sama mantan camer, hehehe.


Setelah sekian lama, akhirnya gue berada dirumah ini lagi. Gue mendudukkan bokong gue disoffa, samping Citra. Seketika, memory diotak gue berputar. Seperti kaset yang direplay. Kenangan-kenangan itu terus berputar diotak gue. Gak bisa dipungkiri, saat ini dada gue rasanya seperti ditusuk ribuan pisau. Yah, sakit banget rasanya. Gue masih gak nyangka, semuanya bakalan seperti ini.


Saking bapernya gue, sampai-sampai Citra yang dari tadi manggil, gak gue respon. Sampai dia menyentil jidat gue, emang gak punya akhlak sahabat gue ini. "Etdah buset!! kok disentil, Cit? sakit tau!!" protes gue, sambil mengelus jidat paripurna gue, yang kena sentil.


Gue cuman bisa nyengir sambil garuk-garuk kepala. Meskipun gak gatel, sih. "Gak pa-apa kok, Cit. Gue cuman capek aja, lo gak usah khawatir," jawab gue disela-sela cengiran.


Terdengar suara langkah kaki dari lantai atas, pasti mamanya Citra, mantan camer gue, wkwkwkw. Wanita paruh paruh baya, yang masih terlihat awet muda, itu berjalan menuruni anak tangga dengan anggunnya.


"Wahh!! siapa ini yang datang? wah para princess hari ini datang!!" beliau mempercepat langkahnya, dan menuju kearah gue juga Citra. Sekilas gue lirik Citra, teelihat kalau matanya lagi berkaca-kaca. Gue yakin, Citra sangat terharu dengan momen saat ini. Setelah sekian lama, akhirnya dia bisa bertemu lagi dengan sanga mama yang sangat dia cintai.


Dia langsung menghamburkan diri dalam pelukan sang mama, kedua orang didepan gue ini berpelukan sambil menangis haru. Gue juga ikutan terharu melihat mereka, juga terbesit dihati gue rasa iri. Karena, selama ini gue gak pernah ngerasain hamgatnya pelukan ibu.

__ADS_1


"Ma, Citra kangen banget sama mama. Selama diUSA, mama kok gak pernah jenguk Citra? mama udah gak sayang sama Citra?" dia berkata sambil sesegukan. Dan dia juga semakin mempererat pelukannya.


"Shuuut, gak boleh ngomong gitu, dek. Mama sangat sangat sangat kangen adek, mama juga sangaaaaat sayang adek, jadi gak boleh mikir yang aneh-aneh," jawab sang mama.


Citra menganggukkan kepalanya, yang kini masih dipelukan Mamanya.


"Lahh, mama sampai lupa. Kalau mama ngacangin princess yang satunya," jawab beliau saat melirik kearah gue.


Gue cuman bisa nyengir menanggapi clotehan Mama Citra. "Sini peluk mama juga!! kamu sudah lama gak kesini. Mama kangen tau," seketika tubuh gue berubah kaku, mendengar penuturan mama Citra, yang notabennya mama mantan gue juga.


Jujur, gue kangen banget dengan sosok beliau. Yang selama ini, udah gue anggep seperti ibu sendiri. Untuk kesekian detik, gue mencerna kata-kata 'ibu'. Setelah itu, gue juga ikut berpelukan dengan mereka berdua. Air mata yang dari tadi, gue tahan. Kini sudah tumpah semua diatas pipi.


"Bu, Icha juga kangen sama ibu. Kangen banget, hiks hiks." sahutku disela-sela acara pelukan.


"Kalau kangen sama ibu, kok gak dateng dari kemaren-kemaren? ibu tau hubungan kamu sama Adit bagaimana. Bukan berarti kamu harus putus hubungan juga sama ibu, ibu sedih Cha. Ibu udah jauh sama Citra, masak ibu harus jauh dari kamu juga. Kamu tau kan Adit seprti apa? dia gak pernah ada dirumah. Juga, dia masih menganggap ibu yang telah merusak kebahagian keluarga harmonisnya dulu," jawab ibu, dan diiringi tangisnya yang semakin pecah.


"Udah ma, Citra sama Icha udah disini. Kami berdua akan selalu ada buat mama, janji!! iya kan Cha?" sahut Citra.


Gue mengguk ragu, menimpali perkataan Citra. Bagaimana bisa gue tiap hari dateng kesini? yang ada gue bisa mati berdiri, kalau tiap hari harus ketemu Adit.


Saat kami menikmati acara haru ini, tiba-tiba suara yang sangat gue kenal terdengar, mengalihkan perhatian kita kearahnya.


"Waaaw!! ada apa ini?" kata orang tersebut.

__ADS_1


Gue juga Citra langsung melepas pelukan, dan atensi kita langsung menuju arah suara tersebut, terlihat seorang laki-laki dengan perawakan tinggi, putih, dan memiliki bahu lebar. Wajah tampan yang selama ini gue rinduin, sekaligue gue benci. Siapa lagi kalau bukan Adit, mantan pacar gue juga kakak dari sababat gue.


Manik mata kami bertemu, dan saling menatap untuk kesekian detik. Dia tampak kaget dengan kehadiran gue dirumahnya, bagaimana gak mau kaget, mantan woy mantan. Itupun putusnya bukan secara baik-baik.


__ADS_2