
Bukan sebentar, mereka nobarnya sampai pertandingan selesai, yah emang cowok kalau udah nonton football pasti lupa waktu. Begitu juga dengan Jejey, tadi bilangnya cuman sebentar, eh malah nonton sampai selesai. cowok cowok, emang gak bisa jauh dari bola, mungkin.
°
°
°
Disisi lain kamar Icha, setelah masuk kamar, dia langsung mengunci pintu kamarnya, dia tau kalau Jejey akan mengikutinya.
Meskipun Jejey mengetuk pintu kamarnya berkali-kali, dia tetep saja tak membukakan pintu untuk Jejey. Mungkin dia terlalu kesal sama Jejey.
"Bodoh amat, abisnya ngeselin sih. Udah tau gue gak suka sama si cewek gatel itu, eh malah bilang mau mesra-mesraan besok sama dia. Awas aja besok kalau dia masih deket-deket sama cewek gatel itu" gumam Icha pada dirinya sendiri.
Setelah beberapa saat, ponselnya bergetar, menandakan panggilan masuk. Dia langsung melihat siapa gerangan yang menelponnya. Setelah melihat, dia langsung menggeser tombol hijau, dan langsung mendekatkan benda persegi tersebut pada telinganya.
"Halo, ada apa kok malem-malem nelpon gue?" tanya Icha pada seseorang diseberang.
"Iya, gue sama Adit udah putus beberapa minggu yang lalu, ada emangnya?" jawab Icha malas. "Wahh beneran nih, lo mau balik keindo, kapan?" kini ekspresinya berubah senang. "Akhirnya, sahabat gue balik juga, Kangen tau gak. Ya udah besok gue jemput yah?" tambah Icha antusias, "Ya udah, gue tidur dulu, besok kalok udah berangkat kabarin gue ya. Good malem sahabat masa kecilku. Bye," panggilan pun berakhir.
Setelah mendapatkan telpon dari seseorang yang dipanggil 'sahabat masa kecil'nya, Icha menjadi senang. Setelah itu dia pun tertidur dengan nyenyaknya.
SKIP
Keesokan paginya, seperti biasa. Keluarga Icha selalu melakukan sholat subuh berjama'ah di mushollah depan rumahnya. Setelah selesai sholat, Icha dan Indri segera menyiapka sarapan untuk Pak Udin, Irwan, Jejey juga diri mereka sendiri. Setelah selesai memasak, Icha dan Indri segera bersiap. Dan langsung memanggil yang lain untuk sarapan.
Semuanya sudah berkumpul dimeja makan, dengan diawali doa, mereka pun langsung melahap makan yang sudah tersaji dimeja makan. Mereka makan dengan lahap, tak terkecuali Jejey. Dia sangat menikmati makanan tersebut, juga dia sangat suka dimana moment dia dan keluarga pak Udin selalu menyempatkan sarapan bersama. Yang sebelumnya dia jarang lakukan dengan keluarga nya sendiri.
Setelah selesai sarapan, seperti biasa Indri pergi kesekolah, dengan diantar Irwan. Sedangkan Icha dan Jejey, kini sudah bersiap untuk narik angkot lagi. "Pak, Icha berangkat dulu yah," Icha pun salim sama pak Udin.
"Hati-hati ndo'!! nak Jey, bapak titip anak gadis bapak," kata pak Udin pada Jejey.
__ADS_1
Jejey hanya mengangguk tanda memgerti, dan tak lupa senyum khasnya yang bersinar,(matahari kali bersinar 😂😂😂).
Kemudian Icha pun langsung pergi menuju angkot, yang sudah terparkir didepan rumahnya. Jejey juga mengikuti Icha dari belakang. Tanpa mengakatan sesuatu, Icha langsung masuk kedalam angkot tersebut.
Jejey langsung masuk ketempat kemudi, angkot pun melaju meninggalkan area pekarangan rumah pak Udin.
Karena merasa bosan dengan keheningan, Jejey akhirnya membuka suara, "Cha, udah dong ngambeknya. Gue salah apa sama lo? gue gak bisa didiemin kayak gini Cha. Hati gue sakit Cha, sakit!!" kini Jejey menepikan angkotnya. Dia keluar dan langsung menghampiri Icha, yang sedang duduk dibelakang sebagai kernet.
"Tolong Cha, jangan giniin gue. Gue gak terbiasa dengan keheningan seperti ini saat sama lo. Jadi gue mohon Cha, jangan cuekin gue lagi," kata Jejey memelas, sambil memegang tangan Icha.
"Gue lebih sakit Jey, saat liat lo sama cewek lain mesra-mesraan kayak kemaren. Lo gak mikir apa perasaan gue? gue suka sama lo Jejey. Puas lo sekarang hah!!" jawab Icha emosi, Air mata yang dari tadi dia tahan, sekarang mengalir tanpa dia suruh.
Mendengar pengakuan Icha, Jejey langsung menarik tubuh Icha kedalam pelukannya.
Icha berusaha melepas pelukannya dari Jejey, tapi pria berhidung mancung tersebut semakin memperat pelukannya. Dia pun terisak dalam dada bidang pria tersebut, dia menumpahkan semua emosi dalam tangisnya. Dengan begitu, mungkin dia sedikit lebih lega.
Keduanya masih berpelukan, sesekali Jejey mengecup pucuk kepala Icha, dan dia juga mengelus lembut rambut Icha. "Udah jangan nangis lagi!! gue juga suka sama lo Cha, Suka banget malah. Karena lo gak mandang gue dari segi materi, jaman sekarang udah jarang cewek kayak lo Cha" Jejey pun melepas pelukannya, dan menangkupkan wajah Icah dengan kedua tangannya.
"Mulai sekarang, lo gak usah cemburu, kalau gue dideketin Mayla atau siapa pun itu. Dihati gue cuman ada lo aja, bukan yang lain Cha," ujar Jejey.
"Beneran lah Cha, jadi gak usah ngambek lagi. Lo jelek kalau lagi ngambek " goda Jejey sambil mencubit pelan hidung Icha.
"Kata siapa gue jelek? kalau gue jelek, lo gak bakal suka sama gue. Kenyataannya lo suka, kan? berarti gue cantik dong!!" jawab Icha.
"Iya iya, gue akuin. Kalau neng Icha putri bapak Zainudin, emang cewek paling cantik yang pernah gue temui," Jejey kembali menarik tubuh Icha, kedalam pelukannya.
Icha juga membalas pelukan hangat dari Jejey. Keduanya berpelukan sampai seseorang datang mengagetkan keduanya.
"Ehem ehem, mesra banget kalian. Ini mau narik angkot atau mau pacaran?" tanya seseorang dari luar.
Mendengar ucapan seseorang, keduanya langsung melepaskan pelukan satu sama lain. Jejey dan Icha langsung melihat kearah suara tersebut, Jejey kaget melihat siapa pemilik suara tersebut, "Agus!!" kata Jejey. Iya, orang itu adalah Agus sahabat sekaligus kakak angkatnya. "Ngapain lo disini?" tanya Jejey.
__ADS_1
Sedangkan Icha hanya bingung, bagaimana dia bisa kenal dengan laki-laki yang dia panggil Agus tersebut. "Jey, lo kenal cowok itu?" tanya Icha heran
"Iya, gue kenal. Ayok keluar cha!! gak enak ngobrol disini," Jejey menarik tangan Icha lembut. Dan keduanya keluar dari dalam angkot, dan menghampiri cowok berkulit putih tersebut.
"Bang, gue kangen sama lo," Jejey langsung memeluk Agus dan berbisik padanya, "Lo ikutin aja dramanya Gus, lo pura-pura udah lama gak ketemu gue, ok!!" bisik Jejey ditelinga agus.
"Tapi gak gitu juga Jey, jijik gue dipeluk sama lo," balas Agus juga berbisik.
Jejey pun melepaskan pelukannya tersebut, "Kok lo ada disini bang?" tanya Jejey.
"Tadi gue gak sengaja lewat, gue pikir gue cuman salah ngenalin orang, eh ternyata beneran lo," jawab Agus.
"Oh iya, ini abang gue Cha, Agus namanya. Dan ini Icha bang," jelas Jejey.
"Hay bang, kenalin Aku Icha," kata Icha sopan.
"Gue Agus, gak usah sungkan gitu sama gue" jawab Agus.
"Baik bang," sahut Icha singkat.
"Kalau gitu, gue berangkat kerja dulu Jey. Nanti kalau lo gak sibuk, jangan lupa hubungi gue," Agus pun pergi meninggalkan Jejey dan Icha.
"Kebiasaan tuh orang, kalau datang maupun pergi gak pernah ngucapin salam, dikasih makan apaan sih sama emmak, kok bisa jadi orang macam dia" pekik Jejey.
"Gak boleh gitu Jey, mau kayak gimana pun dia abang lo juga," jawab Icha.
"Iya juga sih, meskipun dia mirip raja es, tapi gue sayang dia," kata Jejey.
"Bisa aja lo Jey, abang sendiri dikatain raja es. Udah ah, mending kita narik. Udah kesiangan ini, Nanti gak dapet penumpang lohh," sahut Icha.
"Ok, lets go kita jemput rejiki kita. Semangat baby, dan jangan cemburuan lagi," kata Jejey sambil mengedipkan sebelah matanya.
__ADS_1
"Iya iya," jawab Icha malas.
Keduanya masuk kedalam angkot, dan angkot pun melaju mencari penumpang.