
Jejey dan Icha duduk berdua diteras rumahnya, keduanya hanya saling melempar pandangan. Tak ada yang memulai perbicangan diantara keduanya. sampai, "Ehem, katanya tadi mau cerita sama gue!!" Jejey pun memulai obrolannya.
"Cerita yang mana?" Icha pura-pura lupa, dengan apa yang dia katakan tadi.
"Aiisshh, masih muda udah pikun. Cerita tadi lo sama si Mayla sampek berantem?" jelas Jejey.
"Oh itu, dianya nyebilin. Sampek habis kesabaran gue, yah gue serang aja dia," tutur Icha.
"Kok bisa? Dia ngomong apa sampek lo emosi?" tanya Jejey penasaran.
"Dia ngata-ngatain gue, katanya gue gak sebanding sama dia, dia juga bilang gue gak pantes sama lo. Siapa dia, ngatur-ngatur gue?" Icha kini mulai kesal.
"Jadi intinya, lo cemburu sama Mayla?" tanya Jejey, yang sontak membuat Icha gugup.
"Ehh apa maksudnya? gue cemburu? mana ada?" jawab Icha.
"Beneran gak cemburu?" goda Jejey sambil mengedip-ngedipkan sebelah matanya.
"Eng-, enggaklah Jey. Mana ada cemburu?" jawabnya lagi.
"Beneran nih? berarti besok gue gak pa-apa dong, kalau mesra-mesraan sama si Mayla itu?" tanya Jejey lagi.
"Ehh, apa sih? tau ah gue masuk kamar aja!!" Icha pun masuk kamarnya dengan perasaan marah, karna Jejey menggodanya dari tadi.
"Ehh, tunggu Cha!! gitu aja ngambek. Gue ditinggal sendiri, mending gue masuk juga deh," Jejey pun masuk untuk menyusul Icha.
Saat Icha melewati Ruang keluarga, dia disapa abangnya, Irwan. "Cha, kok masuk sendirian mana Jejey?" sapa Irwan, Tapi dia tak memperdulikan panggilan Irwan. Selang beberapa saat, Jejey pun juga ikut masuk. Sama seperti tadi, Irwan juga menyapa Jejey. "Jey!! nobar lagi, seru nih!!" kata Irwan pada Jejey, tapi dia juga tak mendengarkan Irwan.
"Kenapa pada aneh semua sih? apa diluar ada setan yak?" Tanya Irwan pada dirinya sendiri.
Meninggalkan Irwan yang sedang bingung, Jejey kini sudah berada didepan kamar Icha. Dia beberapa kali mengetuk pintu kamar tersebut, tapi Icha tak kunjung membukanya juga. "Cha, buka pintunya dong!! maaf kalau gue punya salah sama lo. tapi, buka dulu dong pintunya!!" kata Jejey memelas. Tetep, Icha tak membukakan pintu kamarnya.
__ADS_1
Sampai Indri keluar dari kamarnya, dan menghampiri Jejey. "Apa sih bang? berisik banget, ini sudah malem lohh!!" tegur Indri.
"Ini dek, mbakmu tadi ngambek. Entah apa salah abang" kata Jejey sambil mengedikkan bahunya.
"Huftt, dasar kalian!! kelakuannya kayak ABG aja. Sadar diri napa, udah tua juga" sahut Indri, diiringi dengan kekehan.
"Apa tua? bener-bener adik satu ini. Awas aja" kata Jejey gemes.
Karena tau akan diklitiki, Indri berlari menuju ruang keluarga. Dia bersembunyi dibelakan tubuh Irwan. "Jangan kabur!!" kata Jejey lagi.
"Kalian ini kenapa sih? kok main kejar-kejaran didalam rumah, nanti bapak bangun kena marah tau rasa kalian!!" tegur Irwan pada keduanya.
"Bang Jejey yang ngejar Indri duluan bang," adu Indri dengan manjanya.
"Pasti kamu ngisengin Jejey kan? ayo ngaku!!" tanya Irwan.
"Iya bang, Indri duluan yang ngata-ngatain Jejey," sahut Jejey.
"Udah gak usah ribut lagi, mending kalian tidur, udah malem!! kalau gak mau tidur, temenin abang Nonton bola" pungkas Irwan.
Mendengar perkataan Irwan, Indri langsung merinding. Bagaimana tidak? Dia paling tidak suka acara football atau semacamnya. Dengan cepat dia pura-pura Menguap, "Hoaayyy, Indri ngantuk bang. Mending sama bang Jey aja, Indri pamit kekamar dulu ya bang. Bye abang sayang" setelah mencium pipi Irwan, Indri langsung pergi kekamarnya.
"Alesan aja pasti tuh," sindir Jejey, tapi masih didenger Indri.
"Bodo amat, bleeek" ledek Indri sambil menjulurkan lidahnya, dan langsung menutup pintu kamarnya.
Irwan hanya terkekeh melihat tingkah Indri juga Jejey, dia tau betul adik bungsunya tersebut. Suka iseng juga jail, yah karna Indri anak bungsu, semua perhatian tercurahkan semua padanya. Karena mereka tak mau Indri merasa kurang kasih sayang, karna ditinggal oleh ibunya dari kecil.
"Gimana Jey? masih mau nobar?" tanya Irwan.
"Boleh lah bang, tapi sebentar aja. Setelah itu Jejey mau istirahat," jawab Jejey.
__ADS_1
"Wokeh lah, ayok duduk disini. Seru banget Jey," kata Irwan.
Mereka berdua pun nonton bola bersama, seperti orang nonton bola pada umunya, mereka heboh, saat tim jagoan mereka bisa mencetak goal.
Desela-sela nontonnya, mereka sesekali mengobrol. "Bang, abang udah punya cewek belum?" tanya Jejey.
"Emm belum Jey, kenapa emangnya?" jawab Irwan.
"Masak sih, abang gak punya cewek? abang kan ganteng," tannya Jejey tak percaya.
"Iya bener, lagian ngapain pacaran Jey, kalau ujung-ujungnya cuman putus. Menurut abang yah, kalau udah cocok satu sama lain mending ta'arufan aja. Terus langsung married deh, simpel kan gak usah repot-repot pacaran," jawab Irwan.
"Iya juga sih bang, pacaran kan dilarang agama. Astaghfirullahhaladzim," sahut Jejey.
"Lahh kenapa kok nyebut Jey? emangnya lo udah punya pacar?" tanya Irwan heran.
"Kalau sekarang enggak bang, tapi dulu," jawab Jejey.
"Sekarang udah enggak, kenapa?" Irwan bertanya lagi.
"Udah enggak bang, dia selingkuh sama cowok lain, miris banget bang." sahut Jejey.
"Udah sabar!! pasti Allah udah nyiapin jodoh yang terbaik buat lo. Kalau cewek lo selingkuh, berarti dia bukan jodoh lo Jey," kata Irawan bijak.
"Mungkin bang" jawabnya singkat.
Mereka pun melanjutkan nobarnya sampai selesai pertandingannya.
Visualnya Irwan
__ADS_1