
Hari yang cerah dengan beberapa gumpalan awan di langit yang biru ditemani angin yang berhembus perlahan menerpa dedauanan pohon di akademi 01 yang bertempat di pusat kota Athena, ibukota negri sword. tidak terasa sudah tiga bulan Ryuma belajar di Sword Akademi.
"apa kau tidak bisa memperhitungkan kemungkinannya Joseph, kau ingin kami ikut sertakan kelas A dalam kompetisi bergengsi antar Akademi seperti itu. hahaha, kau memang suka bercanda." suara riuh di ruang pengajar.
"tapi aku bisa jamin ini tidak akan mengecewakan kalian, dan aku mohon pak kepaala akademi mempersetujui itu. aku mohon...! " tidak disangka Joseph bersujud kepada kepala Akademi untuk mewujudkan keinginannya mengikutsertakan kelas A dalam kompetisi antar Akademi.
"oe oe oe, pak Joseph, apa yang kau lakukan? angkat kepalamu, aku tidak rela jika guru kesayanganku seperti kamu berlutut apalagi bersujud di depan orang-orang ini." tiba-tiba Ryuma datang entah darimana dan merangkul Joseph untuk berdiri.
" datang darimana anak ini." suara beberapa guru di ruangan itu,
"apa maksudmu dari kata-kata orang-orang ini. kau tidak begitu sopan untuk menjadi murid, apa itu yang kau ajarkan padanya Joseph." kata Hermes, dia adalah seorang guru kelas SS.
"oh maaf jika kata-kataku sedikit menggangu kalian." balas Ryuma kepada Hermes.
__ADS_1
Tiba-tiba suasana menjadi menegang, Hermes tidak bisa mengendalikan emosinya dan mengeluarkan pedangnya dan di hunuskan ke Ryuma, tapi dengan kesanggupan dari Ryuma dia menahannya dengan telapak tangan kosong.
" apa? dia menahan serangan Hermes dengan tangan kosong. siapa sebenarnya anak ini? apakah dia benar anak kelas A, itu tidak mungkin." salah seorang pengajar menyertai para pengajar lain yang menyatakan keheranannya.
" aku tidak tahu apa yang terjadi. Tapi saat temanku sedang di rendahkan seperti ini, akan kulawan siapapun itu orangnya yang berani merendahkan temanku. dan untukmu, dan untukmu, ini bukan waktunya bermain. Jadi sarungkan pedangmu kembali." tatapan Ryuma kepada hermes dengan tatapan tajam.
"apa bermain?" itu membuat Hermes tambah mendidih dan emosinya meluap-luap.
"jadi kau ingin aku mengikut sertakan Ryuma dalam ajang antar Akademi, aku bisa saja menyetujui itu." akhirnya kepala Akademi angkat bicara.
" ya, tapi kau lihat sendiri Joseph. ada banyak yang meragukannya dan anak kelas A, jadi aku punya usulan untuk mengadakan seleksi untuk ikut kompetisi antar akademi, ini juga untuk semua kelas, siapa yang bisa membuktikan dirinya sanggup, boleh ikut serta dan nanti yang masuk nominasi bisa ikut serta dalam kompetisi antar akademi." akhirnya kepala Akademi memutuskan untuk membuat seleksi antar murid untuk bisa mengikuti kompetisi antar akademi.
"aku sebebenarnya tidak tahu apa yang terjadi. aku hanya ingin mengajak pak Joseph untuk membelikan sarapan." Ryuma pergi dari ruangan dan pergi menuju kantin.
__ADS_1
" lho kemana Ryuma." Joseph bingung Ryuma sudah tidak ada di ruangan.
"anak itu, berani-beraninya mempermalukanku di depan orang-orang seperti itu, siapa sebenarnya dia." Hermes masih kesal dengan Ryuma yang mempermalukannya tadi.
" jadi Joseph, seleksi akan diadakan satu bulan setelah hari ini. persiapkanlah anak didikmu yang ingin kau ikut sertakan.dan untuk kalian para guru kelas s juga berlaku sama seperti Joseph." tegas kepala Akademi kepada semuanya yang ada di ruangan.
Sudah diputuskan akan diadakan seleksi antar para murid untuk memperebutkan posisi sebagai orang yang bisa mewakili akademi untuk kompetisi antar Akademi. Dan beritapun cepat menyebar tentang Ryuma yang datang ke ruang pengajar dan membuat heboh seisi ruangan tentang yang diperbuatnya.
"hahaha, anak itu sungguh menarik sekali, akan kutunggu kau di seleksi nanti.dasar bocah sok keren." Hanzo tertawa dan bersemangat mendengar kabar Ryuma yang membuat heboh ruangan pengajar.
" Ryuma, kuharap kau tidak terbakar nanti di seleksi." Abaraipun ikut merasakan semangat akibat tindakan Ryuma.
" anak itu sungguh tidak waras seperti biasanya." Asuna yang duduk di kelas dan mendengar kabar dari teman-temannya yang sedang membicarakan Ryuma.
__ADS_1
" hah Ryuma, apa yang kau lakukan tadi di ruangan pengajar. aku takut kamu kenapa-kenapa, huhuhu." miki yang menangis memeluk Ryuma di kelas.
" hah sudahlah, aku sendiri tidak tahu apa yang terjadi, aku hanya tidak sengaja melakukan itu, ehhhh jangan memelukku terlalu erat, akkk uuu tidak bi sa be rr na fas." dalam kenikmatan dan kematian yang sama-sama menghimpit Ryuma.