
Suasana yang hening membuat makan malam kali ini terasa sedikit berbeda, sampai akhirnya Ryuma turun dari kamarnya dan menuju ke meja makan.
"Apa kali ini aku tidak dapat jatah makan malam? " Tanya Ryuma sambil sedikit menunjukkan barisan giginya.
Lirikan tajam mata ibu bagai harimau yang siap menerkam.
"Oh kamu lapar ya? " Suara ibu sedikit geram.
"Hehehe" Ryuma perlahan menuju tempat duduknya.
"Ambil ayammu, hehe" Ibu melempar sayap ayam dan di tangkap oleh mulut Ryuma.
Ternyata ibu sudah tidak marah dan dia senang Ryuma bisa masuk sword akademi pagi ini.
"Oh iya Ryuma ada yang ingin ku bicarakan denganmu, tapi makanlah dulu, nanti aku menunggumu di teras rumah. " suara ayah sedikit memakai nada baku.
"Emm emm emm" Suara Ryuma tidak terdengar karena ada sayap ayam di mulutnya.
"Apa kakak tadi bertarung dengan orang-orang jahat? Dan apakah kakak menang? " Tanya adik Ryuma yang berusia 12 tahun.
Dikarenakan Adik Ryuma yang tahun besok ingin memasuki sword akademi dan dia penasaran dengan apa yang kakaknya alami di hari pertama dia masuk.
"hehehe, tentu saja, kakak melawan para penjahat yang jahat sekali, dan kakak membantai mereka, hahaha" Cerita yang mengada-ada dan di lebihkan pun mulai di susun Ryuma.
"Wuo... Kakak hebat sekali saat berbohong. " nada polos Yuii menyela cerita Ryuma.
meski dengan kepolosannya Yui memang tahu saat kakaknya sedang mengarang cerita.
__ADS_1
"Hahaha, mana ada Ryuma bakalan melawan orang-orang jahat, Dia kan orang yang malas, paling dia memilih untuk lari terbirit-birit. " Suara ibu meledek Ryuma.
"Dan semoga kalian selalu menganggapku seperti itu lebih baik. " Ryuma berbisik dalam hati.
Suasana makan malam jadi tidak canggung lagi dan di hiasi canda tawa seperti biasanya.
sementara itu ayah sudah menunggu Ryuma di depan teras rumah. Ryuma menghampiri Ayahnya.
"Oh iya ayah, ada apa memanggilku kesini." Tanya Ryuma basa-basi.
Ayah hanya memandang tajam tapi penuh maksud.
"Jadi, kau benar-benar ingin menjadi pendekar pedang? " Ayah mengerti kalau itu cita-cita Ryuma tapi ada yang membuat ayah ragu.
Tiba-tiba ayah memeluk Ryuma dalam keheningan malam.
"aku hanya takut bila ada apa-apa saat menjalankan tugas suatu saat nanti. terlebih lagi jalanmu untuk menjadi pendekar pedang tidaklah mudah. Tapi aku akan selalu mendukung keputusanmu itu. " ayah melepaskan pelukannya dan menepuk pundak Ryuma.
Ryuma tahu sebenarnya apa yang di khawatirkan oleh ayahnya.
"seminggu yang lalu Kudengar ada penyerangan dari para devil sword ke area Negeri sword dan aku juga mendengar ada seorang pendekar pedang misteruis yang datang membasmi mereka sebelum pendekar pedang yang bertugas itu datang, kudengar kekuatan pemimpin penyerangan itu kuat." Ayah menatap tajam ke Ryuma.
Ayah menyadari sesuatu yang mungkin telah melibatkan Ryuma.
"apa ayah berfikir akulah pendekar pedang misterius itu? Hahaha, mana mungkin kekuatanku setara para pendekar pedang, aku kan baru saja masuk akademi." Ryuma sedikit ragu menjelaskannya kepada ayah.
tatapan tajam ayah mulai memudar dan memandang atap rumah.
__ADS_1
"Ya, mungkin bukan kamu orangnya. Kamu kan masih lemah. Tapi ayah percaya kamu lebih kuat dari penampilanmu. Ya sudahlah kalau kamu bukan orang itu. " Ayah berbalik masuk ke rumah.
Ryuma lega karena Ayahnya sudah tidak mencurigainya sebagai pendekar pedang misteruis itu.
Sebenarnya yang terjadi di malam itu adalah.
"Tekanan mana kegelapan yang kuat, sepertinya tidak jauh dari tempat ini." Ayah yang sedang duduk di depan teras merasakan kehadiran devil sword dengan tekanan mana kegelapan yang kuat.
Saat ayah perlahan melangkahkan kaki keluar. Dia melihat Ryuma yang berdiri di atas genting tetangga.
"Hah, Ryuma? Apa yang dia lakukan malam-malam begini, apakah dia sedang mengintip tetangga kita, dasar anak mesum. Tapi apa itu, dia mulai memakai topeng dewa kematian? " Ayah penasaran, tapi Ryuma segera pergi dengan meloncat dari satu rumah kerumah lainnya.
Ryuma bertujuan untuk melawan Devil sword yang muncul tidak jauh dari Tempat tinggalnya. Dia mencari berdasarkan tekanan mana yang devil sword itu pancarkan.
"Akhirnya ketemu. " Ryuma menemukan beberapa devil sword yang muncul.
Secara alamiah penampilan Devil sword sama dengan manusia tapi mereka sedikit berbeda karena memiliki tanduk di kepala mereka, dan tanduk itu sendiri mewakili kekuatan para devil sword, sementara di depan Ryuma dia akan menghadapi pemimpin Devil sword yang menyerang. memiliki 2 tanduk yang merupakan tingkat tinggi.
"Hei, kambing hitam. " Teriak Ryuma kepada Pemimpin itu.
"Oh rupanya hanya bocah, kukira aku kesini akan di hentikan oleh beberapa pendekar pedang yang katanya pelindung negeri sword. Ternyata hanya bocah yang datang. Aku sedikit kecewa." Pemimpin penyerangan itu meremehkan Ryuma.
Ryuma tidak gentar dan memandang pemimpin itu dengan tatapan tajam.
"Jangan bercanda, pendekar pedang tidak perlu turun tangan hanya untuk mengurusi kambing yang lepas dari kandangnya, biar kupotong tandukmu dan kubuat gantungan kunci." Tantangan Ryuma kepada pemimpin itu.
"Sword devil, cincang habis petro. " Pemimpin itu terpancing kata-kata Ryuma dan kini dia benar-benar mengincar Ryuma.
__ADS_1