SUPIR ANGKOT TAJIR

SUPIR ANGKOT TAJIR
GENDONG


__ADS_3

Keduanya pun sampai dirumah, benar kata Icha, pak Udin sudah nungguin mereka berdua diteras rumahnya. Keduanya pun langsung menghampiri pak Udin dan menyalami tangan beliau.


"Assalamualaikum pak," kata keduanya serempak.


"Waalaikumsalam, kalian udah pulang?" tanya pak Udin. "Bagaimana, lancar?" Tambah pak Udin.


"Alhamdulillah lancar pak, malah banyak banget penumpangnya," sahut Jejey.


"Banyak, mereka semua mau liatin Jejey aja pak. Ada satu Penumpang yang bikin Icha kesel," timpal Icha.


"Kenapa ndok? semua penumpang harus kita layanin juga hormati," kata pak Udin.


"Tadi Icha habis berantem sama penumpang itu pak," sela Jejey.


"Lagi ngomongin apa nih? kayaknya seru." tiba-tiba Irwan datang dan bergabung dengan mereka.


"Ini bang, katanya adek berantem sama penumpang tadi ... " sahut pak Udin.


"Lohh kok bisa? kenapa Cha?" tanya Irwan penasaran.


"Entah bang, tadi setelah Jejey selesai sholat, udah berantem mereka berdua," kata Jejey.


"Udah ah bang, gak usah bahas cewek nyebelin itu lagi. Bikin gue kesel aja," jawab Icha. "gue pamit kekamar dulu," dia pun langsung masuk menuju kamarnya.


"Aneh banget tuh anak, mungkin lagi kedatangan tamu kali dia," sahut Irwan.


"Emm, kayaknya seharian Icha gak kedatangan tamu deh bang, dia kan sama Jejey," jawab Jejey polos.


"Ampun dah Jey, maksud gue bukan tamu orang. Tapi tamu bulanan, khusus kaum hawa," jelas Irwan.


"Oww, kirain bang," jawab Jejey sambil cengengesan.


"Udah masuk, udah malam. Tidak baik terlalu lama diluar " timpal pak Udin.


"Baik pak," kata Irwan dan Jejey kompak.


**********


POV ICHA


Hatiku sakit melihat dia bersama orang lain, ada apa denganku ini? kenapa aneh sekali?


Aku merasa nyaman saat didekatnya, jantungku berdetak tak menentu, disaat dia mengucapkan kata-kata manis terhadapku. Apa semua ini hanya perilaku baiknya saja? Apa dia hanya menganggapku sebatas sahabat? tak lebih dari itu. Tapi, mengapa aku terlalu berlebihan? Tuhan, apa aku jatuh cinta pada dia? apa aku bisa melupakan trauma, yang diberikan oleh mantan kekasihku? Apa aku sanggup untuk terluka lagi? entahlah, hanya waktu yang bisa menjawabnya.

__ADS_1


Melihat sang kakak melamun sendiri, Indri langsung menghampirinya, "Mbak, kok melamun sih? ada masalah emangnya?" tanya Indri pada kakaknya.


Icha kaget dengan kedatangan Indri yang tiba-tiba, "Aiisshh!! kamu ini, ngagetin mbak aja," jawab Icha.


"Maaf mbak, lagian mbak melamun dari tadi. Kenapa? apa ada masalah?" Indri mengajukan pertanyaan yang sama pada Icha.


"Gak ada dek, cuman ... Mbak lagi kepikiran sesuatu. Menurut kamu, apa mbak sebaiknya membuka hati mbak lagi, buat menyukai seseorang?" Icha meminta pendapat Indri. Ya, setiap ada masalah dia selalu menceritakan pada sang adik.


"Menurut Indri, sebaiknya mbak cepet lupain kak Adit. Coba buka hati mbak buat seseorang. Insyaallah, dengan sendirinya kakak bisa move on dari kak Adit," jawab Indri.


"Iya dek, makasih atas sarannya. Kakak akan berusaha buat lupain Adit brengsek itu," keduanya pun berpelukan, saling melepas beban beban yang mereka pikul.


"Kalian udah makan malam belum?" tanya Icaha sambil melepas pelukannya.


"Belum mbak, kata bapak suruh nungguin mbak juga bang Jejey. Bang Irwan dari tadu udah ngebet banget minta makan, tapi sama bapak gak dibolein," sahut Indri.


"Astaghfirullah, kenapa mbak lupa. kamu tadi udah masakkan?" tanya Icha lagi.


"Udah dong kak, tadi dibantuin bang Irwan. Meskipun cuman jadi mandor aja dia," jawab Indri sambil memanyunkan bibirnya.


karna gemas dengan sikap adeknya, Icha pun mencubit pipi sang adik. "Aww!! sakit mbak. Kok dicubit sih?" rengek Indri.


"Habisnya, kamu imut banget. mirip anak kucing," jawab Icha sambil tertawa.


"Udah, ayok ajak mereka makan. Kasian bang Irwan pasti udah kelaperan," Icha beranjak dari duduknya.


"Gendong!!" dengan wajah imutnya, Indri juga merentangkan kedua tangannya. Sebagai tanda dia minta digendong.


"Manja, inget umur dek. kamu udah gede, udah kelas sepuluh masih minta digendong. Mana kuat mbak, Tuh minta gendong sama bang Irwan," jawab Icha sambil meninggalkan Indri yang masih merengek minta gendong.


"Tunggu mbak, Indri mau digendong," teriak Indri yang kini menyusul kakaknya.


Melihat tingakah kedua putrinya, pak Udin pun bertanya, "Kenapa kalian berdua ini? kamu jailin adikmu ndok?" tanya pak Udin pada Icha.


"Enggak kok pak, dianya aja yang manja. Masak minta gendong sama Icha?" jawab Icha jujur.


"Indri ada-ada aja, liat tuh!! tinggi kamu sama mbak mu udah hampir sama. Mana kuat dia gendong kamu dek?" timpal Irwan.


"Kalau gitu, bang Irwan aja yang gendong Indri. Bang Irwan kan cowok, pasti kuat dong," sahut Indri dengan wajah imutnya.


"Dasar manja, iya nanti abang gendong. Tapi setelah makan, abang laper banget nih!!" Irwan menjawab sambil memegangi perutnya.


"Sekarang kita makan, lets go!!" Icha menggandeng tangan Irwan menuju meja makan. Dan disusul pak Udin juga Jejey, mereka pun duduk dan lansung mengambil makanan yang Indri masak bersama Irwan.

__ADS_1


"Enak juga ternyata masakan gue," kata Irwan sambil melahap makanannya.


"Masakan gue apanya? ini Indri yang masak. Abang cuman bantuin aja," jawab Indri dengan nada ketus.


"Sama aja dek, intinya abang kan ikut masak juga," sahut Irwan tak terima.


"Sudah-sudah, kalian dari tadi berantem terus. Nak Jejey pasti pusing dengerin kalian berantem terus," pak Udin menyela perdebatan kecil diantara keduanya.


Jejey dan Icha hanya saling melempar senyum satu sama lain.


Mereka pun melanjutkan makan malam sampai makanannya habis tak bersisa.


Setelah selesai makan, pak Udin masuk kamarnya, sedangkan Icha dan Indri masih membereskan piring bekas mereka makan tadi. Irwan dan Jejey masih duduk didepan Tv, keduanya menonton acara kesukaan kaum Adam, apa lagi kalau bukan pertandingan sepak bola. Keduanya sangat heboh, seperti emmak-emmak yang menang arisan, seperti itu hebohnya.


Setelah beberapa saat, Icha dan Indri selesai dengan pekerjaannya. Mereka pun ikut bergabung dengan Irwan juga Jejey. "Ganti napa chanelnya bang? bola mulu, gak bosen apa?" ketus Indri.


"Tau nih!! tiap hari nonton gituan mulu. Gue bosen bang, Sekali-kali ganti napa?" Icha menimpali perkataan Indri.


"Udah gak usah ganggu para kaum Adam, mending para kaum hawa tidur. Gak baik tidur lalu larut!!" sahut Irwan.


"Iya, Indri mau tidur, tapi gendong. Tadi kan abang udah janji," jawab sang adik.


"Aiisshh, masih aja inget nih anak. Iya iya, ayok naik!!" Irwan langsung jongkong didepan Indri.


"Asyiiiik!! akhirnya Indri digendong juga. Makasih bang" Indri langsung naik kepunggung Irwan.


"Pegangan, nanti jatoh abang yang disalahin" sahut Irwan.


"Siap bos!!" Indri mempererat pegangannya, sampai Irwan tak bisa nafas.


"Jangan gitu juga dek, lo mau bunuh abang" sahut Irwan.


"Hehehe, maaf bang" jawabnya sambil cenge-ngesan.


Irwan pun mengantar Indri kekamarnya, kini tersisa Icha dan Jejey yang masih duduk didepan tv.


"Cha, katanya tadi lo mau ceritain kronologi perkelahian lo sama Mayla?" tanya Jejey.


"Emm, baiklah gue bakal ceritain. Tapi kita duduk diluar, gimana?" kata Icha.


"Ok lah," keduanya pun keluar menuju teras, yang biasa Icha dan keluarga tempati untuk bersantai.


__ADS_1


__ADS_2